HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #6

Bab 6 Kamera dan Narasi

BAGIAN 2 PEMAKAMAN

Menjelang siang itu, untuk kesekian kalinya, kami datang ke kantor maskapai bukan untuk mencari jawaban baru, melainkan karena rumah terasa terlalu sesak oleh keheningan.

Di halaman depan, kerumunan sudah terbentuk. Bukan keluarga, bukan petugas, melainkan orang-orang yang membawa pertanyaan.

Mikrofon muncul lebih cepat daripada sapaan. Ia menyelip di antara bahu, di sela lengan, hitam dan panjang, ujungnya dibungkus busa yang menyerap suara—dan mungkin juga serpihan duka yang tak pernah diminta.

Kamera mengikuti dari belakang. Lensa kaca menatap lurus, lampu merah menyala: tanda bahwa setiap detik setelah ini akan disimpan, dipotong, lalu diputar ulang.

Udara di luar gedung tidak lebih lega; ia justru padat, penuh langkah kaki yang saling bertabrakan, suara kendaraan yang lewat tanpa benar-benar pergi. Di atas semuanya, pertanyaan menunggu giliran untuk dilontarkan.

Kurnia berhenti di bawah kanopi. Panas terik memisahkan antara kanopi itu dengan tempat parkir khusus tamu yang berjarak cukup jauh. Aku berdiri sedikit di belakangnya.

Kerumunan orang yang kulihat dari tempat parkir tadi ternyata adalah para wartawan yang memang menunggu kedatangan para keluarga korban. Mereka mencegat kami di bawah kanopi. Dengan gesit mereka mengerumuni Kurnia, aku sedikit terdesak ke belakang. Aku mundur beberapa langkah untuk sedikit menjauh. Namun masih cukup dekat untuk dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan mereka.

“Mas, apakah kehilangan ini bisa diukur dengan angka santunan?”

Pertanyaan pertama. Menyentuh langsung ke inti, tapi juga terasa dingin.

Kurnia tidak menoleh. Matanya tetap ke depan, ke ruang yang penuh tapi seolah kosong.

“Tidak,” jawabnya pendek.

Satu kata, tapi berat.

“Jika besok ada konferensi pers lagi dari maskapai tentang perkembangan status, apakah Anda ada pertanyaan?”

Pertanyaan kedua, absurd sekaligus tajam.

Kurnia menarik napas.

“Yang saya tunggu hanya kepastian,” katanya.

Jawaban-jawaban itu jatuh seperti kerikil ke dalam air: tenggelam cepat, tanpa riak panjang.

Di sampingku, seorang pria dengan kamera berbisik ke salah satu temannya, “Jawabannya singkat sekali.”

Rekannya menimpali, “Kalau panjang, nanti dipotong juga.”

Mereka tersenyum tipis, bukan sepenuhnya bercanda.

Pertanyaan lain masuk.

“Bagaimana Anda melihat santunan yang diberikan?”

Kurnia menoleh sedikit, bukan ke kamera, melainkan ke mikrofon yang terlalu dekat. Ia mundur setengah langkah.

“Belum ada yang bisa dibicarakan. Kami belum selesai di bagian yang lain.”

Hening menggantung. Bukan tenang, melainkan bingung harus diisi dengan apa.

“Apakah Anda merasa cukup diperhatikan oleh pihak terkait?”

Kurnia diam. Di dalam dirinya, aku tahu ia sedang menimbang: apakah jawaban akan mengubah sesuatu, atau hanya menjadi potongan lain di layar.

Seseorang di belakang tersandung kabel, tertawa kecil, “Kalau ini live, saya viral juga.”

Lihat selengkapnya