HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #1

Bab 1 Hujan yang Tak Seharusnya Ada

BAGIAN 1 HUJAN DI MUSIM KEMARAU

Bab 1 Hujan yang Tak Seharusnya Ada

Hujan turun sejak siang tanpa jeda.

Ia tidak lagi terdengar seperti air—melainkan sesuatu yang terus dijatuhkan dari atas, rapat, bertubi, tanpa niat berhenti. Langit tidak sekadar mengosongkan diri; ia sedang membuang sesuatu yang terlalu lama disimpan, sesuatu yang tidak lagi ingin dikenali.

Talang air tak lagi mengalir—ia meluap, tersendat, memuntahkan air ke pinggir dengan suara yang patah-patah.

Atap bergetar pelan oleh ketukan tak henti-henti: tak… tak… tak…

Bukan ritme yang menenangkan, melainkan nada dari seseorang yang terus mengetuk dari luar, sabar, yakin, tahu bahwa cepat atau lambat akan ada yang membuka.

Angin sesekali menyusup di sela jendela, membawa bau tanah basah. Tirai bergerak sedikit, lalu diam lagi, seolah ikut menahan napas.

Orang-orang menyebutnya kemarau basah. Kemarau seharusnya retak. Kering. Tanah pecah mirip kulit yang kehilangan air. Daun gugur tanpa suara. Tapi hari itu, bulan Mei justru basah—basah dengan cara yang salah—seolah musim telah kehilangan ingatannya sendiri.

Aku berdiri di balik jendela. Kaca dipenuhi titik-titik air yang terus bergeser turun, saling bertabrakan, lalu hilang di bawah. Halaman perlahan berubah menjadi genangan yang tak punya bentuk tetap. Air membawa apa saja: daun kering, ranting kecil, debu lama—semuanya hanyut tanpa perlawanan.

Bagaikan hidup yang tidak sempat berpegangan. Aku mencoba mengingat: kapan terakhir Mei diguyur hujan seperti ini? Ingatanku mundur jauh. Ada satu hari, samar teringat di masa lalu, hujan turun di bulan yang sama. Tapi hanya rintik tipis, sisa napas musim. Ia datang sebentar, lalu pergi, tanpa meninggalkan luka.

Hal yang terjadi hari ini, sama sekali berbeda. Hujan ini terasa punya maksud. Ia tidak hanya turun tapi terasa menggendong sesuatu.

Atau barangkali mengambil sesuatu. Suasana hujan yang ditingkahi fikiranku yang melayang-layang ternyata mempengaruhi organ di tubuhku. Suara nyaring dari dalam perut adalah pertanda.

Perutku lapar. Lapar yang sederhana. Tidak puitis. Tidak filosofis. Hanya lapar.

Aku ke dapur. Lampu menyala pucat. Di atas meja ada singkong rebus. Putih. Beruap.

Aku duduk. Mengambil satu, mengunyahnya perlahan. Rasanya tawar. Tapi hangat. Dan anehnya, justru itu yang menenangkan.

Hidup, rupanya, sering bertahan bukan karena hal besar melainkan karena yang kecil dan berulang: singkong rebus, segelas air, napas yang masih mau masuk ke paru-paru.

Lihat selengkapnya