Hari itu tidak benar-benar dimulai.
Tidak ada jam yang terasa pagi. Tidak ada garis tegas yang membedakan antara malam dan siang.
Kurnia masih di tempat yang sama. Duduk di kursi meja belajarnya. Ponselnya di meja. Mati. Bukan kehabisan baterai. Sengaja dimatikan. Ia benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia luar.
Rumah yang sepi semenjak kehilangan dua orang tua Kurnia, kini bahkan terasa lebih sunyi.
Aku berdiri di dapur. Membiarkannya. Tidak bertanya. Tidak mengajak bicara. Karena ada jenis diam—yang tidak boleh dipaksa menyerah.
Di meja ruang tamu, sebuah bingkai foto berdiri. Sudah lama di sana. Tidak dipindah. Tidak disentuh. Foto itu sederhana : ayah dan ibunya. Berdiri berdampingan. Tersenyum. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihatnya, mengerti bahwa itu rumah.
Kurnia tidak menatapnya sejak pagi. Atau mungkin, ia sengaja tidak menatap. Tapi sesuatu dalam dirinya, perlahan menarik. Bagaikan magnet yang tidak terlihat. Akhirnya, ia berdiri. Langkahnya tidak tergesa. Tidak juga ragu. Ia mendekat. Berhenti tepat di depan foto itu. Memperhatikannya cukup lama. Tidak berkedip. Merasa takut—kalau ia mengalihkan pandangan sedikit saja—wajah-wajah itu akan hilang.
Tangannya terangkat. Menyentuh lembut bingkai. Ujung jarinya berhenti di kaca. Licin. Tidak ada tekstur. Tidak ada kehangatan. Ia menekan sedikit, sekedar ingin memastikan—bahwa mereka masih di sana.
“Terlalu cepat,” katanya lirih.
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Terlalu cepat kalian pergi.”
Tidak ada tangisan. Belum. Hanya napas yang mulai berubah. Sedikit demi sedikit. Menjadi lebih pendek. Lebih berat. Setiap tarikan udara terasa seperti harus melewati celah yang semakin sempit di dalam dadanya.
"Aku belum selesai," lanjutnya.
Suaranya pecah. Bukan karena ia sengaja berhenti. Kata-kata itu hanya gagal mencapai ujungnya. Ada sesuatu yang menghalangi di antara pikirannya dan mulutnya, sesuatu yang selama ini diam tetapi tiba-tiba menjadi terlalu besar untuk dilewati.
Ia menelan ludah. Gagal mengusir sesak yang mulai merayap naik. Dan di situlah sesuatu mulai runtuh. Bukan runtuh yang dramatis. Tidak ada ledakan emosi. Tidak ada suara yang menandai batas antara sebelum dan sesudah.
Ia datang perlahan. Layaknya tanah di tebing yang kehilangan pijakan setelah terlalu lama menahan beban. Sedikit demi sedikit lapisannya bergeser. Hampir tak terlihat. Sampai pada satu titik, tidak ada lagi yang cukup kuat untuk menahannya tetap utuh.