Sore itu, Prasetyo baru saja pulang dari kantornya. Seharian, dia begitu pusing dengan banyaknya laporan yang harus dia tangggapi, belum lagi Andini yang terus menghubunginya. Andini menagih janji yang Prasetyo ucapkan beberapa bulan yang lalu.
“Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa aku jadi tidak bisa mengendalikan apa yang ada di sekitarku?” batin Prasetyo. Dia turun dari mobilnya dan melangkahkan kaki ke rumah yang bisa dikatakan begitu luas.
Terlihat, Rayhan berpakaian sudah rapi dan ingin keluar. Prasetyo curiga, kemana anaknya saat sore begini?
“Rayhan, mau kemana?”
“Rayhan, mau kemana?” tanya Prasetyo dengan nada tinggi. Terlihat Rayhan tidak nyaman dengan nada tinggi yang dia kelurkan.
“Mau keluar. Ke rumah teman.”
“Ke rumah teman? Siapa? Pergi sama siapa? Ngapain di rumah teman?”
“Papa, aku cuma mau main. Besok kan libur. Aku mau main ke tempatnya Alvin.”
“Gak ada main. Di rumah aja. Istirahat.”
“Papa, aku cuma mau main sama teman sekelas. Kenapa sih gak boleh?” protes Rayhan. Prasetyo yang melihat anaknya mulai melayangkan protes dengan aturannya, tampak semakin emosi.
“Kalo papa bilang di rumah aja ya di rumah aja. Jangan keluar kemana-mana!” suara Prasetyo membuat Rayhan gemetar. Melihat tubuh anaknya yang gemetar, Prasetyo tampak tidak bisa berbuat banyak. Dia bukan ingin melarang anaknya bermain. Hanya saja, kondisi anaknya yang tidak bisa disamakan dengan teman sebayanya, membuatnya harus lebih protektif dalam menjaga Rayhan.
“Papa egois. Kenapa sih, aku mau main ke rumah teman aja gak boleh?” tanya Rayhan yang mulai emosi. Dia akhirnya pergi dan membiarkan Prasetyo diamdi tempatnya. Prasetyo sendir hanya bisa menelan ludah saat mendengar amarah dari anak yang sebenarnya sangat dia sayangi.
Sari tampak khawatir dengan apa yang terjadi dengan anaknya. Tampak, pibtu kamar Rayhan tertutup rapat walaupun Sari terus meminta agar bisa bicara.
Dalam diamnya, Prasetyo ingin sekali memeluk anaknya. Dia ingin memeluk anak istimewanya. Dia melakukan semua itu hanya ingin melindungi anaknya dari bully yang bisa saja dilakukan orang yang dekat dengannya.
***
Prasetyo terdiam di ruangannya malam itu. Dia memikirkan kenapa bisa sekeras itu pada Rayhan. Sebenarnya, Rayhan bukanlah anak kecil lagi dan bukan saatnya untuk dia larang kesana-kemari, apalagi sampai harus membentak seperti itu. Prasetyo menatap foto yang terpajang di dinding. Fot Rayhan kecil yang tengah tersenyum. Dia ingat, foto itu diambil saat Dokter sudah meminta Rayhan agar jadwal terapinya diperketat dan harus memakai kursi roda agar bisa beraktivitas seperti biasa. Senyuman bocah yang ada di foto itu, yang membuat Prasetyo kembali mendapatkan semangat.
“Maaf, Pak. Makanan sudah siap. Ibu juga sudah menunggu Anda.” Seorang pembantu menyampaikan pesan dari sang istri. Prasetyo hanya bisa melangkahkan kaki menuju ruang makan.