HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #12

Bab 12 Duka yang Mulai Ditawar

Tidak Semua yang Membantu Datang Tanpa Kepentingan

Tidak semua yang datang membawa duka. Sebagian membawa rencana.

Mereka datang bergantian.

Kerabat dekat. Kerabat jauh. Teman lama yang sebelumnya hanya muncul dalam ingatan, kini hadir dengan pesan singkat yang tiba-tiba hangat. Tetangga yang dulu sering menyapa setengah hati, sekarang tersenyum lebih lama dari biasanya.

Tidak bersamaan. Tidak berombongan. Satu per satu. Kadang dua.

Dengan pola yang hampir selalu sama: mengetuk pintu, mengucapkan belasungkawa, lalu duduk—sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

Ada jeda setelah itu. Jeda yang tidak kosong. Jeda yang seperti menunggu sesuatu—yang belum diucapkan, tapi sudah ada.

Siang itu, seorang laki-laki datang dengan map di tangan.

Bajunya rapi. Sepatunya bersih. Senyumnya tidak berlebihan—cukup untuk membuat orang tidak menolak, tapi tidak cukup untuk membuat orang percaya sepenuhnya.

“Perkenalkan, Mas,” katanya.

“Saya kenal almarhum dulu. Meski sedikit. Saya bersaksi, orang tua mas Kurnia, orang baik.”

Cukup. Pintu terbuka.

Ia duduk di ruang tamu. Posisinya tegak. Terukur. Tidak santai, tapi tidak juga kaku. Matanya bergerak pelan—mengamati, mencatat—tanpa terlihat mencolok.

Kurnia duduk di seberangnya. Ia tidak langsung menolak. Tapi juga tidak menyambut.

“Saya turut berduka ya, Mas.”

Kurnia mengangguk.

“Terima kasih.”

Hening. Bukan hening yang canggung, melainkan hening yang sengaja disisakan.

Laki-laki itu membuka map. Tidak tergesa. Seolah waktu ada di genggamannya, bukan di ruangan ini.

“Saya sebenarnya datang bukan hanya untuk melayat,” katanya.

Nada suaranya tetap lembut, stabil.

“Tapi juga ingin memastikan. Apa yang Mas terima tidak berhenti di sini.”

Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas.

Grafik. Angka. Skema.

Diletakkan rapi di meja. Terlalu rapi untuk sebuah rumah yang baru saja kehilangan.

“Kami sering melihat … ” lanjutnya pelan,

“uang sejenis ini datang, lalu wuss… hilang begitu saja.” Tangannya bergerak agar penjelasannya meyakinkan.

Ia berhenti. Memberi ruang bagi kalimat itu untuk bekerja sendiri.

“Kami hanya tidak ingin itu terjadi pada Mas.”

Kurnia melirik sekilas. Tidak menyentuh, tampak enggan bertanya. Hanya melihat sesuatu yang tidak benar-benar ingin ia pahami.

“Dengan pengelolaan yang tepat,” katanya lagi,

“nilainya bisa berkembang.”

Tidak ada angka panjang. Tidak ada janji berlebihan. Justru karena itu, terdengar masuk akal.

Ia lalu menyandarkan punggung, sedikit lebih santai.

“Mas tidak perlu mengejar apa-apa.”

Tatapannya tertahan pada satu titik.

“Biarkan yang Mas punya bergerak sendiri.”

Kalimat itu singkat, tapi sama sekali tidak ringan. Segala sesuatu layaknya dibuat sederhana agar tidak ditolak.

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Tidak perlu.

“Banyak orang bekerja terlalu lama tapi tetap di tempat yang sama,” katanya kemudian.

“Bukan karena kurang keras. Tapi karena tidak pernah mengubah cara.”

Ia tersenyum tipis.

“Sekarang bukan soal seberapa keras kita bekerja.”

Ia berhenti.

“Tapi bagaimana kita menempatkan apa yang sudah kita miliki.”

Lihat selengkapnya