BAGIAN III YANG TERTINGGAL
Kehilangan tidak hanya mengosongkan rumah—tapi juga membuka pintu bagi orang-orang yang datang, bukan untuk tinggal, melainkan untuk memastikan apa yang bisa mereka bawa pulang
Mereka datang saat matahari tepat di atas kepala—waktu di mana bayangan menghilang, dan segala sesuatu terlihat tanpa tempat bersembunyi. Panas menempel di dinding, diam.
Mobil berhenti di depan rumah tanpa suara berlebihan, hanya gesekan halus ban dengan kerikil yang terdengar singkat. Mesin dimatikan. Sunyi. Pintu terbuka. Empat orang turun. Tidak tergesa, tidak juga ragu. Sepatu mereka menyentuh tanah dengan ritme pelan, hampir seragam. Mereka berjalan masuk tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan orang yang merasa punya alasan untuk berada di sana.
Dari luar, terdengar klakson kendaraan lewat sekali, panjang, lalu hilang.
Kurnia sudah melihat dari jendela. Ia tidak banyak bergerak.
Tangannya bertumpu di kusen, jemarinya mengetuk pelan kayu jendela—sekali, dua kali—tanpa sadar. Hanya berdiri, memperhatikan, terlihat mencoba mengingat—apakah wajah-wajah itu pernah benar-benar dekat, atau hanya pernah lewat.
“Saudara Ayah,” kataku pelan.
Ia mengangguk pelan. Hampir tak terlihat.
Ketukan terdengar. Tiga kali. Rata. Tidak ragu.
Aku membuka pintu. Engselnya berbunyi tipis.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Kami berjabat tangan tanpa berpelukan. Telapak tangan terasa kering, cepat dilepas. Mereka masuk. Aku mempersilahkan mereka untuk duduk.
Ruang tamu mendadak terasa sempit—bukan karena ukurannya berubah, tapi karena niat yang dibawa masuk ke dalamnya. Udara terasa tertahan di tengah ruangan.
Kurnia duduk di seberang mereka. Tidak ada yang benar-benar saling melihat. Mata hanya singgah sebentar, lalu berpaling.
“Kami turut berduka,” kata salah satu perempuan.
Suaranya halus, tapi kosong.
Kurnia mengangguk.
“Terima kasih.”
Tidak ada tambahan. Tidak ada usaha untuk membuat suasana hangat. Dan mungkin, memang tidak ada yang bisa dihangatkan.
Aku menggeser sedikit gelas air mineral di meja, bunyi plastik bergesekan terdengar kecil tapi jelas.
Kami pun tidak menyuguhkan sesuatu yang istimewa, hanya beberapa air mineral gelas yang memang selalu tersedia di meja ruang tamu. Embun tipis di dinding gelas perlahan turun, meninggalkan garis air.
Beberapa detik berlalu. Cukup lama untuk membuat basa-basi terasa tidak berguna. Jam dinding berdetak. Satu. Dua. Tiga.
Laki-laki di tengah berdeham kecil. Ia merapikan posisi duduknya, menarik sedikit kerah bajunya.
“Kami datang, tentu ada yang ingin dibicarakan.”
Aku sudah tahu arah kalimat itu sebelum ia menyelesaikannya. Sebelumnya mereka memang pernah mengirim pesan melalui media sosial, bertanya-tanya soal beberapa hal. Hanya saja mereka belum menyampaikan rencana bertamu hari ini.
“Soal harta peninggalan.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan keras. Ia hanya lewat, sederhana dan nyaris tanpa penekanan. Namun setelahnya, udara di ruangan terasa lebih berat, seakan membawa sesuatu yang sebelumnya tak terlihat. Ada pikiran-pikiran yang mendadak berhenti berlari, lalu mengendap dalam diam, bagaikan debu yang akhirnya menemukan tempat untuk jatuh.
Kurnia tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan laki-laki itu. Cukup lama. Matanya diam, tapi tajam.
“Jelasnya bagaimana?” tanyanya akhirnya.
Nada suaranya tenang. Tapi tidak memberi ruang untuk dianggap ringan.
Perempuan di samping menyambung. Ia merapikan ujung jilbabnya yang sudah rapi, sebelum berbicara.
“Kami dengar semua sudah diurus atas nama kamu. Santunan, aset… semuanya.”
“Ya.”
Satu kata. Tegas dan cukup. Aku menahan napas, lalu bicara.
“Memang begitu seharusnya. Kurnia anak satu-satunya.”
Laki-laki itu menoleh padaku. Tatapannya singkat. Aku tidak bisa membaca tatapan itu, apakah marah ataukah mewakili perasaan yang lain.
“Iya, Dik. Kami paham. Tapi kita juga keluarga.”
Nada “keluarga” itu terdengar aneh. Sebuah kata yang dipakai hanya ketika ada yang bisa diambil darinya.
“Kalau soal tanah? Aset lain? Jangan-jangan ada yang belum dibicarakan.”