Haram Jadah: Hari Pembalasan

Marion D'rossi
Chapter #27

Bagian 11

Subroto, bagaimanapun, tidak pernah mengalami debaran yang menyesakkan, bahkan hingga membuat dadanya berdentam seolah genderang raksasa ditabuh sekuat tenaga. Itulah yang terjadi pada Subroto ketika mengunjungi sebuah tempat yang bernama Keluar Puas. Ya, itu betul sekali. Tempat tersebut adalah surga bagi laki-laki. Dengan beberapa carik uang kertas yang bisa didapat hanya dari narik angkot atau becak, para rakyat jelata bisa menyewa pelacur secantik apa pun yang mereka mau. Mereka bisa bercinta dengan gaya apa pun yang mereka kehendaki. Itulah keluar puas, yang dianggap sebagai pemiliknya—Melisa—yang masuk bakal mendapat kepuasan, dan yang keluar sudah pasti puas. Dan Subroto hari itu pergi seorang diri tanpa anak-anak buahnya, sebab dia sudah bosan duduk di kursi empuknya sambil berselonjor, menikmati kopi, minuman alkohol, juga tembakau mahal yang bisa dia dapatkan dengan mudah. Hanya dengan duduk, Subroto bisa mendapatkan berjuta-juta uang. Itu tentu saja bakal mubazir jika tak digunakan bersenang-senang sama sekali.

Memang, sejak Subroto menjadi Penguasa Kota, dia tak pernah pergi ke tempat-tempat menyenangkan, atau bahkan bercinta barang satu kali pun. Subroto menikmati uang dan kekayaannya dengan cara yang berbeda, seperti kebanyakan para rakyat jelata mendapatkan uang yang berlimpah ruah secara mendadak. Subroto membeli tanah, membeli rumah, kendaraan, barang-barang untuk memenuhi rumahnya, dan itu sudah cukup memuaskan hatinya. Namun kali ini, ternyata kesenangan semacam itu sudah cukup usang baginya. Subroto ingin mencari kesenangan lain. Dan pada akhirnya, dia terdampar di tempat terkutuk ini; Keluar Puas.

Di sanalah dia duduk di sebuah sofa nyaman, seorang wanita menawan dengan kelopak yang sipit, bola mata hitam legam, serta bibir tipis yang dibalur gincu merah tua. Jangan tanya bentuk tubuhnya, sudah pasti bisa membuat berahi laki-laki jika melihat barang sedikit pun. Bahkan konon, wanita itu adalah pelacur paling mahal di Keluar Puas karena dia pemiliknya. Tak sembarangan orang bisa bercinta dengannya. Entah Subroto bakal bisa menggoda wanita itu dengan kekayaan berlimpahnya. Soal rupa, Subroto memang tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Dia adalah pribumi seperti kebanyakan rakyat jelata lainnya. Toh, dia punya uang dan bisa mengandalkannya untuk menggaet wanita itu.

Namun ternyata, harapan Subroto tanggal ketika si wanita bernama Melisa, yang adalah keturunan Jepang itu, mulai mencampakkannya. Entah alasan apa yang membuat wanita itu tidak sedikit pun tertarik pada Subroto. Namun sepertinya, Melisa hanya senang melihat wajah putus asa para laki-laki. Dia memang sinting, bahkan kabarnya sudah menyebar luas. Kesenangannya itu tak lumrah bagi kebanyakan orang. Bagi Subroto sekalipun, itu termasuk sebuah penghinaan karena dia yang kaya raya itu ternyata datang hanya untuk ditertawakan si wanita dan hanya disuruh kepengen tanpa bercinta.

“Wanita keparat terkutuk!” umpat Subroto dengan amarah meledak-ledak.

“Ada apa? Apa hanya segitu kemampuan seorang lelaki kaya raya? Kalau begitu, jangan mengaku lelaki. Lebih baik potong saja kemaluanmu, karena itu tidak berguna!” kelakar Melisa, yang kemudian menyesap rokok putihnya dengan khidmat, lalu diembuskannya di depan wajah Subroto. Ya, seperti itulah dia, tak pandang bulu. Memperlakukan Subroto seperti kebanyakan rakyat jelata lainnya.

Subroto yang tak terima ditertawakan hanya oleh seorang wanita, jiwa banditnya meronta-ronta tak terima. Dia mengeluarkan pistol hitam kecilnya yang diselip di balik jas, lalu ditodongkannya di kening Melisa lekat-lekat. Anehnya, Melisa tidak ketakutan sedikit pun, sehingga Subroto mengarahkan moncong pistol ke atas, menarik picunya tak tanggung-tanggung hingga peluru memelesat menembus langit-langit bangunan pengap itu. Suara pistol berdentam menggema di sudut ruangan, mengejutkan para pelanggan, juga para pelacur terkutuk yang kemudian berlarian pontang-panting. Ternyata meskipun sudah beranjak dewasa, Subroto masihlah lelaki sadis yang tak punya belas kasihan.

“Lantas, kenapa? Apa dengan menembakkan pistol terkutuk itu, kau bisa membuatku takut? Kau salah, Tuan Subroto. Sekali kutolak, tak akan pernah kuterima. Meskipun kau merengek sekalipun. Meskipun kau berkata, ‘Sekali kujerat, tak akan kulepaskan.’ Maka, kulawan dengan kalimat seperti itu. Tak ada yang bisa kaulakukan lagi, Tuan Subroto yang kaya raya dan juga adalah Penguasa Kota.” Melisa memicingkan matanya, mendengkus, menyorot tajam dan menusuk memberikan kesan bahwa Subroto harus berusaha lebih keras jika ingin menyalurkan berahinya pada wanita itu.

“Begitu?” kata Subroto sambil beranjak berdiri. “Baiklah. Kalau itu yang wanita pelacur sepertimu inginkan. Lihatlah apa yang bisa aku lakukan pada tempat terkutuk ini. Jangan menyesal, wanita terkutuk.”

Lihat selengkapnya