BAGIAN IV AKTIVIS DADAKAN
Pesan itu datang tanpa suara.
Tidak ada tanda bahwa ia membawa sesuatu yang seharusnya berat. Tidak ada getaran yang berubah. Hanya satu notifikasi kecil yang menyelip di antara pesan-pesan remeh—diskon, pengingat, hal-hal yang hidupnya sendiri tidak pernah benar-benar membutuhkan.
Justru di situlah keanehannya.
Hal-hal yang merobek hidup sering datang dengan cara yang paling tidak sopan: biasa saja.
Kurnia membuka layar. Membaca.
“Dana santunan telah diproses.”
Ia tidak bereaksi. Matanya berhenti pada kata terakhir.
Diproses. Bukan diterima. Bukan selesai. Bukan sesuatu yang bisa dipegang atau dipastikan.
Diproses—kata yang berjalan tanpa kaki, bergerak tanpa pernah tiba. Ia membacanya lagi. Kali ini, lebih lambat. Mungkin ia berfikir, dengan memperlambat waktu, bisa memaksa kalimat itu berubah menjadi sesuatu yang lebih jujur.
Tapi tidak.
Kalimat itu tetap berdiri—kering, netral, dan entah bagaimana terasa sebagai kebohongan yang disusun dengan tata bahasa yang sangat rapi.
Kurnia meletakkan ponselnya dengan hati-hati. Bagaikan meletakkan sesuatu yang tidak ingin diakui sebagai miliknya. Tidak ada lega. Tidak ada marah. Hanya perasaan asing—seolah kehilangan sedang diperas, dan yang tersisa bukan air mata, melainkan angka.
***
Beberapa hari kemudian, ia mendapatkan undangan.
Gedung itu berdiri di tengah kota seperti seseorang yang telah terlalu lama dipuji hingga percaya bahwa dirinya memang lebih penting dari yang lain, semacam penyakit psikologis. Tubuhnya dibungkus kaca dan baja. Langit terpantul di setiap sisinya, menciptakan ilusi keluasan dan keterbukaan.
Namun keterbukaan yang dipamerkan sering kali berbeda dengan keterbukaan yang sesungguhnya.
Ada banyak hal di dunia ini yang tampak transparan dari luar, tetapi menyimpan lorong-lorong rahasia di bagian terdalamnya. Dan entah mengapa, tempat itu memberi kesan demikian sejak pandangan pertama.
Ketika ia melangkah masuk, suhu udara langsung turun beberapa derajat.
Dingin.
Dingin yang terukur.
Dingin yang seakan telah dirancang dengan presisi agar tidak terlalu menusuk, tetapi cukup untuk membuat setiap orang menjaga jarak. Ia teringat pada orang-orang yang terbiasa hidup di balik jabatan dan formalitas. Mereka berbicara dengan sopan, tersenyum dengan tepat, bahkan menawarkan bantuan bila diperlukan. Namun selalu ada lapisan tipis yang tak pernah benar-benar terbuka.
Udara di gedung itu terasa persis seperti itu.
Sopan.
Bersih.
Profesional.
Dan anehnya, justru karena itulah ia terasa begitu asing.
Kurnia duduk di ruang tunggu. Kursi-kursi tersusun rapi, terlalu patuh pada garis. Tidak ada yang melenceng. Tidak ada yang salah tempat.
Duka, ia pikir, pasti tidak akan betah di ruangan semacam ini.
Tak lama kemudian, Namanya dipanggil.