HARGA DARI SEBUAH SUARA

Desto Prastowo
Chapter #29

Epilog

Sebulan berlalu sejak kecelakaan tragis itu. Itupun jika masih bisa disebut kecelakaan.

Di luar, orang-orang menyebutnya dengan banyak nama—insiden, kelalaian, bahkan pengorbanan. Kata-kata beredar lebih cepat daripada fakta, saling menimpa, saling mengubah makna. Seolah yang diperebutkan bukan lagi apa yang terjadi, melainkan siapa yang berhak menamainya.

Desakan masyarakat meluas. Tidak lagi sekadar diskursus, melainkan tekanan yang terus menggencet aparat penegak hukum untuk menjelaskan peristiwa itu. Pernyataan dikeluarkan, klarifikasi disusun, narasi dibangun. Kebenaran bergerak seperti sesuatu yang bisa dirapikan—dipilih, dipotong, lalu disajikan agar tampak utuh.

Namun aku justru merasakan kelelahan yang tidak bisa dijelaskan oleh tubuh. Ada sesuatu yang terus bergeser, pelan tapi pasti. Dulu aku mengira hal-hal yang tidak masuk akal hanya hidup dalam cerita. Tapi kini aku tahu—di tempat kita lahir, berjalan, dan menyebutnya rumah, kenyataan tidak selalu membutuhkan logika untuk terjadi.

Aku sering duduk lebih lama sekarang. Bukan karena tak ada yang harus dilakukan, melainkan karena terlalu banyak hal yang tak bisa diperbaiki, terlalu banyak yang tak akan pernah kembali ke bentuk semula.

Di kamar itu, Kurnia terbaring. Kadang tidur, kadang menatap langit-langit dengan pandangan panjang, seolah menghitung sesuatu yang tak pernah selesai. Ada luka yang tak bisa disentuh tanpa membuatnya kembali berdarah, dan aku belajar menjaga jarak dari luka itu.

Air mata sudah lama berhenti. Bukan tanda sembuh, melainkan kesadaran bahwa tangis tak akan menutup lubang di hati.

Aku pernah percaya—sebagaimana Kurnia juga pernah percaya—bahwa keberanian adalah jawaban bagi segala hal. Bahwa kejujuran dan keteguhan mampu mengubah dunia. Tapi dunia tidak selalu bergerak sebagaimana kita bayangkan. Kadang ia membisu, kadang membalas dengan cara paling tak terduga. Dan pada satu malam di jalan yang tampak biasa, aku belajar: keberanian tidak selalu membawa kemenangan. Kadang ia hanya memindahkan penderitaan ke bentuk yang lebih panjang, lebih menetap.

Lihat selengkapnya