Kurnia tertawa kecil. Tawa itu tidak keras. Tidak panjang. Tapi lebih jujur daripada angka-angka di dalam gedung tadi.
Gedung bank yang ditunjuk maskapai itu berdiri dengan wajah kaca yang terlalu licin—enggan menyimpan apa pun, hanya memantulkan langit tanpa pernah benar-benar membiarkan cahaya masuk.
Dari luar, ia tampak bersih. Seperti sesuatu yang tidak mengenal sejarah.
Begitu pintu otomatis terbuka, udara dingin langsung menyentuh kulit— cukup untuk membuat tubuh refleks menegakkan diri. Seakan-akan setiap orang yang masuk harus menyesuaikan sikapnya, sebelum dilayani.
Seorang petugas keamanan berdiri di sisi pintu. Seragamnya rapi. Sepatu mengilap. Senyumnya terlatih—tidak terlalu lebar, tidak terlalu datar.
“Selamat pagi, Bapak … Ibu … ” sapanya, suara tenang, bersih.
“Silakan, kalau ada keperluan bisa saya bantu arahkan.”
Aku mendekat sedikit.
“Kami mau pencairan dana santunan dari maskapai,” kataku.
Ia mengangguk pelan. Tidak terburu-buru. Seolah setiap nasabah memang layak mendapat waktu.
“Baik, Pak. Untuk pencairan dana, silakan ambil nomor antrean di mesin sebelah kanan.”
Tangannya mengarah halus—tidak menunjuk, hanya mengantar arah.
“Setelah itu, bisa menunggu di area duduk. Nanti akan dipanggil sesuai nomor, ya Pak.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang tetap sama lembutnya:
“Kalau ada yang ingin ditanyakan selama menunggu, kami siap membantu.”
Aku mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Ia sedikit membungkuk.
“Dengan senang hati, Pak.”
Sapaan itu sederhana, tapi terasa sebagai sesuatu yang sudah dilatih bertahun-tahun. Sederhana namun jelas tidak mudah.
Aku dan Kurnia duduk di kursi logam.
Nomor antrean di tangan: A-127
Di layar: A-103
Selisih yang tidak besar, tapi terasa panjang. Di ruangan itu, waktu tidak berjalan.
Ia hanya berpindah. Dari satu nomor ke nomor berikutnya.
Suara mesin antrean berbunyi pelan.
“Nomor A-104, silakan ke loket 3.”
Nada suara perempuan itu netral. Tidak hangat. Tidak juga dingin. Hanya menjalankan fungsi.
Aku melirik ke samping. Seorang ibu paruh baya duduk dengan map tebal di pangkuannya.
Tangannya menggenggam erat ujung map itu—seolah jika dilepas, sesuatu di dalamnya bisa ikut hilang. Aku tidak menyalahkannya jika pun ia memiliki pemikiran bahwa tidak ada seorangpun yang layak dipercaya di sekitarnya, terlebih jika orang itu berseragam.
“Nomor berapa, Bu?” tanyaku.
Ia menoleh sebentar.
“A-110,” jawabnya singkat.
Aku tersenyum.
“Wah berarti kita masih punya waktu untuk berpikir atau mungkin tidur sebentar.”