Rayhan menatap Prasetyo yang tengah menerima telepon. Terlihat jelas dalam pandangannya, Papanya sedang marah. Rayhan terus diam sampai akhirnya Sari meminta Rayhan untuk menghabiskan makanan yng tersaji.
“Han, jangan ngelamun gitu dong!”
“Mama, Papa lagi telponan sama siapa?” tanya Rayhan. Sari hanya bisa mengeleng. Rayhan terus mengamai Papanya yang dari teras rumah. “Mama, kenapa Papa kok marah-marah seperti itu?”
“Han, habiskan makanannya! Gak baik kalo makanan yang tersaji gak dihabisan.” Sari melempar senyum dan Rayhan terus menatap Prasetyo sambil menyantap makanan yang ada. Tidak begitu lama, makanan Rayhan akhirnya habis. Rayhan mendekati rasetyo yang terlihat masih saja memarahi orang yang sedang menelponnya. Terdengar, jika suara orang yang sedang menelpon Papanya adalah suara perempuan.
“Cukup, Andini. Jangan keterlaluan! Bagaimanapun Rayhan tetaplah anakku.” Rayhan terdiam mendengar nama Andini kembali disebut. Andini lagi? Apa hubungannya antara sang Papa denga wali kelasnya? Kenapa Papanya bisa sampai marah-marah seperti itu?
Rayhan terus menatap Prasetyo hingga lelaki itu sadar jika anaknya tengah mengawasinya. “Han, kamu ini kenapa sih?”
“Papa baru terima telepon?” tanya Rayhan yang begitu penasaran. Dia ingin tau, siapa yang membuat Prasetyo marah-marah seperti sekarang ini. “Papa, baru teleponan sama siapa? Kok sepertinya habis teleponan, Papa marah gitu?”
“Sudahlah, Han! Kamu ini selalu saja mau tau urusan orang tua,” bentak Prasetyo dan Rayhan hanya bisa diam beberapa saat. Rayhan berpikir, kenapa dengan lelaki yang satu ini? Kenapa dia selalu saja marah jika dia menanyakan sesuatu? Apakah semua ini terlalu rahasia untuk dia ketahui?
“Papa aneh. Gitu aja marah. Apa-apa marah. Gak asik ah.” Rayhan memilih memasuki kamarnya. Rayhan diam memandangi kamarnya dan menangkap ada sebuah foto kenangan dengan teman-temannya saat masih SD. Dia menatap sebuah foto yang menunjukkan kebersamaan dengan teman-temannya. Kebersamaan itu, yang sebenarnya Rayhan rindukan. Dia ingin bisa bermain dan mengunjungi rumah teman-temannya. Dia sangat iri, melihat teman-temanya bisa bermain dan saling mengunjungi rumah masing-masing.
Tidak lama, terdengar sebuah suara. Suara itu tidak lain adalah suara papanya, yang tengah memarahi Sari. Melihat Prasetyo mengangat tangannya dan ingin menampar Sari, Rayhan tidak bisa tinggal diam. Rayhan memutuskan mendekat dan menghentikan apa yang kali ini Prasetyo lakukan.
“Papa kenapa sih? Papa kalo marah selalu mainnya pukul. Papa kalo marah kok selalu bentak dan main pukul?” tanya Rayhan. Dadanya begitu sesak melihat Prasetyo mulai berani main fisik pada Mamanya. Dia tidak akan pernah membiarkan, Mamanya disakiti siapapun, termasuk Papanya. “Papa gak sayang sama kami? Kenapa sih, Papa selama ini sukanya marah-marah dan ngatur kami?”
“Rayhan.”
“Sudahlah, Pa! jangan apa-apakan Mama. Aku gak akan membiarkan Mama sampai disakiti orang lain, termasuk Papa.” Rayhan memegang tangan Mamanya dan mengajaknya pergi ke sebuah ruangan. Ruangan yang digunakan menyimpan beberapa barang penting, termasuk obat yang harus Rayhan konsumsi. “Mama, bantu aku minum obat.”
Rayhan akhirnya meminum obat dan Sari tampak memberikan senyuman. Terlihat, obatnya mulai sedikit dan besok saatnya mereka harus memperbarui stok obat
“Han, besok kita ke Dokter ya! Kita harus periksakan kondisimu lagi.”
“Mama, besok bukan waktunya terapi. Kenapa sih harus ke Dokter?”
“Rayhan, kita tetap harus kontrol dan cari tau bagaimana kondisi penyakit yang ada di tubuh kamu. Biar tau bagaimana penyakit ini, kita harus tanya sama dokter.”
Satu kata yang ada dalam pikiran Rayhan, menyebalkan. Iya, memang menyebalkan. Kenapa harus pergi ke Dokter saat libur seperti besok? Dia kan jua ingin menghabiskan waktu sendiri tanpa ada gangguan dair orang lain. Lebih tepatnya, dia ingin mencari bukti hubungan Papanya dengan Andini.
“Rayhan, ada apa sih? Kamu keberatan?” tanya Sari.
“Kenapa sih harus besok? Kan besok libur.”
“Kamu memang libur. Tapi Dokter besok masihb buka praktek, dan besok adalah waktu yang pas untuk kamu kontrol ke dokter. Kita masih bisa cek kondisimu.” Rayhan terdiam beberapa saat. Dia sebenanya sudah bosan beberapa tahun harus menghadapi dokter.
“Mama, aku capek. Kenapa sih, harus terus ke Dokter terus?”