Andini terdiam di ruang kelas yang sudah kosong. Semua siswanya sudah keluar ruangan. Andini tertegun sambil menatap Rayhan yang baru saja keluar dari ruangan itu. Suara kursi roda itu, membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada perasaan aneh yang hinggap di benaknya, saat melihat muridnya yang terkenal dengan kecerdasannya, keluar dari ruangan itu dengan senyuman layaknya bocah seusianya.
Dia ingat, apa yang semalam dia lakukan dengan Prasetyo. Dia meminta Prasetyo datang tanpa mengajak satupun keluarganya, terutama Rayhan. Dia tidak ingin muridnya ini tau jika memang ada sesuatu antara dirinya dan Papa Rayhan.
“Bagaimana kalo Rayhan tau tentang apa yang terjadi antara aku dan Papanya? Apa aku masih bisa jadi guru yang dia banggakan?” batin Andini. Andini berjalan mendekati Rayhan yang sedang terdiam di halaman kelas. Andini tau, biasanya Rayhan menunggu jemputan dari orang tua atau orang yang memang diminta menjemputnya. “Han, belum pulang?”
Rayhan menoleh dan kembali memberikan senyuman. Senyuman itu keluar begitu saja dan membuat Andini semakin merasa beralah. Mereka berbincang hingga akhirnya pertanyaan demi pertanyan terlontar.
“Bu Dini, kok tanya sampai sejauh itu sih?” tanya Rayhan dan berhasil membuat Andini sadar. Pertanyaan itu tidak selayaknya ditanyakan oleh orang luar seperti dia.
“Han, Ibu minta maaf ya, kalo pertanyaan itu membuatmu gak nyaman.”
“Ibu, ada perlu apa sama Mama dan Papa?” tanya Rayhan. Pertanyaan itu diikuti dengan tatapan Rayhan dengan penuh curiga.
“Gak ada kok.”
“Jam tangan Ibu baru ya?” tanya Rayhan yang menatap jam tangan yang dia kenakan hari ini. Andini semakin gugup saat Rayhan menatap dan memegang benda yang dia kenakan.
“Eh, enggak.”
“Bu, jam tangannya persis seperti yang pernah Papa belikan buat Mama. Sampai sekarang jam tangan itu masih Mama pakai waktu keluar. Sama kayak yang Mama punya.” Rayhan menatap jam tangan itu dengan seksama.
“Mungkin kebetulan saja. Kebetulan, jam tangan Ibu dan Mama kamu sama merknya.”
“Tapi, yang saya tau, jam tangan itu keluaran terbaru dari pabriknya. Papa bilang, baru tiga bulan keluar, dan Papa dapat itu saat ulang tahun Mama. Kalo Papa bilang, harga jam tangannya mahal. Gak bisa dibeli sembarang orang.” Rayhan terlihat semakin curiga. Andini gugup dengan tatapan itu. “Bu Andini, dapat jam tangan itu dari siapa? Ibu, bisa beli jam tangan ini sendiri?”
“Ini, diberi saudara.”
“Saudara? Saudaranya Bu Andini ada yang bisa beli jam tangan seperti ini?” tanya Rayhan. Andini gemetar. Dia tidak menyangka jika Rayhan tau informasi tentang apa yang dia kenakan.
“Bisa jadi.” Andini menjawab sekenanya. Dia tidak bisa berbuat apapun saat Rayhan mulai menatapnya dengan penuh curiga.
“Ibu, pakai parfum juga? Parfumnya mirip seperti parfum kesukaan Papa.” Apa yang Rayhan katakan membuat Andini semakin gugup. Dia tidak menyangka, Rayhan bisa memberi pertanyaan seperti itu kali ini.
“Kau tau detail tentang apa yang Ibu pakai ternyata.” Andini mencoba terus tersenyum walau hatinya berdebar.
“Lho, aku hanya tau parfum sama jam tangan yang Bu Dini pakai. Papa kan cerita sendiri tentang semua ini. Aku sama sekali gak minta Papa cerita.” Andini yang gugup hanya bisa mencoba pergi. Hampir saja dia melangkah, Rayhan sudah memberikan pertanyaan. “Kok Bu Andini kayak orang salting sih?”
“Maaf, Han. Ibu permisi dulu ya.” Andini harus segera pergi sebelum Rayhan menanyakan banyak hal.
“Kok buru-buru?”
“Iya, ibu permisi dulu.” Andini akhirnya pergi menuju Kantor Guru dan meletakkan barang-barangnya. Matanya tidak terlepas dari Rayhan yang terus menatap ke arahnya. Dia tau, Rayhan pasti mulai curiga dengan apa yang jadi hubungannya dengan Prasetyo.
Tidak lama, terlihat seorang wanita dengan pakaian yang cukup bagus tengah tersenyum dan memasuki halaman sekolah. Wanita yang tidak lain adalah Mamanya Rayhan tengah menyambut anaknya yang baru saja selesai sekolah. Rayhan mendekati perempuan itu dan memasuki mobil yang sudah terparkir tepat di samping gerbang sekolah. Tampak mereka terus berbincang layaknya seorang Ibu dengan anaknya.