Blurb
Di tengah hujan yang turun tak semestinya di musim kemarau, kabar jatuhnya pesawat merenggut orang tua Kurnia dan menghancurkan dunia yang ia kenal. Duka yang seharusnya intim segera dipaksa masuk ke dalam birokrasi dingin, angka santunan, dan sorotan media. Kehilangan pribadi berubah menjadi narasi publik, menjadikan Kurnia bukan sekadar anak yang berduka, melainkan simbol yang diperebutkan banyak kepentingan.
Namun harga dari sebuah suara ternyata lebih berat dari yang ia bayangkan. Ancaman, tekanan, hingga tragedi fisik menandai perjalanan Kurnia dari ruang sunyi rumahnya menuju panggung publik yang penuh risiko.
Novel ini adalah kisah tentang keberanian yang tidak selalu berakhir dengan kemenangan, tentang kehilangan yang tak bisa dihitung dengan angka, dan tentang suara yang tetap hidup. Sebuah refleksi pahit namun penuh harapan, bahwa bertahan adalah bentuk keberanian paling sunyi.