Haram Jadah: Hari Pembalasan

Marion D'rossi
Chapter #13

Bagian 5 (2)

Nurdewi melewati puluhan bilik kamar, sedangkan di belakangnya si Kribo dan si Jali mengikuti dengan wajah semringah. Sebelumnya, Nurdewi sudah mengelilingi isi dalam tempat pelacuran itu. Setidaknya, dia tahu sedikit gambaran mengenai peta bangunannya. Di masing-masing kamar terdapat dua pintu, yaitu pintu masuk dari dalam bangunan, dan satu lagi pintu keluar darurat. Pintu keluar darurat itu biasanya hanya memiliki pengunci dari dalam kamar, jadi tak ada yang bisa masuk dari luar jika tak dibuka dari dalam kamar. Nurdewi berdiri di ambang pintu, memberikan senyuman merekah pada kedua pelanggan pertamanya.

“Aku pastikan kamu puas malam ini, Nurdewi. Cara mainku sangat liar di atas ranjang,” aku si Jali sambil melirik sinis pada si Kribo. Tak mau kalah, si Kribo juga berkata, “Aku yang paling liar di atas ranjang. Selama ini, tidak ada perempuan yang tidak merasa nikmat jika bercinta denganku.”

Nurdewi lantas makin tersenyum merekah. Setelah itu, dia masuk ke kamar dengan penerangan remang-remang itu. Tak seperti kamar-kamar lain yang sudah berantakan. Kamar yang ditempati Nurdewi sangat rapi dan bersih. Memang, sebelumnya Mama Melisa sudah menugaskan beberapa pekerja untuk membersihkan kamar itu, menata sedemikian rupa agar Nurdewi merasa nyaman di malam pertama tersebut. Bahkan, kerangka kayu ranjang di kamar itu terlihat sangat baru, dibeli sehari sebelum Nurdewi resmi jadi pelacur. Mama Melisa sudah mengatur semuanya dengan sempurna.

“Jangan lupa menggunakan pengaman, Tuan-tuan,” kata Nurdewi sopan. Tangannya meraih dua bungkus alat kontrasepsi itu di atas nakas di sebelah tempat tidur.

Si Kribo dan si Jali mengernyit. Mereka saling menatap saat Nurdewi memberikan alat pengaman itu pada mereka. “Aku rasa tidak perlu menggunakan itu. Aku membayarmu dengan mahal,” cicit si Kribo.

Nurdewi tak banyak protes. Meskipun dia tahu tidak menggunakan alat pengaman tidak disarankan oleh Mama Melisa. Apalagi jika wanita itu mengetahuinya, dia pasti tidak mengizinkan kedua lelaki itu bercinta dengan Nurdewi. Kendati demikian, Nurdewi menaruh dua bungkus alat pengaman itu kembali ke atas nakas.

“Baiklah. Kalau begitu, kita tidak menggunakan alat pengaman.” Nurdewi duduk di atas tempat tidur. Senyumannya masih tetap merekah, seolah-olah sebuah usaha demi membuat si Kribo dan si Jali lebih berahi dari sebelumnya.

Kedua lelaki itu berlomba-lomba untuk lebih dulu membuka pakaian. Si Kribo yang merasa ketinggalan, tak mau kalah, dia justru mengurungkan niat membuka pakaian. Dan dia langsung menyambar Nurdewi, menciumi gadis itu di ceruk leher dengan tergesa-gesa. Napasnya panas. Nurdewi merasakan napas si Kribo di permukaan kulitnya. Tangan si Kribo mulai bergerak, mengacak-acak pakaian Nurdewi, menyelinap masuk, lalu mendorong Nurdewi hingga berbaring dengan lenguh yang intens.

Si Jali tak ingin ketinggalan. Dia menarik si Kribo yang sedang berada di tengah-tengah kenikmatan dalam balutan wangi tubuh Nurdewi. Si Jali lebih liar.

Seketika itu, Nurdewi mendorong si Jali hingga terpisah darinya. Si Kribo mengambil alih posisi rekannya itu. Dengan napas satu-satu, si Kribo mengangkat pakaian Nurdewi.

“Malam yang indah, bukan, Tuan-tuan?” kata Nurdewi dengan senyuman masygul sambil mengatur napas yang terengah-engah. Nurdewi berjalan menuju pintu, lalu membuka penguncinya. Pintu ditarik, angin yang bernapas dari mulut pintu terasa sejuk hingga menyibak rambut panjang Nurdewi. “Panas sekali. Bagaimana kalau kita lanjutkan di luar, Tuan-tuan?”

Si Kribo dan si Jali tidak protes atau merasa ganjil sedikit pun. Tampaknya, Nurdewi memang berhasil membuat berahi mereka menguasai secara penuh. Nurdewi berjalan keluar, tapi dia terus berjalan melewati gang sempit gelap itu di belakang bangunan Keluar Puas. Hingga tak lama kemudian, dia tiba di sebuah gang, beberapa puluh meter dari Keluar Puas. Nurdewi berhenti di sana, bersandar di tembok. Si Jali dan si Kribo dengan tak sabar meraih Nurdewi. Gadis itu kembali mendorong si Jali dan si Kribo menjauh.

“Cara bermain yang unik. Kurasa aku mulai menyukainya,” kata si Kribo.

“Aku juga suka. Dia memang gadis biadab,” timpal si Jali.

Nurdewi berangsur-angsur menjauh dari si Kribo dan si Jali. Manakala dia tiba di sebuah drum yang berisi beberapa sampah kecil, dia tersenyum sambil menyentakkan kepala pada kedua lelaki itu. Si Kribo dan si Jali cepat-cepat berjalan menuju Nurdewi. Sementara itu, mereka tidak memperhatikan tangan Nurdewi menelusup ke dalam drum tersebut, mengambil sabit berantai yang sebenarnya sudah dia simpan beberapa waktu lalu. Tanpa kecurigaan sedikit pun pada tingkah Nurdewi, si Kribo dan si Jali bermain-main di tubuh Nurdewi. Hingga tak lama kemudian, Nurdewi dengan senyuman lebar, mengangkat tangan. Sabit mengilap itu berada di belakang leher si Kribo dan si Jali tanpa mereka sadari. Tak tanggung-tanggung, Nurdewi menempelkan mata sabit di leher si Kribo. Pada titik itulah si Kribo baru sadar. Nurdewi tak kehilangan momen. Dia menjauh dari kedua lelaki itu, lalu menarik rantai sabit hingga sekaligus memenggal kepala si Kribo dan si Jali. Darah muncrat seperti air mancur. Masing-masing kepala itu tergeletak menggelinding dengan mata terbuka. Tubuh si Kribo dan si Jali roboh. Nurdewi berjalan, lalu mencabut lencana di saku jas si Kribo. Sementara itu, jas si Jali masih ada di dalam kamar bercinta. Nurdewi kembali ke kamar mengambilnya, lalu memasang jas itu di tubuh si Jali setelah mengantongi lencana.

“Malam yang indah ‘kan, Tuan-tuan?” kata Nurdewi dengan napas tersengal-sengal. “Indah sekaligus biadab sampai-sampai aku tidak akan pernah melupakannya.” Sekelebat sinar berpendar di bola mata Nurdewi. Pembunuhan pertamanya itu memakan dua korban sekaligus.

Lihat selengkapnya