Kurnia membaca. Tidak semua, tapi sudah cukup. Cukup untuk merasakan, bahwa ini bukan lagi sekadar perbedaan pendapat. Ini serangan balik.
Undangan datang bergiliran tanpa jeda. Awalnya satu. Lalu dua.
Lalu bertambah begitu cepat—hingga ponsel Kurnia tidak lagi terasa sebagai alat komunikasi, tapi lebih sebagai pintu yang terus diketuk dari berbagai arah.
Email.
Pesan WhatsApp.
Telepon.
Semua dengan nada yang hampir sama:
“Mas Kurnia, kami ingin mengundang … ”
“Kami tertarik dengan tulisan Anda … ”
“Kami ingin memberi ruang untuk suara Anda … ”
Ruang. Kata itu muncul berulang. Tapi Kurnia mulai merasa, bukan ia yang diberi ruang. Melainkan ia yang sedang dimasukkan ke dalam ruang-ruang yang sudah disiapkan.
***
Acara pertama di kampus. Aula tidak terlalu besar. Kursi disusun rapi.
Banner terbentang di belakang panggung:
“Diskusi Publik: Suara Korban dan Transparansi Sistem”
Namanya ada di situ. Dicetak. Lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia berdiri di belakang panggung, menatap banner itu. Terasa melihat dirinya, dari luar.
“Mas, siap ya?” tanya panitia.
Ia mengangguk. Meski dalam dirinya, tidak ada yang benar-benar siap. Lampu sorot menyala ketika ia duduk di kursi pembicara. Terang dan menyilaukan sehingga sanggup menghapus bayangan di wajahnya.
Moderator memulai. Suaranya penuh energi. Terlalu hidup untuk topik yang dibahas.
“Hari ini kita kedatangan seseorang yang tulisannya mengguncang publik.”
Kurnia menunduk sedikit. Tidak nyaman dengan kata itu. Mengguncang. Seolah ia sengaja melakukannya.
“Ini Kurnia,” lanjut moderator,
“yang sekarang dikenal sebagai suara korban.”
Kalimat itu menggantung di udara. Beberapa orang mengangguk. Banyak yang bertepuk tangan. Tapi di dalam dada Kurnia, ada sesuatu yang bergeser.
Suara korban. Hanya menjadi peran, yang harus dijalankan. Ia bukan lagi hanya Kurnia. Ia sudah menjadi sesuatu yang lain.
“Mas Kurnia,” kata moderator,
“bagaimana perasaan Anda sekarang?”
Pertanyaan lama dengan intonasi baru. Di ruang baru, penuh penonton. Dengan lampu dan penuh ekspektasi.
Kurnia menatap ke depan. Barisan wajah-wajah yang tidak ia kenal. Beberapa serius. Beberapa penasaran. Beberapa tampak mengarahkan layer ponsel ke arahnya. Beberapa hanya menunggu sesuatu yang bisa mereka bawa pulang.
“Masih sama,” jawabnya.
Beberapa orang tersenyum kecil. Bukan karena lucu, tapi karena tidak tahu harus merespons apa.
Moderator mencoba menambal.
“Maksudnya?”
Kurnia mengangkat bahu sedikit.
“Kalau kehilangan bisa selesai hanya karena saya bicara di sini … mungkin saya akan menjawab berbeda.”
Kali ini lebih berat. Tidak semua orang nyaman dengan kejujuran. Bahkan belakangan ini, kejujuran terasa asing di sekitar kita. Meski begitu beberapa juga tampak bertepuk tangan seolah setuju dengannya.
Diskusi berjalan. Pertanyaan datang, ada yang bertanya tentang sistem. Yang lain bertanya tentang transparansi, dan juga tentang hak-hak para korban serta ahli warisnya.
Kurnia menjawab, bergantian dengan pembicara lain. Sejujur yang ia bisa. Sebanyak yang ia pahami, bukan dengan banyek teori. Tapi berdasarkan peristiwa yang memang ia alami. Tapi perlahan, ia mulai menyadari sesuatu. Setiap jawabannya, dipakai. Ditarik. Bahkan dihubungkan dengan agenda yang lebih besar.
Seorang pembicara lain menimpali: