Kabar itu tidak datang dengan suara menggelegar. Tidak ada teriakan. Tidak ada pengumuman yang memecah ruangan. Hanya perubahan kecil di layar televisi.
Grafik di sudut berganti warna.
Tulisan BREAKING NEWS muncul perlahan—merah, berkedip, seperti sesuatu yang dipaksa tetap hidup.
Lalu wajah seorang reporter muncul.
Rapi. Tegak.
Terlalu siap untuk kabar yang seharusnya tidak pernah siap disampaikan.
“Pemirsa, kami mendapatkan informasi terbaru dari lokasi pencarian…”
Suaranya tenang. Terlalu tenang—seolah jika ia kehilangan kendali satu derajat saja, seluruh kalimat itu akan runtuh sebelum selesai. Gambar berganti.
Kabut tipis menggantung rendah. Lereng curam terbuka seperti luka yang belum kering. Di antara tanah dan semak yang terseret, potongan logam berserakan—bukan lagi pesawat, hanya sisa-sisa bentuk yang gagal bertahan utuh.
“Tim SAR berhasil mencapai lokasi jatuhnya pesawat.”
Tidak ada yang langsung bereaksi. Ruangan seperti menahan napasnya sendiri, menunggu seseorang memastikan bahwa kalimat itu benar-benar berarti apa yang mereka takutkan selama ini.
Kurnia tidak bergerak. Matanya tetap pada layar, tapi ada sesuatu dalam tatapannya yang mulai menjauh—seolah sebagian dirinya sudah lebih dulu sampai di tempat itu.
“…tim menemukan puing-puing pesawat dalam kondisi tersebar…”
Kamera menyorot lebih dekat. Bagian badan pesawat terbelah, kursi-kursi terlepas dari relnya, kabel menjulur seperti urat yang kehilangan tubuh.
Satu gambar muncul, lalu cepat diganti. Terlalu cepat untuk diperhatikan, terlalu jelas untuk diabaikan.
Suara reporter tetap datar.
“…proses evakuasi korban sedang berlangsung…”
Kata itu jatuh tanpa suara. Korban. Bukan lagi penumpang. Bukan lagi diduga.
Korban. Dan sejak kata itu diucapkan, sesuatu yang selama ini ditahan—pelan, rapi, hampir berhasil—akhirnya runtuh tanpa suara.
***
Ruangan seakan ditarik ke dalam jeda yang rapuh. Bukan karena suara menghilang, melainkan karena setiap bunyi mendadak terasa telanjang, begitu dekat, terlalu tak bisa diabaikan. Sendok yang jatuh ke lantai memecah udara seperti retakan tipis di kaca. Kursi bergeser dengan kasar, seolah menolak keberadaannya sendiri. Seseorang menarik napas dalam-dalam, lalu menahannya, takut hembusan kecil itu akan mengguncang sesuatu yang sudah retak sejak lama.
Kurnia berdiri. Tidak sepenuhnya tegak, tubuhnya masih mencari cara untuk menopang sesuatu yang baru saja hilang.
Matanya belum lepas dari layar.
“Sudah sampai,” katanya.
Suaranya tidak keras. Tidak juga lemah. Hanya… selesai.
Tidak ada yang menjawab. Karena semua orang tahu, kalimat itu bukan untuk didengar.
***
Hari itu bergerak lebih cepat dari biasanya, seolah waktu tiba-tiba kehilangan kesabaran.