HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #3

Bab 3 Lelaki yang Memilih Tinggal

Ini kisahku, Pandam dengan kakakku, Yono.

Aku tidak pernah benar-benar memilih untuk menjadi bagian dari hidup Kurnia. Itu terjadi begitu saja—seperti garis yang ditarik diam-diam di atas permukaan waktu, tanpa bertanya apakah aku siap berdiri di atasnya atau tidak. Aku adalah adik kandung ayahnya—paman, dalam sebutan yang terlalu sederhana untuk menampung seluruh isi hubungan kami. Kata itu terasa tipis, hampir rapuh, berubah bentuk menjadi sesuatu yang tidak cukup luas untuk menjelaskan tentang tumbuh dari darah, dari kebersamaan, dari hari-hari yang saling melekat satu sama lain sampai batasnya menjadi kabur.

Aku dan kakakku. Kami berbagi tanah yang sama—berlari di halaman yang sama, jatuh di tempat yang sama, dan dimarahi oleh suara orang dewasa yang sama ketika matahari mulai condong ke barat. Ia selalu lebih tenang. Aku lebih mudah meledak. Ia berpikir lebih dulu, aku bergerak lebih cepat. Kami adalah dua arah dalam satu jalan yang sama—tidak pernah benar-benar bertumbukan, tapi juga tidak pernah benar-benar terpisah.

Suatu sore, ketika kami masih terlalu kecil untuk mengerti arah hidup, aku berlari mendahuluinya di jalan setapak menuju rumah. Ia memanggil dari belakang, napasnya tetap teratur meski langkahnya tidak secepatku.

“Dam, kamu itu kalau jalan jangan lari terus.”

Aku tidak menoleh. “Kalau tidak lari, nanti ketinggalan.”

Aku berhenti di depan pagar, menunggunya. Ketika ia sampai, ia hanya tersenyum kecil—senyum yang tidak pernah tergesa, seolah selalu punya waktu lebih panjang dari yang lain.

“Tidak semua yang cepat itu sampai lebih dulu.”

Waktu itu aku tidak mengerti. Kalimat itu lewat begitu saja, ibarat angin yang tidak sempat kutangkap. Aku baru benar-benar memahaminya bertahun-tahun kemudian, ketika ia sudah tidak lagi ada untuk mengatakannya.

Kami pernah punya masa di mana dunia terasa cukup kecil untuk ditaklukkan berdua. Waktu sekolah, kami sering pulang berjalan kaki, menempuh jarak yang sebenarnya tidak dekat, tapi terasa ringan karena dibagi. Kami selalu melangkah dengan penuh canda dan tawa.

Jika aku dipanggil ke kantor guru, lalu dimarahi, ia akan diam di sampingku—tidak membela, tidak menyalahkan, hanya hadir, dan entah kenapa itu cukup. Jika ia kesulitan pelajaran, aku akan duduk di sampingnya, pura-pura membantu, padahal seringkali hanya ikut bingung. Kami tidak selalu kuat, tidak selalu benar, tapi kami selalu bersama.

Pernah suatu malam listrik padam. Rumah tenggelam dalam gelap yang pekat. Aku yang lebih kecil merasa takut, tapi tidak ingin mengakuinya. Ia menyalakan lilin kecil, meletakkannya di tengah meja, lalu duduk di sampingku dengan ketenangan yang tak tergoyahkan.

“Kalau gelap, kita tunggu saja. Tidak usah dilawan,” katanya.

Lihat selengkapnya