HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #4

Bab 4 Sudah Dekat Tapi Belum Sampai

Berita itu datang bukan sebagai kabar baik. Tapi sebagai kepastian yang tidak menenangkan. Lokasi pesawat, akhirnya ditemukan meski belum sepnuhnya dapat dijangkau.

Koordinatnya jelas. Ditampilkan di layar. Disebutkan berulang-ulang oleh pembawa berita dengan suara yang terlalu terlatih untuk tetap datar.

“Pesawat diduga jatuh di wilayah perbukitan…”

“…medan terjal dan sulit dijangkau…”

“…tim evakuasi darat dan udara akan diterjunkan…”

Televisi menyala sejak pagi. Volumenya tidak pernah benar-benar dikecilkan. Remote tergeletak di meja, terbalik, baterainya sedikit longgar—kadang harus ditekan dulu baru mau merespons.

Di layar, hutan muncul. Tidak dramatis. Tidak berusaha terlihat indah. Hanya padat untuk menutup apa pun yang ada di bawahnya tanpa usaha.

Suara baling-baling terdengar. Tidak stabil. Helikopter melintas sebentar di layar—kecil, goyah, lalu hilang dari frame. Kamera berpindah sebelum sempat memberi kejelasan.

“Tim SAR sudah mengetahui titik jatuhnya pesawat…” suara reporter masuk.

“…namun hingga saat ini belum dapat mencapai lokasi secara langsung…”

Di belakang suaranya, radio terdengar pecah-pecah.

“…jalur tertutup… ulangi…”

Gambar berganti. Kamera darat kali ini gantian bekerja. Seorang petugas melangkah di lereng. Sepatunya masuk ke tanah basah, tertahan sebelum akhirnya ditarik paksa. Lumpur menempel, tidak langsung lepas. Ia berhenti sebentar, menumpu pada paha, menarik napas pendek.

Di layar, seorang petugas berbicara. Wajahnya lelah. Keringat bercampur tanah.

Suaranya tertahan, bukan karena emosi, tapi karena napas.

“Kami sudah berada cukup dekat dengan titik yang diduga lokasi jatuhnya pesawat,” katanya.

“Namun akses sangat terbatas. Kami harus membuka jalur sedikit demi sedikit.”

Sedikit demi sedikit. Seperti mendekati sesuatu yang tidak ingin didekati terlalu cepat. Gambar berubah. Drone. Hutan itu menjulang rapat, seakan menyembunyikan rahasia yang belum pernah disentuh manusia. Rimbunnya dedaunan saling bertaut, menciptakan bayangan pekat yang menelan terang, menegaskan bahwa di dalamnya tersimpan dunia yang masih perawan, asing, dan tak terjamah.

Di belakangnya, petugas lain membuka jalur.

Srak.

Srak.

Aku duduk di kursi. Kurnia di sebelahku.

Di meja, ada dua gelas teh yang sudah dingin. Lapisan tipis di permukaannya bergetar setiap kali seseorang lewat terlalu dekat. Di sampingnya, biskuit dalam toples terbuka—sebagian melempem, tapi tetap diambil orang tanpa benar-benar dimakan.

“Tim harus berjalan kaki beberapa kilometer…”

“…membuka jalur secara manual…”

Aku menggeser posisi duduk. Kursi berbunyi kecil. Di sebelah kami, seorang laki-laki yang sejak tadi ikut menonton—entah keluarga siapa—bersandar ke depan, siku di lutut. Ia menggosok kedua tangannya, bukan karena dingin, tapi seperti sedang mencari sesuatu untuk dilakukan.

“Mas dari mana?” tanyanya padaku.

“Semarang,” jawabku.

Ia mengangguk pelan.

“Saya dari Tegal. Biasanya kalau ketemu orang Semarang itu rebutan jalur Pantura, sekarang malah duduk sebelahan begini.”

Aku tersenyum.

“Iya. Biasanya klakson-klaksonan, sekarang malah pelan-pelan ngomong.”

Ia terkekeh.

“Ini versi reuni yang nggak direncanakan.”

“Tapi terus terang sejak ada tol trans jawa saya lupa bentuk jalan pantura.. he… he…”

“Iya ya? Sekarang masih ramaikah jalan pantura? Saya sudah lama tidak melewatinya.”

“Masih pak, ramai jalan rusaknya…”

Dan kami tertawa Bersama.

Aku melirik gelas teh di meja sebelum melanjutkan perbincangan.

“Jamuan juga seadanya.”

Lihat selengkapnya