“Mas Kurnia, perkenalkan… saya Affra.”
“Oh, ya? Mas dari mana?”
“Saya dari LSM Bhakti Bangsa.”
“LSM?”
“Kami biasa mendampingi korban persoalan struktural, memberi ruang agar suara mereka tidak hilang.”
“Begitu … ”
Itulah
percakapan pertama kami—terutama antara Kurnia dan Affra—di kantor maskapai.
Aku tidak lagi ingat persis tanggalnya, hanya atmosfernya: sebuah pertemuan
yang sederhana, namun sejak awal terasa membawa arah baru.
***
Namun siang ini Affra bertamu.
Hari itu tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya. Atau setidaknya, begitulah rasanya.
Kurnia duduk di ruang tengah.
Tidak membaca. Tidak menulis. Tidak juga memikirkan sesuatu yang jelas.
Aku berada tidak jauh darinya. Tidak berbicara. Karena kami sama-sama tahu, tidak semua hal perlu diisi dengan kata. Tapi Kurnia sudah paham bahwa pamannya ini akan selalu mendukungnya.
Ketukan itu datang pelan. Tidak tergesa. Aku berdiri, membuka pintu. Seorang laki-laki berdiri di sana. Usianya sulit ditebak—tidak tua, tidak muda.
Kemejanya sederhana. Tidak terlalu rapi, tapi juga tidak berantakan. Tatapannya tenang. Tidak mengamati secara terang-terangan, tapi juga tidak menghindar.
“Selamat siang, Pak,” katanya.
Nada suaranya datar, tapi tidak dingin.
Aku tidak langsung menjawab.
“Saya Affra,” lanjutnya.
“Dari komunitas bantuan hukum. Kita pernah bertemu di kantor maskapai beberapa waktu lalu..”
Aku mengangguk. Aku masih ingat pria ini.
Ia belum melanjutkan. Hanya berdiri—seperti seseorang yang datang bukan untuk menawarkan sesuatu, tapi memastikan dirinya diterima atau tidak.
“Saya ingin bertemu dengan Kurnia,” katanya kemudian.
“Tapi kami belum membuat janji. Juga tidak ada yang mendesak.”
Aku membuka pintu lebih lebar.
“Masuk saja,” kataku.
Ia mengangguk. Masuk dengan langkah yang tidak meninggalkan kesan.
Ia duduk berhadapan dengan Kurnia. Tidak langsung berbicara. Hanya duduk.
Baru kali ini sejak peristiwa kecelakaan pesawat itu, ada seseorang benar-benar duduk tanpa mencoba mengisi ruang dengan penjelasan.
Tidak canggung. Tapi juga tidak nyaman.
Affra melanjutkan—pelan, memilih kata yang tidak akan mengganggu.
“Kami tidak datang untuk meminta Mas bicara.”
Ia sekilas berhenti.