HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #14

Bab 14 Hal-Hal Kecil yang Menyelamatkan

Aku berdiri di dalam, melihatnya dari jarak. Dan saat itu aku mengerti: hidup tidak kembali utuh sekaligus. Ia kembali dalam potongan-potongan kecil

Tidak ada peristiwa yang layak dicatat hari itu. Tidak ada kabar yang mengubah arah, atau kejadian yang bisa ditunjuk sebagai mula dari sesuatu yang baru. Hari itu berjalan sebagaimana mestinya—biasa, nyaris tak meninggalkan jejak.

Udara pagi berada di antara—tidak dingin, tidak hangat—hanya cukup untuk dihirup tanpa pertanyaan. Ada ketenangan yang tidak berusaha menjadi apa-apa, tidak menawarkan penghiburan, tetapi juga tidak menambah beban.

Hari itu tidak meminta apa pun. Tidak jawaban, tidak keputusan, tidak keberanian yang dibuat-buat. Hanya kehadiran. Hanya kesediaan untuk tetap tinggal, meski arah belum sepenuhnya jelas.

Kurnia duduk di teras. Sendirian. Secangkir teh di tangannya. Uapnya naik perlahan. Tipis. Lalu hilang.

Ia menyeruput tehnya. Hangat. Sederhana dan nyata. Tidak menyembuhkan apa pun tapi juga tidak menambah luka.

Di dalam rumah, aku sedang merapikan sesuatu. Bukan karena harus. Tapi karena ada hal-hal kecil yang terasa perlu dilakukan. Menyusun kursi, melipat kain. Menggeser barang sedikit dari tempatnya. Perubahan kecil. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk memberi rasa, bahwa hidup masih bisa disentuh.

“Kamu nggak ke kampus?” tanyaku dari dalam.

“Enggak hari ini,” katanya akhirnya.

“Kenapa?”

Ia berpikir sebentar. Bukan mencari alasan, tapi mencari kejujuran.

“Aku lagi belajar diam,” katanya.

Aku tersenyum. Tidak mengejek. Tidak juga heran. Karena diam, sering kali adalah bentuk paling jujur dari proses.

Ia meletakkan cangkirnya. Mengamati bekas lingkaran tipis di meja. Jejak kecil. Yang akan hilang jika dilap. Tapi untuk sekarang, ia membiarkannya ada. Nampaknya tidak semua hal memang harus segera dibereskan. Beberapa hal, justru perlu dibiarkan. Agar kita tahu, itu pernah terjadi, di masa lalu.

Ia berdiri dan masuk ke dalam rumah. Langkahnya melambat. Tidak berat tapi tidak juga ringan.

Di dapur, ia membuka lemari. Mengambil singkong. Sisa beberapa hari lalu.

Lihat selengkapnya