Ruangan itu terang yang melebihi batas. Seluruh lampu menyala meski terang di siang hari sebenarnya sudah cukup. Cahaya dari jendela bahkan tak sempat bekerja, ia kalah sebelum benar-benar masuk.
Bukan terang yang menenangkan, melainkan terang yang memaksa segala sesuatu terlihat tanpa ampun. Lampu-lampu putih menggantung rendah, berdengung halus, menyiram wajah-wajah di bawahnya dengan nyala yang pucat.
Udara dingin, tapi tidak kosong. Pendingin ruangan berdesis lirih di sudut, menghembuskan napas buatan yang terlalu rata. Bau bercampur tanpa saling mengalah: kopi yang tertinggal di dasar gelas plastik, kertas yang mulai menyerap lembap, dan sesuatu yang tipis, nyaris tak bisa ditangkap. Tidak tajam, tapi cukup untuk membuat tenggorokan terasa kering tanpa sebab.
Orang-orang bergerak tanpa arah yang jelas. Sebagian berdiri terlalu lama di satu titik—jari mereka mengetuk pelan sisi map, atau meremas ujung kertas yang mulai melengkung. Mereka mungkin sudah lupa kenapa datang, atau sedang mencoba mengingat dengan cara yang tidak berhasil.
Sebagian berjalan cepat, langkahnya memantul pendek di lantai, membawa map yang dijepit terlalu erat, membawa harapan yang dipaksa tetap hidup—terlihat dari cara mereka sesekali berhenti, menarik napas, lalu melanjutkan seolah tidak ada pilihan lain.
Sebagian yang lain terlihat duduk, menunduk. Lutut rapat dengan tangan bertaut atau diam di pangkuan. Mata mereka jatuh pada lantai yang bersih—bersih yang nyaris mencurigakan, seperti sesuatu yang terlalu sering diseka agar tidak meninggalkan bekas apa pun. Di sudut ruangan, televisi menyala dengan suara lirih yang tidak mampu menjangkau ke seluruh sudut ruangan yang besar ini.
Aku berdiri di samping Kurnia. Ia memegang map tipis. Tangannya kaku. Jari-jarinya menggenggam terlalu kuat, seolah jika ia melepas sedikit saja, sesuatu akan benar-benar hilang.
Pengeras suara berderit. Lalu suara itu datang. Datar. Tidak tergesa. Tidak juga peduli.
“Nomor dua puluh tujuh.”
Hening sesaat. Lalu diulang.
“Nomor dua puluh tujuh.”
Kurnia berdiri sedikit menoleh ke arahku. Gerakannya tampak dipelajari dengan cepat. Tidak alami. Tidak juga ragu. Hanya… dilakukan. Aku mengikutinya. Aku akan terus mendukungnya.
Langkah kami terdengar sangat jelas di lantai yang licin. Tap. Tap. Tap. Bunyi yang seharusnya biasa, tapi di ruangan itu terasa sebagai penanda bahwa kami sedang menuju sesuatu yang tidak bisa dibatalkan.
Di balik meja, seorang petugas duduk. Seragam rapi. Rambut tersisir klimis. Bau parfum cukup menyengat. Wajahnya menyimpan senyum kecil, senyum yang tidak benar-benar ditujukan pada siapa pun. Senyum yang mungkin sudah dipakai berkali-kali hari itu.
Ia tidak langsung menatap kami. Tangannya lebih dulu bergerak di atas keyboard.
Klik.
Klik.
Klik.
“Nama korban?”
Kurnia menjawab. Suaranya tidak pecah. Tapi juga tidak hidup.
“Hubungan dengan korban?”
“Anak.”
Petugas itu mengangguk kecil. Tanpa ekspresi.
Klik.
Klik.