Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #13

tekanan Rayhan (Andini)

Andini tidak pernah menyangka, Rayhan dengan begitu berani, berteriak di keramaian dan menyebut kata pelakor saat dia lewat. Dia merasa sangat terhina dengan ejekan dri muridnya itu.

“Pelakor. Awas ada pelakor. Awas, ada Pelakor,” suara Rayhan terus menggema di telinganya, walau sudah beberapa jam dari kejadian itu. Andini terdiam hingga Ahmad mendekatinya.

“Mbak, kenapa sih? Kamu sejak pulang kerja, kayak gak seperti biasanya?” tanya Ahmad dan Sndini hanya bisa menggeleng. “Mbak, kamu kenapa sih? Jawab dong! Masa ditanyain malah diam aja.”

“Ahmad, kamu bisa diam gak sih? Gak lihat kalo Mbak kamu ini lagi gak baik?” bentak Adini. Melihat wajah adiknya yang begitu terkejut, Andini merasa sangat bersalah. Dia sama sekali tidak pernah menginginkan ada bentakan yang dia berikan pada adiknya.

“Mbak Dini aneh. Pertanyaan gitu aja sampai harus marah-arah.” Ahmad akhirnya menjauh dengan wajah kecewa. Andini langsung mengejar adiknya. Ingin sekali dia meminta maaf atas apa yang baru terjadi.

“Ahmad, aku minta maaf. Aku sama sekali tidak pernah mau menyakitimu. Mbak minta maaf atas bentakan yang baru terjadi.”

“Mbak, jangan pernah brpikir kalo aku gak tau. Aku tau apa yang terjadi sama kamu tadi siang. Kamu lagi gak baik denga muridmu itu kan? Kamu lagi gak baik dama anaknya Pak Prasetyo kan?” tanya Ahmad dan Andini hanya bisa diam. “Mbak, aku tau semuanya. Ngaku aja lah. Dia mulai menekanmu. Dia mulai meneriakimu sebagai pelakor, walau sebenarnya dia sendiri tidak menghadap ke arahmu. Aku tau, dia sedang menyindirmu.”

“Ahmad, aku harus cerita ini. Aku sebenarnya juga ingin lepas. Tapi semua ini gak bisa. Aku gak berdaya untuk le;as dari jeratan Mas Prasetyo.”

“Mbak, aku gak akan pernah bosan dan capek mengingatkanmu masalah ini. Pak Prasetyo hanya memandangmu sebagai alat. Jadi, aku masih ingin memintamu, tinggalkan lelaki itu. Lagian, apa untungnya sih jadi istri kedua?” tanya Ahmad. Andini hanya bisa diam beberapa saat memandangi adiknya.

“Ahmad, tapi gak semudah itu.”

“Mbak, aku tidak pernah lupa dengan ucapan yang dulu sering Mbak Dini utarakan sama kami. Mbak Dini sangat membenci orang ketiga dalam hubungan. Mbak Dini benci pelakor ataupun apa itu sebutannya yang itu adalah duri dalam sebuah hubugan. Tapi, aku gak tau kenapa, kamu sekarang jadi seperti ini.”

“Ahmad, kamu mengerti dong. Mbak ini juga berusaha lepas. Tapi gak bisa.” Andini mulai emosi.

“Kenapa sih, Mbak? Mbak Dini terus bilang gak bisa, tapi gak tau kenapa Mbak gak bisa lepas dari lelaki itu? Cerita sama aku, Mbak. Barangkali aku bisa bantu.” Andini terdiam mendengar apa yang baru adiknya katakan. Dia sangat memahami, jika adiknya begitu peduli dengannya. “Mbak Dini sejak lama selalu bilang ingin keluar dari jeratan Pak Prasetyo. Tapi sampai sekarang masih saja menjaga hubungan itu dengan Pak Prasetyo. Kalo memang Mbak Dini kesulitan dan butuh bantuanku, bilang saja! aku akan bantu.”

“Ahmad, diam kau! Kamu gak tau apa yang terjadi padaku.”

“Aku memang gak tau. Kalo aku tau, gak akan aku mencecarmu dengan berbagai macam pertanyaan, yang sebenarnya inti pertanyaan itu cuma satu. Aku tanya semua itu karena aku gak tau.” Andini langsung diam dan tidak bisa menahan air mata. “Mbak Dini sudah berubah. Mbak Dini sekarang Sukanya marah-marah. Bahkan sama Ibu saja Mbak selalu marah-marah. Sudahlah, aku gak mau maksa. Kalo Mbak Dini gak mau cerita, ya gak apa-apa. Aku permisi. Waktunya menyiapkan kebutuhan Ibu.”

Andini hanya bisa menagis dan menatap adiknya yang pergi begitu saja. Andini tidak pernah percaya, jika keputusanya waktu itu, akan membuatnya memasuki masalah yang cukup rumit.

***

Lihat selengkapnya