HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #17

Bab 17 Ketika Diam Tidak Lagi Cukup

Lampu di sudut kamar berpendar dengan sabar, seperti seseorang yang tidak pernah lelah menanti sesuatu yang tak akan kembali.

Suara gesekan besi yang beradu dengan aspal terdengar dari jalan depan, suaranya menyayat lalu hilang, meninggalkan jejak tipis di udara. Angin menyentuh daun—tipis, nyaris seperti rahasia yang dibisikkan lalu ditarik kembali sebelum sempat dimengerti.

Segalanya bergerak. Segalanya hidup. Kecuali satu hal, yang justru paling gaduh. Di dalam kamar itu, sesuatu berdenyut tanpa bentuk.

Kurnia duduk di tepi tempat tidur. Punggungnya sedikit membungkuk, ada beban yang tidak terlihat tapi menekan dari dalam. Separuh wajahnya tenggelam dalam bayangan, separuh lagi tampak milik orang yang sedang berusaha bertahan dari sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.

Di tangannya, ponsel itu terasa asing. Bukan karena benda itu berubah—tapi karena malam ini, ia tidak lagi sekadar alat. Ia menjadi pintu. Sebuah aplikasi sudah terbuka sejak tadi. Layar putih, terasa sebagai ruang yang terlalu luas untuk diisi oleh satu manusia saja.

Tidak ada kata. Tidak ada rencana. Tidak ada struktur. Hanya sesuatu yang menekan dari dalam dada—bukan sekadar sedih, bukan pula sekadar marah. Lebih padat dari itu. Lebih gelap, mirip sesuatu yang lama dipendam hingga kehilangan nama.

Kurnia memperhatikan layar itu. Ia mungkin berharap kata-kata akan muncul dengan sendirinya, sebagaimana embun yang jatuh tanpa suara. Tapi tidak ada yang datang. Yang ada hanya ingatan, pecahan-pecahan kecil yang tidak pernah benar-benar pergi.

Suara. Potongan wajah. Dan senyap yang datang setelahnya.

Napasnya tertahan sebentar. Jempolnya bergerak sedikit, lalu berhenti. Bergerak lagi. Ragu. Sebagaimana seseorang yang berdiri di tepi jurang yang dalam untuk dilihat dasarnya. Lalu akhirnya, ia tidak lagi mencoba berpikir. Ia hanya menarik sesuatu dari dalam dirinya. Gelap dan jujur.

Satu kalimat muncul di layar. Perlahan. Seolah setiap huruf harus melewati sesuatu yang berat sebelum bisa keluar:

“Ayah dan ibu saya tidak meninggal untuk menjadi angka.”

Jempolnya berhenti. Kalimat itu menggantung di sana. Sendirian. Terlalu tegas untuk malam yang selembut ini. Terlalu besar untuk seorang yang selama ini memilih diam.

Ia memperhatikan dengan seksama. Ia merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.

Ada rasa takut. Ada ragu. Ada keinginan untuk menghapus semuanya dan kembali menjadi tidak terlihat. Tapi di balik itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang kecil, tapi keras kepala.

Kalimat itu mungkin terlalu berani. Telanjang dan nyata. Tapi justru karena itu, ia terasa benar dan tak terbantahkan.

Dan setelah sekian lama, Kurnia menyadari: yang paling berat bukanlah kehilangan. Melainkan, membiarkannya dilupakan.

Ia membaca ulang. Dadanya terasa sesak. Bukan karena ragu. Tapi karena akhirnya, ia mengatakan sesuatu yang selama ini hanya berputar di dalam kepala.

Ia mulai mengetik lagi. Tidak rapi. Kalimatnya meloncat-loncat, sebagaimana pikirannya.

Tentang hari di bandara.  Tentang formulir yang harus diisi sebelum siap kehilangan.

Tentang petugas yang lebih sibuk dengan formulir daripada wajah.

Tentang kamera yang datang sebelum air mata jatuh ke pipi.

Tentang angka santunan yang mengecil sebelum benar-benar sampai yang dituju.

Tentang nomor antrean yang menggantikan nama.

Jarinya tidak berhenti. Seolah-olah jika ia berhenti, semua yang sudah keluar akan kembali masuk. Dan ia tidak ingin itu terjadi lagi. Sesekali ia menghapus satu kata. Lalu menulis lagi.

Lihat selengkapnya