Hujan turun lagi. Meski tidak lebat, tapi cukup untuk membuat tanah licin, lengket, dan menempel di sepatu. Langit menggantung rendah, abu-abu yang tidak sepenuhnya gelap, seolah dunia sedang menahan napas.
Di pemakaman, orang-orang berdiri rapat. Payung-payung terbuka: hitam, biru tua, abu-abu. Angin membuat sebagian bergetar pelan. Dari kejauhan, mereka tampak seperti barisan kepala tanpa wajah—seragam, diam, menunggu sesuatu yang tak bisa ditunda.
Tanah di sekitar liang masih basah. Galian itu tampak lebih gelap dari sekitarnya, lebih dalam, lebih nyata. Bagaikan lubang yang tidak hanya menampung tubuh, tapi juga menelan makna.
Aku berdiri di tepi. Tidak terlalu dekat, tidak juga jauh. Cukup untuk melihat. Dua peti diturunkan perlahan. Tali-tali menegang, beberapa tangan membantu mengatur arah. Gumpalan tanah kecil di tepi galian makam ikut jatuh karena tersenggol peti saat diturunkan.
Tidak ada yang bicara. Hanya suara gesekan kayu, tali, dan gumam doa yang berlapis-lapis. Tanah di pinggir liang sedikit runtuh.
Ayah dan ibu dari Kurnia. Berdampingan. Seperti selama ini. Bukan pasangan yang banyak kata, bukan juga yang suka menunjukkan kasih sayang di depan orang lain. Tapi kehadiran mereka selalu cukup, sebuah keutuhan yang baru terasa penting ketika hilang.
Saat peti menyentuh dasar liang, suara itu terdengar pelan. Titik. Akhir dari sesuatu yang tak pernah kita kira akan berakhir. Doa mulai dibacakan. Suara-suara pelan, tidak seragam. Sebagian terbata, sebagian lancar, sebagian hanya menggerakkan bibir tanpa suara. Aku mencoba mengikuti, tapi kata-kata terasa jauh.
Gumpalan tanah pertama jatuh.
Duk.
Suara itu pendek, padat, nyata. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Tanah menutup perlahan. Tidak tergesa, tidak ragu. Seperti sesuatu yang memang harus terjadi.
Di sampingku, Kurnia berdiri. Tubuhnya sedikit condong ke depan, seolah jika ia tidak menahan diri, ia akan jatuh—masuk ke dalam liang itu—mengikuti sesuatu yang tak ingin ia lepaskan.
“Om…” suaranya pecah. Pelan. Hampir hilang.
Aku menoleh. Matanya merah. Bukan hanya karena tangis, tapi karena sesuatu yang tidak selesai.
“Kenapa… mereka yang paling baik… malah pergi duluan?”
Pertanyaan itu tidak mencari jawaban. Ia hanya ingin keluar. Aku menatap liang yang kini mulai tertutup.
“Karena hidup tidak memilih berdasarkan baik atau buruk,” kataku pelan.
“Mungkin… karena tugas mereka sudah selesai.”
Ia menggeleng cepat. Menolak kesimpulan yang terasa tergesa.
“Aku belum siap,” katanya. Jujur. Sangat jujur.
Aku mengangguk. “Aku juga.”