HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #10

Bab 10 Surat yang Datang Setelah Kematian

Tidak Semua yang Pergi Membawa Perginya Masalah

Surat itu datang di pagi hari saat udara dingin masih memeluk kami. Tidak ada yang istimewa dari bentuknya. Amplop cokelat. Tipis. Dilipat rapi, lengkap dengan nama lengkap dan alamat. Diletakkan di pagar, bernasib sama dengan banyak surat lain yang pernah datang sebelumnya. Bedanya, kali ini tidak ada siapa pun yang mengharapkan datangnya surat itu.

Kurnia menemukannya saat membuka pintu. Udara pagi menerobos masuk. Sisa embun menempel di ujung daun. Semua terlihat tenang, terlalu tenang untuk sesuatu yang akan terjadi.

Ia mengambil amplop itu. Membacanya sekilas. Namanya tertulis di sana. Di bawahnya, nama ayahnya. Ia berhenti. Beberapa detik. Cukup lama untuk membuat tangannya sedikit menegang. Ia tidak langsung membuka membawanya masuk ke dalam rumah dan meletakkannya di meja, begitu saja. Ia menatap surat itu cukup lama, seakan benda itu bisa menjelaskan dirinya sendiri jika diberi waktu.

“Ada surat?” tanyaku dari dapur.

Kurnia mengangguk.

“Dari siapa?”

Ia mengangkat bahu.

“Tidak tahu.”

Tapi sebenarnya, ia sudah tahu. Atau setidaknya, ia punya firasat yang tidak ingin ia pastikan.

Ia duduk. Terpekur. Lalu bangkit untuk menarik kursi, perlahan. Suara gesekan kayu terdengar lebih keras dari biasanya. Ia membuka amplop itu. Pelan. Kertas di dalamnya lebih berat dari yang terlihat. Ia menariknya keluar.

Ia membaca baris pertama lalu berhenti. Mengulang dari awal. Lalu membaca sampai selesai. Tanpa suara. Tanpa ekspresi. Hanya matanya yang bergerak.

“Apa?” tanyaku.

Ia masih belum berbicara sepatah katapun. Ia justru menurunkan kertas itu. Menatap ke depan. Kosong. Anak itu tampak terduduk lemas.

“Tagihan,” katanya akhirnya.

Satu kata. Pendek. Tapi cukup untuk mengubah suasana ruangan.

Aku mendekat. Meraih kertas itu dari tangannya. Membaca cepat. Lebih cepat dari yang seharusnya, berharap ini hanya kesalahan. Tidak. Nama itu benar. Alamat itu benar.

“Ini apa?” tanyaku.

Ia menggeleng pelan.

“Aku juga baru tahu.”

Hening. Bukan karena tidak ada yang bisa dikatakan. Tapi karena terlalu banyak kemungkinan, yang belum siap dihadapi.

“Pinjaman usaha,” kataku pelan, membaca bagian bawah.

Kurnia menunduk, berusaha mengingat sesuatu yang tidak pernah melekat dalam memorinya.

“Tapi Ayah tidak pernah cerita…”

Kalimat itu tidak selesai. Karena kenyataan tidak selalu datang dengan penjelasan.

Di bagian bawah surat itu, ada kalimat lain. Lebih kecil. Tapi lebih tajam.

Jika dalam waktu 7 hari tidak ada penyelesaian atas angsuran yang menunggak, maka akan dilakukan penagihan lanjutan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Lalu terpampang pula nomor surat perjanjian dan tanggal.

Kata-kata itu terlihat rapi. Resmi. Tidak emosional. Tapi justru karena itu, ia terasa lebih dingin. Kurnia membaca ulang bagian itu. Lama. Mencoba mencari celah. Tidak ada. Ia menaruh surat itu di meja. Tidak melipat. Tidak merapikan. Hanya meletakkannya begitu saja seolah sama sekali tidak membutuhkannya. Seakan sesuatu yang tidak tahu harus diperlakukan bagaimana.

“Berapa?” tanyaku.

Ia menyebut angka itu. Pelan. Hampir seperti tidak ingin benar-benar mengucapkannya. Aku diam. Menghitung cepat di kepala. Tidak cukup.

Lihat selengkapnya