“Rumah? Maksudnya, Villa dekat sawah itu? Villa yang ada di pinggiran kota itu kan?” tanya Rayhan. Andini kaget bukan kepalang mendengar pertayaan dari muridnya. Apakah Rayhan tahu tentang Villa itu? Tahu darimana? Apakah Prasetyo sudah memberitahunya?
Jika memang Prasetyo memberitahunya, bisa saja semua akan jadi ancaman. Keberadaan Rayhan akan jadi ancaman baginya. Bisa saja, Rayhan ini adalah mata-mata yang Prasetyo kirim untuk mengawasi gerak-geriknya. Dia tidak boleh memandang Rayhan sebelah mata. “Maaf, Bu. Saya salah ngomong. Harusnya saya yang harus bilang kalo sementara nginap di sana dulu.”
Andini diam dan terus menatap Rayhan yang menjauh. Dia tau, apa yang baru Rayhan katakan bukan sesuatu yang dibuat-buat. Dia menangkap, itu adalah ancaman yang dilontarkan padanya.
“Rayhan?” tanya Andini dan Rayhan terdiam beberapa saat.
“Sekali lagi, saya minta maaf. Saya sudah dijemput. Permisi ya, Bu. Selamat siang.”
Andini hanya bisa diam. Iya, kali ini Andini hanya bisa diam. Karena, dia tau jika ada sesuatu terkait pertanyaan dari muridnya yang satu ini. Itu bukan candaan, tapi bentuk intimidasi buatnya.
Andini memilih diam di kantor hingga banyak dari rekan-rekannya pulang. Di menatap sebuah buku yang tidak terlalu tebal yang tergeletak begitu saja di hadapannya. Buku itu sebenarnya berisi nilai murid yang sekarang menjadi tanggung jawabnya.
“Han, maafkan aku ya, Le. Aku harus meakukan ini. Aku gak tau harus bagaimana. Aku gak tau, apa yang harus aku lakukan, untuk keluar dari semua ini.” Andini tampak meneteskan air mata.
“Permisi. Pintu dan pagar sebentar lagi mau dikunci.” Salah seorang satpam yang keliling langsung saja membuyarkan lamunan Andini.
“Iya, Pak. Maaf. Terima kasih juga sudah diingatkan.” Andini hanya bisa tersenyum.
“Bu Dini sudah dijemput sepertinya. Dijemput siapa ya?” tanya salah seorang Satpam. Andini melihat seorang Lelaki muda yang mengendarai motor tua. Dia langsung saja menangkap, jika itu adiknya.
“Iyu adik saya. Saya memang meminta dijemput. Terima kasih, selamat siang.” Andini langsung pergi dan mendekati adiknya.
“Mbak, ada apa sih? Kenapa sampai harus ditegur sama satpam? Aku sudah lama menunggu,” protes Lelaki yang bernama Ahmad.
“Maafkan mbak kamu ini ya. Mungkin karena banyak pikiran.”
“Pikira apa sih, Mbak? Pikiran tentang Lelaki itu? Kan aku sudah bilang dari awal, dia gak akan pernah bisa menyayangi Mbak Dini. Dia cuma memanfaatkan Mbak Dini untuk posisinya. Dia hanya memanfaatkan kemiskina kita untuk posisinya di kantor Dewan, gak lebih dari itu.” Dini hanya diam saat Ahmad terus saja mengomelinya.
“Ahmad, jangan bicara seperti itu! Dia tetap kakak ipar kamu. Dia masih suami mbak. Gak pantas kamu menjelekkan orang lain, yang sebenarnya masih keluargamu.” Dini mencoba menasehati Ahmad. Dia sangat mengerti, jika adiknya kurang menyukai Prasetyo. Prasetyo datang tiba-tiba dan melamar Andini sekitar satu setengah tahun yang lalu, padahal Prasetyo sudah punya istri dan seorang anak. Memang, Ahmad adalah orang yang paling menentang pernikahan itu walau akhirnya dia mau menjadi wali dalam pernikahan kakaknya. Itu saja karena dia sudah dibujuk entah berapa kali.
“Mbak, sampai kapan sih Mbak ini akan bicara seperti itu? Kalo dia memang lelaki yang bertangung jawab, dia gak akan nikah lagi dan bikin keluarganya jadi seperti itu. Lha wong Bu Sari aja dia minta untuk bungkam masalah pernikahan ini. Mbak, kamu juga perempuan. Kamu pasti punya naluri seorang Ibu. Pikirkan perasaan Bu Sari dan anaknya.” Ahmad hanya bisa menangis setelah mengatakan semua itu. “Masalah hidup kita yang serba kekurangan dan biaya Ibu, kita bisa cari bareng-bareng. Aku juga bisa kok sekolah sambil kerja. Aku bisa cari uang sendiri dan Mbak Dini gak perlu menjual harga diri dengan cara seperti itu. Aku gak suka.”
“Ahmad.”
“Sudahlah, ayo pulang!” pinta Ahmad. Andini hanya bisa menuruti apa yang adiknya katakan. Andini hanya bisa diam hingga dia memasuki rumah. Dia melihat rumah itu yang sebenarnya jauh dari kata layak, hanya bisa menangis. Dia ingin juga hidup dengan layak dan membawa keluarganya hidup layak.
Andini akhirnya menuju dapur dan sumur. Dia ingin meihat apa yang mungkin bisa dia kerjakan. “Ahmad, sudah makan?”
“Sudah, Mbak. Aku masak tadi. Mbak Dini, makanlah! Maaf kalo makanannya cuma seperti ini.” Andini hanya bisa diam dengan makanan yang tersaji. “Mbak, aku tau apa yang kau pikirkan. Aku tau kenapa kamu sampai mau menyerahkan harga dirimu jadi seperti ini.”