Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #14

tidak sudi dengan pelakor (Rayhan)

Rayhan hanya diam setelah pulang sekolah. Hari ini, dia sengaja memberikan sesuatu pada Andini secara diam-diam. Saat semua guru lengah, dia menyelipkan secarik kertas di sela-sela dokumen Andini. Rayhan hanya ingin Andini tau jika dirinya tidak bisa diremehkan begitu saja. Dia berharap, satu kata yang sudah dia selipkan di sela tumpukan barang Andini, bisa membuat nyali wanita itu ciut.

“Mas Rayhan, dicari Ibu.” Seorang pembantu memasuki ruangan dan membuat Rayhan langsung saja menoleh. Rayhan langsung mengarahkan kursi rodanya ke ruangan Sari dan mendapati Sang Mama sedang tersenyum di ruang tamu.

“Mama, ada apa?” tanya Rayhan.

“Le, mama tanya sama kamu. Jawab jujur ya. Katanya kamu mau ikut olimpiade. Sudah sampai mana persiapannya?”

“Males ikut lomba kayak gitu lagi. Lomba lagi lomba lagi.” Rayhan menjawab pertanyaan Sari dengan nada yang begitu kesal. Sari hanya bisa menggeleng dan Rayhan malah sama sekali tidak mengert kenapa Mamanya melakukan itu. “Mama kenapa? Aku capek harus ikut lomba kayak gitu terus-terusan.”

“Rayhan, ini kan kesempatan kamu. Kalo nanti kamu mau masuk SMA, kamu bisa pake prestasi itu. Kamu bisa ngincar SMA favorit.” Sari terlihat terus menasehatinya, tapi ada sesuatu yang dia tangkap. Semua itu pasti ada hubungannya dengan Sang Papa. Prasetyo sudah lama menginginkan Rayhan juara lomba, apapun itu ombanya dan menjadi yang terbaik di angkatannya.

“Kalo hanya untuk nama baik Papa, aku gak mau. Aku cuma dapat capek. Papa terus yang dapat pujian dan segala macam ucapan manis. Mereka kan gak tau kalo aku capek. Mereka juga gak peduli kan gimana Mama? Mama juga capek dan Papa gak pernah peduli setelah aku juara lomba.” Rayhanlangsung marah-marah. Dia mengungkapkan kekecewaannya.

“Rayhan, kok kmau ngomong gitu sih? Kamu kenapa sih, Le?” tanya Sari. Terlihat Sari sangat khawatir dengan kondisi Rayhan.

“Aku capek, Ma. Aku gak mau dipaksa untuk ini dan itu. Kalo aku ikut olimpiade hanya untuk Papa, mending aku gak usah ikutan olimpiade.” Rayhan langsung saja pergi. Dia tidak peduli dengan suara Sang Mama yang terus memanggilnya. “Apa-apaan sih? Masa aku harus berjuang hanya untuk Papa? Terus, aku dapat apa? Hadiahnya juga aku gak bisa pegang. Itu semua langsung ditaruh di sekolah dan uangnya langsung disita Papa. Aku aja gak disisain untuk jajan dan gak dapat hadiah apapun dari Papa.”

“Rayhan, kamu kenapa? Kenapa sejak pulang sekolah, kamu tidak semangat?”

“Aku gak apa-apa. Aku cuma mau istirahat. Aku gak mau ditekan terus.” Rayhan mengatakan semuanya pada Sari dan terlihat Sari hanya bisa tersenyum.

“Sudahlah, jangan terus marah seperti ini. Gak baik kalo kamu terus marah.”

“Mama, bisa gak sih aku gak ditekan? Aku capek setiap semester terus ditekan sama Papa. Aku diminta jadi yang terbaik lah, yang harus juara olimpiade atau harus diterima di sekolah favorit. Aku gak sanggup meladeni permintaan Papa. Aku gak sanggup memenuhi permintaan Papa yang terlalu berambisi.”

“Rayhan, mama tau, Le. Yang penting, sekarang kamu istirahat saja. Masalah olimpiade itu, bicarakan sama guru kamu ya.” Sari akhirnya pergi dan Rayhan hanya bisa diam.

***

“Han, sampai kapan kamu gak mau mempersiapkan olimpiade itu? Ini sudah mepet. Kita gak punya banyak waktu untuk mempersiapkan semua ini.” Andini kali ini terlihat ingin sekali bicara masalah olimpiade itu.

“Saya capek, Bu. Kenapa sih Ibu terus mengganggu saya?” tanya Rayhan yang begitu jengkel.

“Han, ibu gak pernah ganggu kamu. kamu sekarang jadi tanggung jawab Ibu. Ibu ini wali kelas kamu sekaligus akan membimbing kamu. Ayolah, kita kerja sama.”

“Saya tidak mau dibimbing sama orang yang sebenarnya juga butuh dibimbing. Saya tidak mau dibimbing sama orang yang sudah membuat Mama saya setiap hari menangis. Saya gak mau dibimbing sama orang yang jadi duri di keluarga saya, hanya karena uang.” Rayhan langsung mengatakan itu dan Andini hanya bisa diam. Sekali lagi, Rayhan dengan berani melemparkan kata-kata pedas yang memang dia tujukan pada Andini. “Saya lebih baik gak ikut olimpiade, daripada harus berdamai sama orang yang menjadi duri dalam keluarga kami.”

“Rayhan, jangan egois! Kamu juga butuh semua ini. Kamu juga butuh prestasi. Kalo kamu seperti ini, kamu hanya merugikan dirimu sendiri.”

Lihat selengkapnya