Ketukan di pintu terdengar lirih untuk dianggap biasa, dan terlalu terukur untuk dianggap kebetulan. Bukan seperti tamu yang datang mengetuk, melainkan seperti sosok yang telah hafal ritme pintu—tahu kapan harus tampak wajar, kapan harus menyelinap tanpa meninggalkan tanya. Kurnia menoleh. Keraguan itu tidak lahir dari pikirannya, melainkan dari sesuatu yang lebih tua, lebih dalam—sejenis getaran yang tidak meminta izin untuk dipercaya. Tangannya tetap bergerak membuka. Ia tahu, setiap celah yang ia beri bukan sekadar akses, melainkan kemungkinan kehilangan atas makna yang selama ini ia jaga.
Dua orang berdiri di ambang pintu, senyum tipis terpasang rapi, bukan karena hangat, tapi karena sudah terlalu sering ditampilkan. Salah satu mengangkat kantong kertas berisi roti, aroma hangatnya segera memenuhi udara, tapi anehnya tidak terasa mengundang—justru lebih mirip sesuatu yang mencoba menutupi bau lain yang tidak ingin dikenali. Di dapur, ketel mendidih sejak tadi, uapnya mulai menebal, bagaikan kabut yang pelan-pelan menghapus batas antara yang jelas dan yang tersembunyi.
“Pagi, Mas Kurnia,” ucapnya halus, terlalu halus untuk percakapan yang belum dimulai. “Kami singgah sebentar. Ada titipan roti dari kantor.”
Kurnia menerima kantong itu dengan ragu. Tangannya sedikit bergetar—bukan karena beratnya, tapi karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Roti masih hangat. Tapi di telapak tangannya, hangat itu tidak sampai. Hanya terasa padat. Dingin. Terasa sebagai benda yang menyimpan maksud lain.
Mereka melangkah masuk tanpa benar-benar menunggu izin. Seolah pintu yang terbuka tadi bukan undangan, tapi konfirmasi. Cahaya pagi memantul di meja, membelah ruangan secara tegas, dan bayangan yang terasa lebih aman karena menyembunyikan.
“Begini, Mas,” suara salah satu terdengar tetap lembut, tapi kini lebih rendah, lebih dekat.
“Kami dari kantor APH.”
Kalimat itu tidak dijelaskan. Tidak diperpanjang. Dibiarkan menggantung, seperti sesuatu yang tidak perlu dijelaskan karena seharusnya sudah dipahami. Namun Kurnia langsung paham karena seragam yang mereka kenakan sudah mewakili seluruhnya.
Sebelum Kurnia sempat merespons, yang lain menimpali, nada suaranya masih dijaga, tapi kini terasa lebih mengunci, “kedatangan kami dengan niat tulus, hanya ingin mengingatkan… kadang kata-kata di media sosial bisa disalahpahami. Lebih baik hati-hati, supaya tidak menimbulkan persoalan.”
Senyum tetap ada. Roti tetap di meja. Tapi udara berubah. Tidak lagi sekadar sempit, melainkan terasa menekan dari segala arah.
Kurnia tahu. Ini bukan kunjungan. Ini penandaan.
Tidak ada ancaman yang diucapkan. Tidak ada kata keras. Tidak ada nama yang disebut. Tapi justru karena itu, semuanya terasa lebih dekat. Lebih personal. Lebih tidak bisa dihindari.
Kurnia tidak langsung bereaksi. Ia menyimak. Mengukur. Menahan sesuatu yang hampir muncul. Lalu mengangguk pelan.
“Saya memahami maksud bapak. Namun saya tidak berkenan menerima oleh-oleh ini. Silakan dibawa kembali.”
Ia menyodorkan kantong itu. Pelan. Tapi tegas.
“Ini tidak ada maksud yang lain. Hanya tanda ketulusan dari kami. Terimalah.”
“Tidak.” Kali ini lebih jelas. “Sekali lagi, saya tidak bisa menerima. Dan mohon maaf jika sudah tidak ada keperluan lain, saya ada perlu di kampus sehingga akan segera bersiap. Mohon dimaklumi.”
Ada jeda. Sangat singkat. Tapi cukup untuk terasa.