Kurnia sudah bangun. Sejak subuh. Tapi tidak langsung berdiri. Ia duduk di tepi tempat tidur. Melihat ke arah lantai. Cukup lama. Seolah sedang mencoba mengingat, apa alasan untuk bangun.
Jam bergulir seragam. Suara yang sama. Hari yang berbeda. Ia akhirnya berdiri. Hati-hati. Langkahnya tidak ragu tapi juga tidak punya tujuan yang jelas. Ia membuka jendela. Udara pagi masuk. Dingin, tapi tidak menyegarkan.
Ia menarik napas dalam. Menahannya. Lalu menghembuskannya perlahan, terlihat berusaha keras untuk memastikan bahwa tubuhnya masih mau bekerja sama. Di meja belajar, buku-buku terbuka. Catatan kuliah. Pulpen. Laptop. Semua ada. Seolah kehidupan lamanya masih menunggu untuk dibangkitkan kembali.
Ia menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Air yang dingin menyentuh kulitnya, mengalir dari wajah ke telapak tangan, lalu jatuh tanpa suara yang berarti. Untuk beberapa saat ia berdiri di sana, membiarkan kesegaran itu menetap. Tetapi ketika ia kembali ke kamar, pikirannya masih sama berisiknya.
Ia duduk di kursi belajar. Membuka sebuah buku. Membaca satu paragraf. Kemudian mengulangnya. Lalu mengulang lagi.
Kalimat-kalimat itu sebenarnya sederhana. Ia pernah memahami hal yang jauh lebih rumit daripada ini. Namun malam itu, pikirannya tak memiliki ruang kosong untuk menerima apa pun. Terlalu banyak hal yang saling bertabrakan di dalam kepala. Terlalu banyak pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
Ia menutup buku itu perlahan. Tangannya berhenti di atas sampul yang tertutup rapat. Menekan sedikit. Gerakan kecil yang hampir tak berarti, tetapi menyimpan sesuatu yang lebih dalam dari yang tampak. Barangkali manusia memang membutuhkan ilusi bahwa masih ada sesuatu yang bisa dikendalikan, ketika terlalu banyak hal di luar dirinya bergerak tanpa izin.
“Harusnya aku tahu mau ke mana,” gumamnya.
Nyaris tidak terdengar.
Aku berdiri di pintu, langkahku tertahan. Tidak langsung masuk.
“Kamu tidak harus tahu sekarang,” kataku.
Ia menoleh. Sedikit terkejut, mungkin lupa bahwa ia tidak sendirian.
“Tapi semua orang tampaknya tahu,” jawabnya.
Aku masuk, lalu duduk di kursi di seberangnya.
“Tidak,” kataku.
“Banyak yang hanya terlihat tahu.”
Ia diam, tapi bukan sekadar diam—seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu agar tidak jatuh berserakan di dalam dirinya. Pandangannya tertambat pada meja, pada permukaan kayu yang barangkali lebih jujur daripada kata-kata.
“Aku dulu pernah punya rencana,” katanya, hampir berbisik, seakan takut kalimat itu berubah begitu keluar dari mulutnya.
“Lulus tepat waktu. Kerja. Membuat mereka merasa tidak sia-sia.”
Ia berhenti di sana. Bukan karena kehabisan kata, tapi karena ada sesuatu yang tak lagi punya tempat untuk dituju. Nama itu tidak disebut, namun terasa hadir—sebagai ruang kosong yang terlalu besar untuk diabaikan.
“Sekarang,” lanjutnya, setelah jeda yang nyaris retak, “aku tidak tahu sedang berjalan ke mana. Atau masih berjalan, atau tidak.”