Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #2

pertanyaan Bu Andini (Rayhan)

Rayhan terdiam hingga Sari memasuki ruangan. Rayhan terdiam dan menyadari Mamanya sedang menatapnya.

“Han, udah jam berapa ini? Tidur!”

“Iya, Ma.” Rayhan tidak bisa menjawab dan memilih menuruti apa yang Mamanya perintahkan.

***

Di sekolah saat jam istirahat. Rayhan mengemasi buku pelajarannya dan menyiapkan pelajaran yang akan berlangsung setelah istirahat. Salah seorang temannya langsung duduk dan mengajaknya bicara sesuatu.

“Eh, Rayhan. Aku kemarin lihat Papa kamu di Villa pinggiran kota. Ngapain?” tanya salah seorang teman Rayhan. Rayhan sendiri yang mendengar pertanyaan itu langsung terheran.

“Papaku? Di Villa pinggiran kota?” tanya Rayhan.

“Iya, sama perempuan.”

“Sama Mamaku kali. Kan Mama sering diajak keluar gitu.” Rayhan menanggapinya dengan santai.

“Enggak, Han. Bukan sama Mama kamu. sama perempuan yangb masihb muda. Mirip Bu Dini.”

Deg!

Rayhan terdiam dan menatap temannya yang bernama Alvin. Dia hanya menatap Alvin dengan herannnya.

“Sama Bu Dini? Kau serius?” tanya Rayhan.

“Iya, Han. Orangnya mirip Bu Dini. Kalo gak percaya, tanya David. Aku kemarin sengaja ke rumah David dan mau main bareng. Kami lihat jelas kalo Papa kamu sama orang yang mirip Bu Dini.” Rayhan terdiam sejenak.

“Kalian gak bohong kan?” tanya Rayhan yang semakin penasaran.

“Ngapain juga Alvin bohong? Apa untungnya kami membohongimu masalah ini? Kami melihat jelas, Papa kamu jalan sama Bu Dini. Jelas-jelas itu Bu Dini. Apalagi gandengan dan kayak orang pacaran gitu.” David menimpali. Rayhan diam dan tidak bisa berkomentar apapun.

“Kok aneh ya?” tanya Rayhan.

“Han, kamu kenapa sih? Ada hal yang mengganggu?” tanya Alvin.

“Aku nemuin ini di ruang pribadi Papa.” Rayhan menunjukkan sebuah dokumen yang tidak lai adalah pembayaran sebuah Villa yang dimaksud oleh kedua temannya. Tertera nama Andini di dokumen itu. “Aku gak tau ada hubungannya apa enggak. Tapi, aku belum punya cukup bukti untuk menuduh Bu Dini. Kalo aku salah, nanti Papa marah sama aku. Gimana dong?”

“Han, kau serius bisa masuk ke ruang pribadi Papa kamu?” tanya David. “Hebat benar kau bisa nembus tempat pribadi orang seperti Papa kamu.”

“Sebenarnya aku takut. Aku masuk diam-diam kemarin, itu aja kemarin kena marah. Habisnya, Papa aneh. Masa sih Papa tiba-tiba pergi keluar rumah waktu malam-malam gitu? Kan kalo malam katanya waktu istirahat? Biasanya Papa kan gak pernah kayak gitu.” Rayhan menceritakan semua itu pada teman-temannya.

Sampai akhirnya, cerita itu harus terhenti saat bel berbunyi. Mereka harus mengikuti pelajaran seperti biasa.

Hari itu berjalan layaknya hari yang lain. Rayhan dan teman-temanya menghabiskan waktu di sekolah dengan belajar, bermain dan diselingi canda juga tawa. Sampai akhirnya jam pelajaran berakhir.

Rayhan hanya bisa diam di tempatnya duduk sambil mengemasi barang-barangnya. Seperti biasa, Rayhan akan keluar dari ruangan saat teman-temannya sudah keluar semua.

“Rayhan, belum pulang?” tanya Andini dengan senyum. Rayhan diam sejenak mengamati wanita yang tidak lain adalah wali kelasnya. “Biasanya, kamu dijemput. Beum dijemput ya?”

“Belum. Habis ini dijemput.”

“Dijemput siapa? Sama sopir Papa kamu apa dijemput Papa?”

“Biasanya dijemput Mama.” Rayhan terus mengamati wanita itu hingga detail. Terlihat jelas, Andini canggung saat bicara dengan Rayhan. “Bu Dini, ada apa? Kok kayak orang salting gitu? Ada apa sih?”

“Eh, gak ada apa-apa kok. Han, boleh Ibu tanya sama kamu?”

Lihat selengkapnya