Rayhan akhirnya pergi menuju kelasnya. Hari itu, adalah hari yang bisa dibilang cukup melelahkan baginya. Hari yang dimana dia harus mendapatkan sebuah hal yang tidak bisa dianggap remeh. Rayhan harus mengikuti olimpiade dan harus dibimbing oleh Andini, seorang guru yang sebenarnya sedang dia incar terkait sebuah rahasia. Rahasia yang tidak biasa baginya.
“Han, kau baik-baik saja?” tanya Alvin, salah seorang temannya. Rayhan hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu.
“Aku gak apa-apa. Mungkin, capek aja.”
“Kau sehat kan? Kondisimu baik-baik saja kan?” tanya temannya kembali. Rayhan hanya tersenyum. Semua temannya tau, apa yang terjadi dengan tubuhnya. Semua juga tau, kenapa dia harus bergerak menggunakan bantuan kursi roda. Sebuah virus yang menyerang syarafnya, membuat kaki-kakinya terlihat mengecil.
“Aku, baik-baik saja kok.” Rayhan terdiam dan tidak lama, Sari menjemputnya. Dia harus pulang. “Aku pulang dulu. Besok kita ketemu lagi.”
“Han, nanti kau mau main sama kami?” tanya Alvin. Rayhan terdiam dan tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan temannya begitu saja. Dia tau, Papanya akan melarang dan dia tidak bisa membantah perintah Prasetyo begitu saja. dalam hatinya, ada keinginan untuk bermain da mengunjungi rumah temannya.
“Kita lihat nanti ya.” Rayhan melemparkan senyum. “Aku sebenarnya ingin main sama kalian. Tapi, aku gak bisa keluar rumah begitu saja.”
“Rayhan, kamu serius gak apa-apa kan?” tanya Alvin kembali. Terlihat wajah temannya seperti mengkhawatirkan sesuatu.
“Aku gak apa-apa. Aku duluan ya.” Rayhan akhirnya mendekati Sari yang sudah menantinya. “Mama, Papa belum pulang?”
“Ya belum dong. Masih jam berapa ni? Ini belum jam tiga. Papa pulang nanti jam empat.” Rayhan hanya bisa diam, tapi melihat sebuah kesempatan. Kesempatan untuk menggeledah ruangan itu. “Rayhan, ada apa? Gak ada masalah kan?”
“Papa gak pulang malam lagi?” tanya Rayhan dan Sari langsung terdiam.
“Mama gak tau, Le. Mama gak tau Papa akan pulang malam lagi atau enggak.” Rayhan akhirnya diam. Rayhan sudah merencanakan sesuatu hari ini. Hari ini memang kesempatan besar baginya. “Han, ada apa, Le?”
“Gak ada apa-apa.”
“Kok sepertinya kamu kurang sehat? Kamu gak enak badan kah?” tanya Sari sambil mengecek suhu tubuhnya. “Suhu tubih kamu normal aja. Kecapekan pasti.”
“Aku gak apa-apa.” Rayhan tidak banyak bicara hari ini.
Sesampainya di rumah, Rayhan tidak langsung menuju kamarnya. Dia masih mengenakan seragam dan menggeledah ruang kerja Papanya yang penuh dengan dokumen. Dia yakin, ada dokumen penting yang tengah Papanya sembunyikan di ruangan itu.
“Mas Rayhan, sedang apa di ruangan Bapak? Nyonya mencari Mas Rayhan dari tadi.” Seorang pembantu membuat Rayhan terkejut. Dia tidak menyangka jika pemnbantu tersebut mengetahui keberadaannya. “Mas, cari apa di sini?”
“Ada perlu saja, Mbok.”
“Maaf, kalo Mas Rayhan butuh sesuatu, bisa bilang sama mbok saja. Biar mbok bisa bicara langsung sama Bapak.”
“Gak usah. Aku bisa cari sendiri, Mbok.” Rayhan menjawab sekenanya.
“Mas, sudah ditunggu Ibu.”
“Mbok, aku tau. Nanti aku juga ke sana. Sudahlah! Jangan ganggu aku lagi!” omel Rayhan. Pembantu tersebut akhirnya pergi. Rayhan terus mencari dokumen yang dia inginkan, hingga seluruh ruangan itu berantakan. “Aduh, kok gak ketemu ya? Dimana sih Papa nyimpan semua itu?”
“Rayhan, kamu ngapain sih di ruangan Papa? Lihat, ruangan Papa sampai berantakan begini. Kalo Papa tau, kamu bisa kena marah.” Sari yang menatap Rayhan tengah kebingungan di ruang sang suami langsung mendekati dan Rayha sendiri kaget dengan kehadiran Mamanya. “Kamu cari apa sih, Le? Mama bisa bantu?”
“Gak usah. Aku bisa cari sendiri.”
“Le, tapi kamu ngapain sih ada di ruanga ini? Kamu cari apa?” tanya Sari. “Ruangan ini hanya ada dokumen yang berkaitan dengan bisnis yang Papa kamu bangun.”
“Enggak. Aku gak cari apa-apa kok.”
“Jangan bohong. Tadi kamu bilang bisa cari sendiri, sekarang bilangnya gak cari apa-apa. Mama bukannya gak tau kalo kamu sedang mencari dokumen. Barusan, Mbok bilang kalo kamu mencari sesuatu.” Rayha diam dan memilih merapikan ruangan itu. Terlihat, Sari hanya bisa terheran melihat tingkahnya. “Rayhan, kamu ini kenapa sih?”
“Gak ada. Gak ada apa-apa kok.” Rayhan tersenyum dan meminta Sari untuk kembali ke meja makan.