HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #26

Bab 26 Berbicara dengan Resiko

Ketika Kejujuran Tidak Lagi Netral

Undangan itu datang tanpa pengantar.

Tidak ada sapaan. Tidak ada kalimat pembuka yang mencoba terdengar hangat. Hanya subjek yang singkat, terlalu singkat untuk sesuatu yang akan mengubah banyak hal:

Forum Diskusi Publik: Transparansi Kompensasi Korban

Pembicara: Kurnia

Isi pesannya tidak lebih panjang dari itu. Tidak ada penjelasan kenapa ia dipilih. Tidak ada pertanyaan apakah ia bersedia. Seolah-olah kehadirannya sudah dianggap pasti, tinggal menunggu ia menyadarinya.

Kurnia membaca sekali. Tanpa ekspresi. Lalu menutup layar ponselnya. Tidak buru-buru menjawab.

Aku melihatnya dari seberang meja. Ada sesuatu dalam caranya diam—bukan ragu, bukan juga takut. Tapi lebih tepat disebut seseorang yang sedang memeriksa ulang batas dirinya sendiri.

“Kamu akan datang?” tanyaku.

Ia mendongak seolah sedang menyerap energi yang ada di sekitarnya. Tangannya justru bergerak merapikan kertas-kertas di depannya, gerakan kecil yang tidak benar-benar merapikan apa-apa.

“Kalau kamu datang … ” kataku mencoba meyakinkan,

“ … ini bukan seperti sebelumnya.”

Ia mengangguk kecil. Masih tanpa kata.

“Ini bukan lagi soal kamu,” lanjutku.

Kali ini ia mengangkat kepala. Menatapku lurus.

“Memang sejak kapan ini cuma soal aku?”

Kalimat itu keluar datar. Tidak meninggi. Tidak menantang. Tapi tepat, dan justru itu yang membuatku tidak punya jawaban. Hening yang mengikuti terasa lebih jujur daripada percakapan mana pun.

Hari itu ia tidak membalas undangan. Ia duduk lebih lama dari biasanya di depan meja. Kertas-kertas masih berserakan dalam susunan yang hanya ia pahami sendiri: lembar perhitungan, fotokopi dokumen, catatan kecil di pinggir yang ditulis terburu-buru.

Angka-angka itu tidak berubah. Tapi cara ia melihatnya, berubah. Ia mengambil satu lembar. Membacanya lagi. Matanya berhenti pada bagian yang sama:

potongan administrasi.

biaya layanan.

pengurangan yang tidak pernah dijelaskan dengan bahasa manusia.

Ia menghela napas. Menutup mata sebentar. Bukan karena lelah. Tapi menjelma seseorang yang sedang memastikan, bahwa yang ia lihat bukan sekadar kesalahan teknis.

“Kalau aku bicara … ” katanya akhirnya, pelan,

“ … aku tidak bisa setengah-setengah.”

Aku tidak tergesa untuk membalas kata-katanya. Karena kalimat itu tidak membutuhkan persetujuan.

Ia hanya menyatakan konsekuensi.

“Dan kalau aku tidak bicara … ” ia melanjutkan,

“ … aku tahu ini akan terus terjadi.”

Ia tidak melihat ke arahku saat mengucapkannya. Seperti ia tidak sedang berbicara padaku—melainkan pada sesuatu yang lebih luas, yang tidak terlihat tapi terasa. Di antara dua pilihan itu, tidak ada yang ringan. Dan justru karena itu, keduanya terasa nyata.

Malam datang tanpa banyak tanda. Kurnia duduk sendirian. Ponselnya di tangan. Ia membuka kembali undangan itu. Membacanya sekali lagi. Kali ini tidak ada jeda panjang.

Ia mengetik: Saya hadir.

Tidak ada tambahan. Tidak ada syarat. Tidak ada upaya menjelaskan. Pesan itu dikirim. Dan sejak detik itu, sesuatu mulai bergerak. Tidak terlihat, tapi pasti.

Hari acara tiba tanpa seremoni. Gedung itu tidak besar. Tapi cukup untuk membuat suara terasa lebih berat dari biasanya.

Kursi disusun rapi dalam barisan lurus. Panggung kecil di depan. Lampu putih yang terang, membuat wajah-wajah terlihat lebih datar—lebih mudah dibaca, tapi juga lebih sulit dipahami.

Di belakang panggung, sebuah banner tergantung:

“Transparansi dan Keadilan untuk Korban”

Kata-kata itu terlalu besar untuk ruangan sekecil itu. Seolah ingin meyakinkan lebih dari yang bisa ditampung.

Kurnia duduk di deretan pembicara. Punggungnya tegak, tapi jemarinya saling mengunci di atas pangkuan. Di kiri dan kanannya, suara-suara yang terbiasa menata dunia dengan kata: aktivis dengan bahasa setajam pisau, akademisi dengan istilah yang dingin dan terukur, perwakilan lembaga dengan kalimat yang aman—setiap kata telah disaring sebelum diucapkan. Tidak ada ruang bagi improvisasi karena semua telah diatur dan ditata sedemikian rupa.

Mereka datang membawa data dan kerangka. Kurnia hanya membawa pengalaman. Sesuatu yang tak bisa dibantah, tapi juga tak mudah dipercaya. Ia tidak datang untuk menjelaskan. Ia datang sebagai bukti.

Moderator membuka acara dengan suara rapi, mengalir tanpa ragu. Tidak ada jeda, dan nyaris tanpa kesalahan. Kalimat-kalimatnya tersusun seperti sesuatu yang sudah terlalu sering diucapkan. Seolah kebenaran bisa diatur lewat intonasi.

Ruangan itu penuh. Udara terasa hangat dan padat. Kurnia menarik napas pelan, lalu menahannya lebih lama dari yang perlu. Sebagian hadirin mengenakan kaos bertuliskan: Lawan! Lawan! Lawan!

Huruf-hurufnya mencolok. Layaknya teriakan yang belum dilepaskan.

Kurnia tetap diam. Rahangnya mengeras sebentar, lalu kembali tenang.

Ia mulai mengerti, keberanian tidak selalu hadir dalam suara yang lantang. Kadang ia justru muncul dalam kesediaan untuk tetap duduk. Tetap diam. Di tengah orang-orang yang merasa berhak menentukan makna atas luka yang tidak mereka miliki.

Moderator memcoba menarik perhatian semua yang hadir.

“Kita perlu melihat persoalan ini secara objektif … ”

“Transparansi adalah bagian dari akuntabilitas … ”

Kalimat-kalimat itu terdengar benar, sampai kehilangan bentuk.

Kurnia tidak benar-benar mendengar. Ia melihat wajah-wajah di depannya. Sebagian serius. Sebagian lainnya tampak penasaran. Sisanya terlihat hanya menunggu sesuatu yang bisa mereka bawa pulang sebagai kesimpulan.

“Mas Kurnia,” kata moderator akhirnya,

“kami persilakan.”

Mic berpindah tangan. Kurnia tidak berdiri.

Ia hanya sedikit memperbaiki posisi duduknya. Menarik napas dengan tenang.

Beberapa detik. Cukup lama untuk membuat ruangan benar-benar senyap—bukan karena diminta, tapi karena semua orang merasa harus menunggu.

Lalu ia mulai:

“Aku tidak datang ke sini sebagai korban.”

Suaranya tidak besar. Tapi jelas.

“Aku juga tidak datang sebagai aktivis.”

Lihat selengkapnya