Jam dinding tetap berdetak.
Tik… tik… tik…
Suara itu tidak berubah. Yang berubah adalah cara ia terdengar—lebih keras dari seharusnya, seperti sesuatu yang sengaja mengingatkan bahwa waktu tetap berjalan, bahkan ketika tidak ada lagi yang ingin mengikutinya.
Tapi tidak ada lagi yang menegurnya terlambat. Tidak ada suara yang menyahut dari dapur. Tidak ada langkah yang terburu dari kamar. Tidak ada lagi riuh tawa yang memenuhi ruangan.
Aku masuk lebih dulu.
Udara di dalam terasa lain—bukan sekadar senyap, melainkan senyap yang menekan. Seperti ruangan ini menahan sesuatu terlalu lama dan tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.
Langkah kakiku terdengar terlalu jelas. Setiap pijakan memantul tipis di lantai. Tarikan kursi menjadi bunyi yang kasar, seperti mengganggu sesuatu yang seharusnya dibiarkan diam. Bahkan napas sendiri terasa sebagai gangguan.
Kurnia berhenti di ambang pintu. Lebih lama dari yang diperlukan untuk sekadar berdiri.
Ia tidak langsung masuk. Tangannya menyentuh daun pintu. Diam di sana. Layaknya seseorang yang sedang memastikan: apakah ini masih rumah yang sama,
atau hanya tempat yang kebetulan memiliki bentuk yang sama.
“Masuk,” kataku pelan.
Ia tidak langsung menjawab. Matanya menyapu ruang tamu. Sofa. Meja. Lemari kecil di sudut. Televisi yang mati, layarnya memantulkan bayangan pintu yang terbuka.
Semua ada. Tidak ada yang hilang secara fisik. Tapi justru itu yang terasa aneh.
“Masih sama ya…” katanya pelan.
Aku menoleh.
“Iya.”
Ia menggeleng kecil.
“Harusnya ada yang berubah.”
Aku tidak langsung menjawab.
Ia melangkah masuk. Berjalan dengan langkah yang setengah tertahan. Mirip tamu yang takut salah tempat duduk. Bukan penghuni yang pernah tahu di mana ia boleh sembarangan.
Di meja makan, ada tiga piring. Tidak ada yang memindahkannya sejak hari pemakaman. Satu di ujung. Dua di seberang. Sendok masih ada di sampingnya. Satu miring sedikit, seperti ditinggalkan terburu-buru.
Kurnia mendekat. Tangannya terangkat sedikit, ingin merapikan. Lalu berhenti di udara. Jari-jarinya menggantung, tidak menyentuh apa pun.
“Aku lupa membereskan,” katanya pelan.
Aku melihat piring-piring itu.
“Kadang… bukan lupa,” kataku.
Ia diam.
“Ada hal yang kita biarkan tetap di tempatnya,” lanjutku,
“supaya tidak terasa benar-benar hilang.”
Kurnia menurunkan tangannya perlahan.