Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #12

ingin membongkar semuanya (Rayhan)

Rayhan hanya bisa terdiam melihat Papanya keluar. Entah apa yang membuat lelaki itu bisa memasuki kamar dan mengacak-acak meja belajarnya. Dia menatap meja belajar itu walau hanya diterangi lampu tidur. Meja itu masih berantakan.

“Berantakan lagi. Aku kan tadi udah beresin barang di meja. Tapi, besok saja diberesin.” Rayhan kembali tidur. Dia tidak lagi memikirkan apa yang terjadi hari ini.

***

Rayhan hanya bisa diam di kelasnya, setelah semua pelajaran berakhir. Sebenarnya, tidak ada yang aneh hari ini. Hanya saja, dia tidak bisa melupakan apa yang terjadi tadi malam. Ternyata, dia bisa membuat Papanya marah dan juga membuat Papanya tidak bisa berbuat apapun. Dia bahkan tidak menyadari hal itu.

“Kenapa aku tidak sadar kalo Papa bisa takut sama aku? apakah aku bisa memanfaatkan hal ini biar Papa mengaku kalah di hadapanku?” batin Rayhan. Rayhan hanya diam menatap papan tulis yang sudah bersih. Tidak lama, seorang wanita memasuki ruangan itu dan menyapa.

“Rayhan.” Andini yang sepertinya mengetahui jika dirinya masih ada di kelas, langsung saja memasuki ruang itu. Rayhan yang mengetahui wanita itu mendekatinya, hanya bisa menatap tajam. “Kamu kenapa? Sejak kemarin sepertinya gak begitu fokus? Kamu baik-baik saja kan?”

“Saya gak apa-apa. Bu Dini gak perlu terlalu khawatir.” Rayhan menjawabnya, tapi bukan jawaban seperti yang biasanya dia berikan.

“Han, ibu peduli sama kamu, bukan karena ada maksud apapun. Kamu tetap murid ibu, apalagi sebentar lagi kamu kan harus ikut olimpiade. Kamu sudah belajar kan materi yang Ibu beri kemarin?” tanya Andini dan Rayhan hanya bisa diam. Dia menatap Andini dan menggeleng.

“Mohon maaf. Saya ssebenarnya belum belajar banyak.”

“Gak apa-apa. Yang penting kamu belajar perlahan. Mumpung waktunya juga masih lama. Tapi, jangan lama-lama juga. Ibu juga mau tes kemampuan kamu.”

“Tes kemampuan? Tes kemampuan apa?” tanya Rayhan yang penasaran. Tes apalagi yang harus dia terima.

“Lho, bagaimana kamu ini? Kemarin gak dikasih tau kalo sebelun kita ada pembinaan, ada tes kemampuan dulu. Gak dijelaskan sama Bu Warsi atau Bapak Kepala Sekolah?” tanya Andini. Rayhan terdiam dan hampir saja melupakan hal itu.

“Maaf.”

“Rayhan, kamu gak apa-apa kan? Kamu lagi sakit?” tanya Adini yang mencoba menyentuh dahinya. Rayhan spontan saja mundur. Tampak, Andini kaget dengan respon Rayhan. “Han, kamu kenapa? Kamu serius gak apa-apa?”

“Maaf, saya kurang fokus hari ini. Tapi saya gak apa-apa.”

“Han, kamu mulai kemarin kenapa sih? Kalo ada masalah, cerita sama ibu. Mungkin ibu bisa bantu.”

Rayhan hanya bisa diam. Dia menatap Andini yang masih saja berdiri di hadapannya. Sebenarnya, ingin sekali dia mengeluarkan kata kasar pada perempuan itu, tapi dia tidak mau terlalu gegabah. Sambari mencari bukti, dia harus bermain cantik agar gurunya bisa tertekan dan bicara apa yang sebenarnya terjadi.

“Tidak semua orang yang ada di sekitar saya, bisa dipercaya begitu saja,” ucap Rayhan. Andini terlihat tersenyum, tapi senyuman itu menyiratkan sesuatu. Ada hal yang tengah disembunyikan. Ada sesuatu yang sebenarnya menjadi beban Andini selama beberapa hari belakangan.

“Han, memang tidak semua orang yang ada di sekitarmu harus kamu percaya begitu saja. ada beberapa orang yang mungkin tidak bisa kamu percaya,” ucap Andini. Apa yang Andini katakan membuat api yang ada di hati Rayhan semakin membara. Apakah Andini tidak merasa jika dirinya tengah dia serang?

Lihat selengkapnya