Angka itu datang sebelum tubuh ditemukan utuh. Ia muncul di layar—lebih dulu dari kepastian, lebih dulu dari perpisahan yang belum pasti. Diucapkan oleh suara yang terlalu rapi untuk sebuah kehilangan. Ditulis dalam huruf tebal. Diulang berkali-kali, layaknya sesuatu yang sedang dipastikan agar tidak lagi dipertanyakan.
Nominal itu besar. Terlalu besar untuk disentuh pikiran.
Di ruang itu, televisi menyala tanpa jeda. Volumenya cukup keras, seolah sengaja tidak diberi ruang untuk tenang. Kali ini bukan tentang puing-puing. Bukan pula tentang pencarian, tapi tentang kompensasi. Tentang santunan.
Tentang “hak keluarga korban.”
Tulisan itu diam di layar. Tidak berkedip. Bahkan tidak juga bergerak. Dan justru karena itu, ia terasa sesuatu yang menatap balik, lekat-lekat.
Di meja, gelas-gelas air mineral kehilangan dinginnya.
Embun yang tadi turun perlahan kini berhenti di tengah jalan, meninggalkan garis tak beraturan seperti peta yang tidak selesai dilukis. Sebungkus biskuit terbuka. Beberapa keping patah di dalamnya, tidak jelas karena diambil atau karena terlalu lama dibiarkan.
Seseorang mencoba memakan satu. Mengunyah pelan. Tidak sampai habis.
Di sudut ruangan, dua orang berbicara.
“Lumayan…”
Kata itu keluar seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya diizinkan.
Yang lain menjawab pelan,
“Lumayan buat siapa?”
Tidak ada yang tertawa. Tapi keduanya mengerti bahwa kalimat itu tidak perlu dijawab.
Kurnia duduk. Tangannya saling menggenggam. Ibu jarinya bergerak pelan, berulang—menggesek kulit, berhenti, lalu mengulang lagi—seperti seseorang yang sedang memastikan dirinya masih berada di dalam tubuhnya sendiri.
Aku berdiri di dekat jendela, melihat ke arah tempat parkir yang mulai penuh. Kaca sedikit berembun dari dalam. Aku menyentuhnya dengan ujung jari, terasa dingin. Tapi anehnya sama sekali tidak menyegarkan. Di luar, genangan air belum surut. Ada bayangan langit di sana—tenang, utuh, seperti tidak ada yang retak di atasnya.
Dari ruangan lain, terdengar bunyi sendok mengenai lantai. Seseorang tertawa kecil. Terlalu cepat. Lalu diam. Seolah tawa itu baru saja melakukan kesalahan.
“…proses pencairan santunan akan dilakukan setelah verifikasi data…”
Suara televisi mengalir.
Aku mengambil remote. Menurunkan volume sedikit. Tidak sampai hilang. Hanya cukup untuk membuatnya seperti napas—ada, tapi tidak mengganggu.
“Mas,” suara dari kursi sebelah muncul,
“kalau angka segitu ditransfer ke rekening saya, mungkin banknya yang panik duluan.”
Aku menoleh. Seorang bapak, masuk kategori jelita alias jelang lima puluh tahun, duduk dengan punggung sedikit membungkuk. Tangannya memegang biskuit, tapi tidak dimakan.
“Bisa jadi langsung ditelpon,” jawabku.
“Pak, ini serius atau salah kirim?”
Ia tersenyum.
“Kalau salah kirim, saya pura-pura nggak angkat.”
Aku tertawa kecil.
“Besoknya baru bilang: sinyal jelek.”
“Iya,” katanya.
“Padahal sinyalnya jelas. Yang nggak jelas itu… hidup.”
Ia akhirnya menggigit biskuit itu. Mengunyah pelan, menikmatinya di setiap kunyahan.
“Mas,” katanya lagi,
“kalau uang itu bisa ngomong, kira-kira dia bilang apa ya?”
Aku berpikir sebentar.
“Mungkin dia bilang: saya datang terlambat.”
Ia mengangguk pelan.
“Dan mungkin… tidak diminta.”
Kami diam sebentar.