Ketika Hidup Berlanjut, Tapi Tak Kembali.
Kurnia berdiri di tengah ruangan. Tidak bergerak.
Bukan karena bingung. Bukan karena takut. Tapi mirip seseorang yang sedang membiarkan sesuatu meresap sampai dasar—tanpa menolaknya, tanpa juga langsung meresponsnya.
“Jangan mempersulit diri sendiri.”
Lalu:
“Kami hanya mengingatkan.”
Tidak ada ancaman yang eksplisit.
Tidak ada kata kasar.
Tidak ada tekanan yang terlihat.
Tapi justru di situlah letaknya.
Halus. Rapi. Seperti sesuatu yang tidak ingin terlihat sebagai ancaman, tapi tetap ingin dirasakan sebagai batas.
Kurnia melirik sekilas. Hanya sekilas.
Lalu membalik ponselnya. Layar menghadap meja. Ia kembali ke laptop. Mulai mengetik lagi.
Di luar, angin bergerak merayap. Tapi ada suara lain. Ada suara langkah kaki yang berhenti di depan rumah. Tidak mengetuk. Hanya berhenti. Beberapa detik. Lalu pergi.
Aku tidak bergerak. Tidak membuka pintu. Tidak juga mendekat.
Kurnia tetap menulis. Seakan ia tahu, bahwa tidak semua kehadiran harus ditanggapi. Dan tidak semua ancaman datang untuk dijawab.
Tengah malam. Rumah semakin sunyi. Ponsel kembali bergetar. Kali ini lebih sering. Komentar mulai masuk. Tulisan yang baru saja ia unggah—tanpa judul, tanpa provokasi—mulai bergerak.
Bukan dengan cara yang biasa.
Akun-akun baru.
Komentar dengan pola yang mirip.
Nada yang sama.
“Hati-hati.”
“Jangan terlalu jauh.”
“Masih muda, jangan gegabah.”
Lalu yang lebih kasar:
“Sok benar.”
“Cari masalah.”
Dan yang paling halus:
“Kami hanya khawatir.”
Kurnia membaca beberapa. Lalu berhenti. Ia tidak membalas.
Tidak menjelaskan. Tidak meluruskan. Ia mematikan notifikasi. Bukan karena ia kalah. Tapi karena ia memilih, apa yang layak masuk ke dalam dirinya.
Aku bangkit. Mendekat.
“Kur,” kataku.
Ia tidak menoleh. Masih menulis.