“HENTIKAN INTIMIDASI!”
“USUT TUNTAS!”
“SUARA TIDAK BOLEH DIBUNGKAM!”
Lorong rumah sakit itu tidak lagi mengenal sunyi.
Langkah kaki tidak berhenti—bukan sekadar berjalan, melainkan bagaikan arus yang tidak pernah menemukan hulu. Suara bisik tidak pernah benar-benar hilang—ia berlapis, saling menindih, seperti doa yang diucapkan bersamaan oleh banyak hati. Pintu tidak sempat menutup sepenuhnya sebelum terbuka lagi—seolah ruang itu menolak kesunyian, menolak jeda.
Petugas keamanan berdiri di beberapa titik. Tubuh mereka tegak, disiplin masih terjaga, tetapi wajahnya mulai retak oleh kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Walkie-talkie berderak di tangan mereka, suara masuk bertumpuk—laporan yang saling tumpang tindih, koordinasi yang terburu-buru, permintaan bantuan yang datang tanpa jeda.
“Tambahan personel di pintu barat.”
“Media sudah di luar pagar, jumlahnya bertambah.”
“Mohon tertibkan antrean kerabat, dan teman yang sudah mulai meluber.”
Nada suara itu tidak lagi datar. Ada ketegangan yang menyelinap, tipis tapi nyata— sesuatu nampaknya bisa pecah kapan saja.
Tidak lama, petugas berseragam polisi muncul. Langkah mereka tegas, mencoba menciptakan keteraturan di tengah sesuatu yang mulai kehilangan bentuk. Lalu seragam TNI menyusul.
Lebih sunyi, lebih terukur, tapi kehadirannya justru mempertegas: ini bukan lagi situasi biasa.
Dan di antara mereka—orang-orang tanpa tanda, tanpa nama, tanpa ekspresi.
Mereka tidak berbicara. Tidak memberi instruksi. Hanya berdiri, mengamati, mencatat dalam diam.
Rumah sakit itu perlahan berubah menjadi wilayah yang dijaga. Bukan hanya karena seorang pasien. Tapi karena sesuatu yang lebih besar sedang bergerak—sesuatu yang tidak lagi bisa dikendalikan oleh satu pihak saja.
Ruang tunggu dipenuhi wajah-wajah yang datang silih berganti: keluarga dekat, kerabat jauh, bahkan mereka yang dulu sempat berselisih soal tanah warisan. Ada yang membawa buah, ada yang membawa amplop diselipkan di bawah bantal, ada yang membawa doa, ada pula yang hanya membawa genggaman tangan.
Di samping ranjang Kurnia, seseorang berdiri. Ia bukan orang asing. Kerabat yang dulu paling keras menuntut pembagian tanah.
Kini ia menunduk. Bahunya tidak lagi tegak seperti dulu. Tangannya gemetar saat menyentuh pagar ranjang.
“Kurnia … ” suaranya berhenti sejenak, seolah tersangkut di sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata. Ia menarik napas panjang.
“Tidak ada lagi soal tanah.”
Ia menatap wajah Kurnia—lama, terlihat meminta izin untuk melanjutkan.
“Yang penting kamu pulih.”
Suaranya pecah.
“Kami… bersama kamu.”
Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk semua luka yang pernah terjadi. Tapi justru karena itu, ia terasa benar. Tidak dibuat-buat. Tidak disusun. Seperti pintu lama yang akhirnya ditutup. Bukan dengan suara keras, melainkan dengan keputusan yang tidak lagi ingin membuka kembali.
Tak lama kemudian, wajah-wajah lain muncul. Bukan keluarga. Bukan kerabat. Aktivis. LSM. Wartawan. Mereka datang membawa catatan, kamera, dan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan: keberpihakan.
Hanya satu orang yang sejauh ini tidak datang ke rumah sakit, Affra.
Di ruang tunggu, poster-poster kecil mulai ditempel. Awalnya satu. Lalu dua. Lalu dinding itu perlahan dipenuhi.
“Keadilan untuk Kurnia.”
Tulisan itu sederhana. Tapi mengandung sesuatu yang lebih besar dari tinta. Suara mereka mulai terdengar. Tidak lagi hanya di dalam rumah sakit. Tapi merembes keluar—ke halaman, ke jalan, ke ruang publik yang lebih luas.
Di luar kantor pemerintah, di depan Gedung DPR, pagar tidak lagi cukup membatasi. Orang-orang mulai berkumpul. Awalnya hanya dua. Lalu lima. Lalu dua puluh. Lalu ratusan. Bagaikan air yang menemukan celah, lalu tidak bisa lagi dihentikan.