“Rayhan,” suara Prasetyo mendadak menggelegar. Rayhan diam beberapa saat sambil menatap Prasetyo yang kelihatannya begitu marah. Rayhan hanya bisa tersenyum dalam hati, melihat respon Prasetyo. Akhirnya, dia melihat ada hak yang ditakutkan di balik amarah itu.
“Papa, aku cuma tanya. Ini kan juga gak terkait Papa.” Rayhan langsung mengatakan hal itu dan terlihat Prasetyo tampak diam.
“Mas, kenapa harus marah-marah sih?”
“Maaf, aku terpancing.” Prasetyo akhirnya duduk. Rayhan terus menatap dan memperhatikan gerak-gerik Lelaki itu. Dia tau, jika ada sesuau yanbg membuat Prasetyo marah, dan amarah itu lebih dari sekedar apa yang jadi pertanyaannya. Rayhan yang mengamati dan menyimpulkan jika tujuannya berhasil. Rayhan akhirnya langsung pergi.
“Rayhan, mau kemana? Makanan kamu belum habis. Habiskan makanan kamu dulu!” pinta Sari. Rayhan tidak peduli dan terus menggerakkan kursi rodanya menuju kamar. Dalam hatinya, dia tersenyum dengan kemenangannya hari ini. “Han, kamu kenapa sih?”
“Gak apa-apa, Ma. Aku gak apa-apa kok.”
“Kamu gak marah kan sama Papa?”
“Memang kenapa sih, Ma? Kenapa aku harus marah? Aku sudah terbiasa. Aku sudah biasa dimarahi. Aku memang gak pernah benar kan? Bahkan aku sudah berusaha benar, tapi Papa tidak pernah menganggapnya benar.” Apa yang Rayhan katakan membuat Sari hanya bisa diam. Rayhan tau, jika Sari tidak berhak mendapatkan amarahnya sekarang. Tapi, mau bagaimana lagi, dia tidak punya tempat aman untuk mengeluarkan emosi yang masih ada di hatinya. “Mama, maaf. Aku gak mau marahi Mama.”
“Rayhan, gak apa-apa kok. Mama tau kalo kamu marah dan sama sekali gak pernah marah sama Mama.”
“Papa aneh. Aku gak mau lihat Papa yang semakin hari semakin aneh.” Rayhan hanya diam dan mengarahkan kursi rodanya ke arah meja.
“Rayhan, kamu boeh marah, tapi makanan kamu tolong dihabiskan. Sebentar lagi waktunya kamu harus minu obat.” Sari mengkutinya dan Rayhan hanya bisa diam dan wanita itu ikut memasuki kamar dan menyiapkan makanan itu di meja belajarnya.
“Mama.”
“Rayhan, makan dulu! Habis ini kamu harus tetap minum obat. Kamu tidak boleh sampai telat dengan obatnya. Kalo kamu telat, itu sama saja membuat Mama repot.” Rayhan terdiam dan tidak ada yang harus dia lakukan, kecuali menuruti apa yang Mamanya perintahkan.
***
“Han, kamu dipanggil Bu Warsi. Katanya, ada hal penting yang ingin Beliau bicarakan sama kamu.” Salah seorang teman Rayan menyodoran surat pemanggilan bagi dirinya. Rayhan yang terheran dengan surat itu, hanya bisa diam dan menatap surat pemanggilan yang ada di tangannya dan sesekali memandangi temannya. “Han, pergi sana! Jangan melotot kayak gitu! Masa ganteng kayak kamu malah melotot. Gak asik ah.”
Rayhan akhirnya menyadari satu hal. Temannya tidak tau apapun terkait apa yang sedang dia hadapi. Dia akhirnya pergi dan menemui guru yang dimaksud.
“Permisi,” ucap Rayhan saat berada di pintu Ruang Guru. Seorang guru yang sudah senior langsung memintanya masuk dan mempersilahkannya untuk berada di sampingnya.
“Rayhan, akhirnya datang juga kamu ini. Ibu mau ngomong.” Wanita itu mengambil sebuah buku yang ternyata berisi nilai. Dia melihat beberapa nilai yang sepertinya menjadi nilai tertinggi di angkatannya. “Le, ini nilai nak-anak di angkatanmu. Kamu bisa lihat sendiri, nilaimu berada di posisi tertinggi. Nilaimu bagus terutama di pelajaran Matematika dan Fisika. Nah, Ibu ingin, kamu bisa mewakili sekolah kita di olimpiade Matematika tingkat Kabupaten.”
Rayhan terdan dan menatap Wanita yang ada di hadapannya. Apa yang baru dia dengar, sebenarnya sudah dia dengar dari kepala sekolah.