Brugh!
Beberapa dokumen terjatuh dari meja. Rayhan mengambil dokumen milik Papanya dan menemukan satu dokumen yang menarik perhatiannya.
“Apa ini? Pemesanan Villa? Buat apa?” batin Rayhan. Yang dia tau, sang Papa tidak punya agenda di wilayah sekitar Villa yang tertera.
Tertera nama Andini di dokumen pembayaran itu. Andini? Apakah Andini yang dimaksud adalah wali kelasnya di sekolah? Apakah Papanya punya hubungan spesial dengan Andini sampai harus memesankan sebuah Villa?
“Rayhan, Makanan sudah siap, Le. Ayo makan!” suara Prasetyo dari luar ruangan memecah lamunan Rayhan. Dia buru-buru merapikan dokumen itu sebelum kena marah sang Papa. “Rayhan, kamu dengar suara papa gak sih?”
Prasetyo – Papa Rayhan – mendatanginya dengan wajah yang merah. Rayhan hanya bisa diam dan menatap Papanya dengan wajah yang ketakutan.
“Maaf, Papa. Aku gak sengaja menjatuhkan barang di meja. Aku mau beres-beres ini dulu.” Rayhan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Rayhan, kalo Papa ngomong jangan dibantah! Kalo dengar suara papa, segera menghampiri. Gak sopan seperti itu,” suara Prasetyo membuat Rayhan hanya bisa diam dan mengarahkan kursi rodanya menuju meja makan.
Di tempat makan, terlihat Sari – Mamanya Rayhan – tengah mempersiapkan makanan ditemani seorang asisten rumah tangga.
“Han, ayo makan! Jangan lupa habis ini minum obat yang diberikan dokter. Mbok, obatnya Rayhan udah siap kan?” tanya Sari pada pembantunya dengan suara yang terdengar bergetar. Senyum yang terlihat dipaksakan, tertangkap oleh penglihatan Rayhan. Rayhan tau, kapan Mamanya tersenyum lepas dan terpaksa.
“Sudah, Nyonya. Ada di tempat biasanya ya, Mas,” suara pembantu tidak membuat Rayhan berpaling dari gerak-gerik Mamanya. Terlihat jelas jika sang Mama gemetar saat menyiapkan makanan untuk Papanya.
“Rayhan!” suara Prasetyo membuyarkan lamunan Rayhan. Dia tidak bisa fokus dengan apa yang sedang ada di hadapannya, karena menangkap ada sesuatu yang aneh dalam keluarga ini. “Han, jangan melamun! Makan! Habis ini minum obat.”
“Iya, Pa.” Rayhan tidak bisa membantah. Dia memakan sup kesukaannya ditambah garam yang ada berada tepat di sampingnya. Sepanjang makan, pandangannya tidak bisa lepas dari Sari. Semuanya tidak baik-baik saja. Semuanya tidak ada yang beres. “Mama.”
Suara Rayhan membuat Sari terkejut. Dia tidak bisa berbuat apapun saat Rayhan memanggilnya. “Rayhan, ada apa, Le?”
“Aku yang harusnya tanya, Mama kenapa sih? Mama baru nangis?” tanya Rayhan. Terlihat jelas jika Sarin menghapus air matanya dan membuat Rayhan semakin penasaran. “Mama, baru nangis? Mata Mama merah, dan wajah Mama basah. Kayak orang baru nangis. Tadi, Mama juga gemetar kan waktu nyiapkan makanan buat Papa?”
Terlihat jelas jika Sari gelagapan dan Rayhan semakin dibuat penasaran. Rayhan terus memandang Sari yang masih mencoba tersenyum.
“Le, gak ada yang nangis. Ayo dihabiskan makanannya. Habis ini kamu istirahat. Belajarnya sudah kan?” tanya Sari dan Rayhan terdiam.
“Han, jangan diam dong! Mama tanya tuh,” suara Prasetyo membuat Rayhan tidak bisa berbuat banyak. Tangannya mencengkram besi kursi rodanya dengan begitu kencang.
“Sudah, Ma.” Rayhan tersenyum dan terus mencengkram besi pegangan.
“Han, beneran sudah belajar? Kau belajar serius kan?” tanya Prasetyo. Rayhan hanya tersenyum. “Katanya besok ada penilaian?”
“Iya, Pa. Aku belajar beneran.”
“Ingat ya, nilai kamu harus meningkat. Papa gak mau sampai wali kelas kamu memberi laporan kalo nilai kamu turun,” suara prasetuyo tampak ditekan dan membuat dada Rayhan begitu sesak.
“Iya, Pa.” Rayhan hanya diam dan mengamati kedua orang yang ada bersamanya. Rayhan menghabiskan sup itu dan terus diam mengamati kedua orang tuanya, terutama Mamanya. Tampak jelas, mereka berdua menjalani malam ini seperti orang canggung.
Tidak begitu lama, layar ponsel Prasetyo berbunyi dan layarnya hidup. Rayhan sempat melihat notif yang masuk dan jelas pesan dari seseorang yang bernama Andini.
“Andini lagi? Siapa sih dia?” batin Rayhan. Tertera jelas pesan yang jelas di layar ponsel.