BAGIAN VI TUBUH YANG TIDAK LAGI SAMA
“Akhirnya aku mengerti, hidup tidak kembali seperti dulu. Tidak akan pernah.”
Pagi itu tidak sekadar menyerupai pagi-pagi sebelumnya. Ia datang dengan ketenangan yang terlalu rapi, utuh—tampaknya sesuatu yang telah disusun lebih dulu sebelum sempat terjadi.
Semesta tetap menjalankan perannya dengan presisi yang mengganggu. Suara kendaraan lewat pada jarak yang bisa diprediksi. Langkah kaki terdengar dengan pola yang berulang. Bahkan burung-burung di kejauhan seolah berkicau dalam urutan yang terlalu konsisten, mirip rekaman yang diputar ulang tanpa cacat.
Namun justru di dalam keteraturan nyaris sempurna itu, ada sesuatu yang tidak bisa ikut diselaraskan. Di dalam diri Kurnia, sebuah pergeseran terjadi—tidak tampak, tidak terdengar. Bukan perubahan yang datang dengan suara keras, bukan pula keputusan yang lahir dari pertarungan panjang. Ini adalah perpindahan yang sunyi: sesuatu yang selama ini bersarang di satu sudut batin, perlahan bergeser ke ruang lain, tanpa meminta izin, tanpa meninggalkan jejak yang bisa diikuti.
Ia tidak tahu persis kapan itu dimulai. Tidak ada momen yang bisa ditunjuk sebagai awal. Tidak ada kalimat yang bisa dijadikan penanda. Hanya ada perasaan samar—bagaikan bayangan yang tiba-tiba tidak lagi menempel pada dinding yang sama.
Dan karena itu, pagi itu terasa ganjil dengan cara yang paling halus. Segala sesuatu tampak sama, namun justru dalam kesamaan itulah muncul perbedaan yang tidak bisa dijelaskan. Sebuah keheningan yang bukan sekadar ketiadaan suara, melainkan kehadiran sesuatu yang baru, yang belum memiliki bentuk, tapi sudah cukup nyata untuk mengubah cara dunia dirasakan.
Ia bangun dari tidur nyenyaknya. Duduk di tepi tempat tidur. Ia menarik napas. Dalam. Lalu menghembuskannya perlahan, seperti seseorang yang sedang memastikan dirinya masih ada.
Tidak ada dorongan untuk meraih ponsel. Tidak ada rasa ingin tahu yang mendesak. Dunia di luar—dengan segala kebisingannya—tidak lagi menekan dari dalam kepalanya. Ia merasa jarak telah tercipta. Jarak yang tidak ia sadari kapan mulai terbentuk.
Di meja, laptop menatapnya dengan layer terbuka. Benda yang setia menemaninya mencurahkan isi hati. Ia sempat mengetik halaman pertama. Satu kalimat. Tidak bertambah. Tidak berkurang. Tidak berubah.
Aku tidak mau bicara untuk semua orang.
Kalimat itu tidak tampak besar. Tapi ia seperti sesuatu yang telah menunggu—lama—untuk akhirnya diakui.
Kurnia duduk di depan laptop yang sedang dalam mode off. Tidak membaca, tapi masuk ke dalamnya. Beberapa detik terasa lebih panjang dari seharusnya. Lalu ia memencet tombol enter untuk menyalakan layarnya.
Kosong.
Kosong yang tidak menakutkan. Kosong yang justru memberi kemungkinan.
Tangannya berada di atas keyboard. Menyentuh ujung laptop dengan lembut, menggeser ujung jarinya untuk mengusir debu kecil yang menempel.
Ia tampak tidak ragu. Ia terlihat seperti berdiri di persimpangan yang tidak terlihat—bukan memilih kata, tapi memilih arah hidup yang akan ia izinkan terjadi. Ia mulai mengetik lagi.
“Aku tidak mau kembali,” katanya pelan.
Suaranya tidak keras. Tapi tidak juga rapuh. Aku yang berada di dapur mendengarnya.
Aku masih diam untuk beberapa saat. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang tidak perlu ditanggapi, hanya perlu diberi ruang untuk tumbuh sampai selesai.
Tulisan pertama muncul sebagai langkah pertama di tanah yang belum pernah diinjak.
Satu kalimat.
Lalu satu lagi.
Tidak terburu. Tidak berusaha menjadi apa-apa.
Aku mendekat. Berdiri di belakangnya. Tidak membaca.
Hanya melihat tangannya bergerak—dan untuk pertama kalinya, gerakan itu tidak terasa sebagai usaha, melainkan sudah menjadi kebutuhan.
“Kamu mulai lagi?” tanyaku.
Ia mengangguk. Kecil. Tapi pasti.
“Kali ini beda,” katanya.
“Bedanya apa?”
Ia berhenti. Jari-jarinya tertahan di atas keyboard. Ia menggeser mouse beberapa kali.
Ia melihat ke depan—bukan ke tulisan, tapi ke sesuatu yang lebih jauh, sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya bisa ia jelaskan.