“Rayhan, kamu dimana, Le? Kamu belum minun obat kan pagi tadi? Ayo minum obat!” teriak Sari. Rayhan hanya bisa diam dan mengembalikan dokumen itu ke tempat asalnya. Dia juga tidak lupa merapikan dokumen yang ada di ruangan itu agar Papanya tidak mencurigainya. “Rayhan, kamu dimana sih Le?”
“Mama, aku di sini.” Rayhan akhinya memutuskan keluar dan mendekati Sari yang terlihat sudah siap dengan obat yang harus Rayhan konsumsi kali ini.
“Han, kamu gak apa-apa kan?” tanya Sari. Rayhan hanya bisa terdiam dan tidak pernah mau Sang Mama sampai mengkhawatirkannya. Dia akan menyelesaikan apa yang baru saja dia ketahu seorang diri. ‘Han, kamu kenapa, Le?”
“Mama, apa Mama tau tentang apa yang Papa sembunyikan?” tanya Rayhan.
“Rayhan, kamu ngomong apa sih, Le? Kenapa kamu sampai tanya seperti itu?” tanya Sari, dan Rayhan tau jika Sang Mama sedang menyembunyikan sebuah hal. Rayhan juga yakin, jika yang Mamanya sembunyikan bukanlah hal yang dianggap remeh.
“Mama, kalo Mama keberatan, ya gak apa-apa. Aku gak maksa, kok.”
“Han, mama minta, jangan bicara yang aneh-aneh ya. Kamu sebentar lagi waktunya istirahat. Jadi, minum obat dulu ya.” Rayhan diam beberapa saat dan terus menatap Sari yang mempersiapkan kebutuhannya.
“Mama, kenapa Mama sering menangis saat sendiri? Mama, ada masalah?” tanya Rayhan dan Sari hanya diam. Diamnya sang Mama membuat Rayjhan semakin curiga jika wanita itu sebenarnya sudah tau sesuatu. Tapi, dia memilih tidak menanyakan hal itu, karena tidak ingin Mamanya semakin bersedih.
“Han, mama gak apa-apa kok. Kamu istirahat dulu. Besok masih libur kan? Kalo kamu mau, kita bisa menikmati waktu di taman dekat rumah.” Sari memberikan senyum.
“Mama, Papa kenapa aneh? Aku mau tau apa yang Papa sembunyikan.” Rayhan menatap Mamanya, dan Sari tampak seperti orang yang bingung. Rayhan yang melihat reaksi Mamanya setelah dia mengajukan pertanyaan itu, hanya bisa diam dan akhirnya memilih pergi.
“Rayhan, kamu marah?” tanya Sari.
“Aku gak marah. Aku gak mau Mama merasa pertanyaanku jadi beban.”
“Han, mama minta maaf ya.” Sari mendekat dan senyumannya tidak lepas begitu saja. Rayhan yang melihat senyum itu, hanya bisa berteriak dalam hatinya. Dia tidak mau lagi terus-menerus melihat senyum itu. Senyum yang tidak lepas seperti yang selama ini dia terima, adalah hal yang menyakitkan baginya.
Rayhan memilih masuk ke kamarnya dan ingin sendiri saja. Selama sendiri, dia banyak berpikir tentang cara mencari sesuatu yang menurutnya penting. Rayhan ingat, jika pesan yang diterima Papanya Malam itu, mengisyaratkan jika ada dokumen yang begitu penting di antara mereka berdua. Entah, dokumen apa yan dimaksud.
“Aku harus cari dokumen itu.” Rayhan diam dan menatap langit rumah. Dia sendiri sebenarnya belum tau dokumen apa yang sebenarnya ada di antara kedua orang itu, tapi dia yakin jika dia bisa mendapatkannya.
***
Malam harinya, Rayhan tidak langsung tidur. Dia berada di ruang tamu, hanya seorang diri. Entah kenapa, malam ini tidak ada pembantu yang memintanya untuk segera masuk kamar ataupun sesuatu seperti hari-hari sebelumnya.