Prasetyo diam setelah memastikan Andini bisa kembali ke rumahnya. Selama perjalanan pulang, Prasetyo diam dan curiga satu hal terkait anaknya. Laporan Andini tidak bisa diangap remeh. Mungkin saja, di hadapan Andini dia bisa membela Rayhan, tapi dia juga tidak boleh mengabaikan ucapan Andini begitu saja. Dia harus cari tau semua itu.
Sesampainya di rumah, terlihat Rayhan sedang bermain di kamarnya seorang diri. Prasetyo kali ini tidak punya keberanian untuk menegurnya, karena tadi pagi dia sempat memarahu anaknya karena hal sepele.
“Permisi, Pak. Saya mau antar makanan untuk Mas Rayhan.” Seorang pembantu berdiri di sampingnya dengan wajah yang tertunduk. Di tangannya, sudah ada nampan yang berisi makanan yang memang harus Rayhan makan.
“Rayhan dari tadi belum makan?”
“Belum. Mas Rayhan tadi minta makanan seperti yang kemarin, tapi sudah habis. Jadi, saya harus memasak lagi.” Pembantu tersebut akhirnya memasuki kamar dan menatap makanan itu di meja belajarnya. Tampak Rayhan yang begitu senang dengan makanan yan baru dihidangkan.
Prasetyo tidak pergi kemanapun dan sengaja menguping apa yan dibicaraka Rayhan dengan salah seorang embantunya.
“Mbok, Mama kemana?”
“Mama lagi istirahat.”
“Mama lagi sakit?” tanya Rayhan.
“Gak tau, Mas. Tapi, tadi bilangya cuma capek.”
“Mbok, aku makan di tempat Mama boleh?”
“Maaf, Mas. Jangan ya. Nanti kalo Ibu terganggu gimana?” tanya pembantu itu dan Rayhan hanua diam. “Mas Rayhan makan di kamar ini dulu ya. Jangan lupa kalo sudah, minum obatnya. Obatnya saya taruh di sini.”
“Mbok, kalo sudah makan, boleh aku menengok Mama?”
“Terserah Mas Rayhan. Tapi jangan sampai Ibu tergangu ya.”
Prasetyo terdiam dan menengok kamarnya. Terlihat, sang istri yang tengah tertidur pulas. Melihat wajahnya yang begitu pucat, dia hanya bia menggeleng. Dia tidak yakin jika Sari yang membocorkan segala informasi terkait hubungannya denga Andini pada sang anak, saat melihat kondisinya yang seperti ini. Dia berjalan perlahan ke arah sang istri. Tampak hatinya sangat iba terhadap istrinya.
“Sari, aku menyayangi kalian. Aku minta maaf kalo selama ini terkesan kasar. Tapi, aku lakukan ini demi kalian.” Prasetyo diam begitu lama. Dalam diamnya, masih jelas terdenga suara Rayhan yang tengah bicara dengan seorang pembantu. Rupanya, Rayhan baru menghabiskan makanannya.
Tidal berselag lama, kursi roda Rayhan mengarah ke kamar itu dan berhenti tepat di pintu kamar. Prasetyo yang melihat anaknya diam di situ, hanya bisa menatapnya. Tidak butuh waktu lama, Rayhan pergi. Ada hal aneh yang Prasetyo tangkap dari wajah anaknya. Rayhan kurang bersahabat kali ini.
“Han, kamu kemana?” tanya Prasetyo. “Kamu mau nengok Mama kan?”
“Gakn jadi.” Terdengar jelas, jawaban Rayhan tidak seperti biasa. Jawaban itu lumayan ketus.
“Rayhan.” Prasetyo mulai membentak. Rayhan yang sepertinya kurang suka dengan apa yang Prasetyo lakukan kali ini, hanya bisa menatapnya.
“Papa kenapa sih? Aku kan udah biang, gak jadi nengok Mama dulu. Gak perlu marah gitu kenapa sih?”