Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #4

dipanggil kepala sekolah? (Rayhan)

Rayhan menatap buku pelajaran yang baru saja ditutup. Malam ini dia tidak bisa belajar konsentrasi. Entah apa yang membuatnya tidak bisa konsentrasi seperti hari biasanya.

Dia ingat apa yang jadi pembicaraanya dengan sang Mama saat pulang sekolah. Entah kenapa, Sari juga tengah menyembunyikan sesuatu. Ada hal yang harus dia ketahui dan cari tahu diam-diam.

“Mas,” tegur salah satu ART. Rayhan yang mulai jengah dengan keberadaan ART yang terus saja mengawasinya, mulai tersulut emosi.

“Kenapa sih, Mbok? Selalu saja ngawasi aku. Gak ada kerjaan lain apa?” tanya Rayhan.

“Maaf, Mas. Tapi, mbok ini hanya melaksanakan apa yang Bapak perintahkan.” Peremouan itu terlihat ketakutan dengan amarah Rayhan.

“Papa gak di sini. Lagian sudah ada Mama juga. Gak usah terlalu ngawasi aku kenapa sih?” tanya Raya denga emosi. “Sudahlah, Mbok. Mbok mending ngerjain kerjaan yang lain. kayak gak ada kerjaan aja di rumah ini.”

Sari datang saat Rayhan selesai memarahi pembantu rumah dan Rayhan hanya diam saat Mamanya mulai memasuki ruangan itu. Terlihat Sari hanya bisa menggeleng saat bertatapan engan Rayhan.

“Rayhan, kenapa sih marah-marah? Gak bisa kalo ada masalah diselesaikan dengan kepala dingin?” tanya Sari. “Han, jangan marah sama Mbok! Mbok di sini cuma melaksanakan apa yang Papa kamu perintahkan.”

“Mama, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa jaga diri.” Rayhan masih saja emosi. Dia menganggap dirinya tidak bisa menjaga diri.

“Han, Papa kamu yang minta.”

“Aku gak mau diawasi terus. Kenapa sih, aku kok diperlalukan layanya anak kecil? Mama, aku ini udah SMP. Aku gak kayak anak TK yang harus diikuti kemanapun.”

“Ya sudah. Mbok, tolong siapkan kebutuhan Rayhan yang lain ya. Habis ini, waktunya dia makan dan harus minum obat.” Asisten rumah akhirnya pergi. Sari terlihat meggeleng. “Rayhan, ada apa sih? Belakangan ini kamu sering marah? Ada masalah?”

“Mama, masalahnya cuma satu. Kenapa Papa aneh? Kenapa juga sampai jam segini apa belum pulang?” tanya Rayhan dan terlihat jelas raut wajah Sari ada sesuatu yang ingin disembunyikan. “Mama, ada apa sih? Kenapa sejak kemarin Mama ada sesuatu yang ingin ditutupi? Mama gak percaya sama aku?”

Rayhan mendekatkan irinya ke sang Mama dan Sari yang mendengar pertanyaan itu hanya memberikan senyum. Rayhan yang melihat senyuman Mamanya, semakin curiga.

“Mama.” Rayhan memegang tangan Sari dan terlihat jika Sari sedang melamun. “Mama kenapa sih? Mama marah sama aku?”

“Gak ada. Mana ada marah sama kamu. Gak perlu dipikir lagi. Sudah, sana makan.” Sari kembali memberikan senyum dan mencoba membantu Rayhan menuju meja makan.

“Aku bisa sendiri, Ma. Gak usah dorong kursi roda,” omel Rayhan kembali.

“Han, mama cuma mau bantu kamu. biar kamu gak terus ngomel. Mama tau kalo kamu capek.” Rayhan diam beberapa saat sambil menatap Sari.

“Mama, kenapa sih Mama ini? Aneh banget mulai kemarin?”

“Rayhan, sudahlah! Gak perlu dipikir! Mama minta maaf ya. Mama sudah membuat kamu khawatir. Gak ada yang perlu dikhawatrkan.” Rayhan akhirnya memilih diam dan menatap makanan yanb sudah tersaji. Tidak lama, terdengar suara mobil dan Prasetyo sepertinya baru saja pulang.

Rayhan hanya diam dan terus bertanya dalam benaknya, kenapa Prasetyo bisa pulang sampai jam segini? Rayhan ingin bertanya, tapi karena Sari sudah memintanya segera menghabiskan makanan, dia tidak jadi menanyakan apa yang mengganggu benaknya.

“Rayhan, makanannya habiskan dong! Jangan lupa juga obatnya. Terus, buku untuk besok, habis ini dirapikan,” ujar Sari dan Rayhan hanya bisa terdiam. Dia memilih menghabiskan makanan agar tidak lagi kena omel.

Dalam hatinya, dia ingin menguji Papamya terkait Andini. Rayhan ingin tau, bagaimana reaksi Papanya saat nama Andini dia sebut.

“Tadi, Bu Dini bilang sesuatu.” Rayhan mengatakan itu di sela-sela menyantap makanannya dan menatap Prasetyo yang baru saja menuangkan makanan. Prasetyo terdiam dan menatap Rayhan dengan penasaran. “Eh, aku kok lupa. Tadi, Bu Dini bilang apa ya?”

Lihat selengkapnya