Kini, menghadiri diskusi bukan lagi sekadar undangan bagi Kurnia—ia telah berubah menjadi semacam ritme yang diam-diam mengatur harinya. Ia berpindah dari satu forum ke forum lain, dari satu ruang ke ruang berikutnya, seakan selalu ada sesuatu yang belum selesai di dalam dirinya, sesuatu yang menuntut untuk terus dicari, terus diucapkan, meski ia sendiri belum sepenuhnya tahu bentuknya. Di setiap forum, wajah-wajah baru datang dan pergi, pertanyaan dilontarkan, jawaban dibangun, lalu runtuh lagi—dan Kurnia tetap berada di tengahnya.
Kadang aku menemaninya. Tidak selalu. Kurnia hampir selalu bersama Affra, atau setidaknya berada di ruang-ruang yang dihubungkan oleh Affra. Ada pola yang tidak langsung terlihat, tapi perlahan terasa: undangan datang, forum tersusun, nama Kurnia disebut, dan ia hadir—seolah semua sudah terhubung jauh sebelum ia sendiri sempat memutuskan.
Aku mulai merasakan bahwa ruang-ruang itu tidak lagi sepenuhnya netral. Diskusi tidak lagi sekadar tempat berbagi, melainkan mulai membawa beban yang tidak terlihat: arah yang terlalu rapi, pertemuan yang terlalu tepat waktu, dan percakapan yang kadang terasa seperti sudah dipersiapkan. Namun sejak kedatangan orang-orang LBH itu, ada sesuatu yang berubah—halus, tapi tidak bisa diabaikan. Karena itu, aku mulai menyarankan—tanpa memaksa—agar Kurnia mengurangi keterlibatan dengan Affra.
Sore ini, ia kembali mendapat undangan. Acara seperti biasa—dimulai menjelang senja, selesai larut malam. Ia tidak banyak bicara sebelum berangkat, hanya memastikan waktunya, lalu duduk sebentar untuk sekedar meredakan groginya. Aku sudah berjanji akan menemaninya.
Aku sempat mengingatkannya untuk membagi informasi kegiatan ini ke Titis, orang LBH itu.
“Jangan lupa chat Titis.”
“Iya om … ”
***
Langit malam itu turut menahan napas. Awan menggantung rendah, menutup bintang, membuat kota tampak menjadi panggung yang terlalu tenang untuk sebuah tragedi. Lampu jalan menyala berderet, memantul di aspal yang masih basah oleh sisa hujan sore, menciptakan kilau samar yang menyerupai bayangan kaca pecah.
Kurnia keluar dari gedung tanpa menoleh, langkahnya mantap namun perlahan, seperti seseorang yang tahu bahwa garis takdir sudah ditarik. Ponselnya bergetar di saku, tapi ia biarkan tetap diam, seakan dunia luar tidak lagi relevan.
Kurnia berjalan ke arah parkiran, melewati deretan kendaraan dengan lampu menyilaukan yang sebentar menelan wajahnya, lalu hilang. Suara mesin, klakson jauh, dan percakapan orang-orang asing menjadi latar yang dingin. Dunia tetap berjalan, seolah tidak ada yang baru saja diucapkan di dalam ruangan diskusi itu.
Aku mengikuti beberapa langkah di belakang. Tidak dekat. Tidak juga jauh.
“Kur,” panggilku.
Ia berhenti. Menoleh.
“Langsung pulang saja,” kataku.
Nada suaraku biasa. Tapi di dalamnya ada sesuatu yang tidak selesai.
Ia mengangguk. Tapi tidak langsung berjalan ke arah kendaraan.
“Aku mau jalan sebentar,” katanya.
“Ke minimarket itu.” Tangannya menunjuk ke arah sebuah minimarket yang tidak jauh.
Kami menyusuri trotoar. Langkah kami terdengar terlalu jelas.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara yang biasanya tidak berarti, kini menjadi penanda—bahwa sesuatu sedang bergerak menuju kami, meski kami belum tahu apa.
Di seberang jalan, lampu kendaraan melintas. Sebentar terang. Lalu hilang.
“Om,” katanya setengah berbisik.
Aku menoleh.
“Kalau tadi aku tidak bicara … ”
Ia berhenti.
“ … apa yang berubah?” Ia berkata sambal memutar badan dan berjalan mundur.
Aku menarik napas.
“Tidak banyak,” kataku.
“Selain kamu.”
Ia tersenyum kecil. Tipis.
Kurnia akan menyeberang jalan. Lampu di sisi itu lebih redup. Bayangan jatuh lebih panjang. Dunia terasa sedikit lebih jauh dari pusatnya. Dan di situlah, sesuatu mulai retak.
Suara mesin muncul dari kejauhan. Biasa. Tapi kemudian, terlalu cepat.