BAGIAN V TITIK JENUH
Aku sepakat. Karena aku tahu—di tengah dunia yang ramai ingin mendengar, yang paling mudah hilang justru suara sendiri.
Malam ini, Kurnia duduk di teras. Ia butuh ruang yang tidak diberikan oleh rumahnya sendiri.
Jalan di depan rumah lengang. Aspalnya gelap, menyerap hampir semua terang. Di kejauhan, lampu jalan menyala pucat, dikelilingi lingkaran kerumunan serangga yang berputar tanpa arah.
Suara pedagang sate lewat. Sebentar, lalu hilang. Ada detak yang hampir tidak terdengar: jam dinding di dalam rumah, gesekan kecil kabel listrik di tiang, dan sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak berasal dari luar.
Kurnia duduk tanpa banyak bergerak. Punggungnya sedikit condong ke depan, siku bertumpu di lutut, tangan menggantung longgar seolah kehilangan arah. Lampu kecil di atas pintu menyala redup—cukup untuk membelah wajahnya menjadi dua: terang dan bayangan.
Aku duduk di sampingnya. Tidak langsung bicara. Karena ada jenis kelelahan yang tidak bisa ditembus dengan pertanyaan.
“Kamu masih ingin lanjut?” tanyaku akhirnya.
Ia menggaruk-garuk kepalanya. Melihat ke jalan yang gelap—seolah di sana ada sesuatu yang sedang ia kejar, atau justru sesuatu yang sedang mengejarnya.
“Tadinya aku cuma ingin jujur,” katanya.
Suaranya lebih tenang dari yang kuduga. Bukan karena ringan, tapi karena sudah melewati banyak hal di dalam kepala.
“Aku tidak pernah ingin jadi, ini.”
Aku menoleh.
“Ini apa?”
Ia tersenyum kecil. Pahit.
“Simbol.”
Kata itu jatuh pelan. Tapi tidak pecah. Ia tetap utuh—dan justru karena itu, terasa lebih berat.
Aku tidak mencoba mendebat. Karena aku mengerti, itu bukan keluhan. Itu kesadaran.
“Kamu mau berhenti sekarang?” tanyaku.
Ia menggeleng. Pelan. Hampir tidak terlihat.
“Aku bingung om,” suaranya terdengar gelisah.
“Atau kamu takut?” Jawabku.