Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #15

aku tau sesuatu (Rayhan)

Rayhan memilih ke wartel sekolah dan menelpon pihak rumah. Hari ini dia ingin pulang dan tidak pernah mau terus berkumpul dengan perempuan seperti Andini. Terdengar suara Sang Mama yang sepertinya terkejut dengan ucapan Rayhan hari ini.

“Rayhan, kamu serius mau pulang? Katanya ada jadwal bimbingan sama guru kamu?” tanya Sari dan membuat Rayhan semaiin emosi.

“Mama, aku pokoknya mau pulang sekarang juga. Gak ada bimbingan apapun, entah sekarang atau nanti.” Rayhan terus memaksa. Terdengar jika Sari meminta seorang sopir untuk mengantarnya ke sekolah.

Tidak butuh waktu yang lama, sebuah mobil berhenti di samping gerbang sekolah. Rayhan tidak peduli dengan siapapun, apalagi Andini yangb menatapnya dari jauh. Dia mendekati mobil itu.

“Han, kamu kenapa sih? Papa kamu tadi bilang kalo hari ini kamu pulang agak sore. Kenapa kamu tiba-tiba memaksa pulang?” tanya Sari yang terlihat sangat heran. Rayhan sendiri menggeleng.

“Gak ada yan namanya seperti itu. Papa itu kalo bicara ngawur. Papa cuma bikin cerita kosong. Gak ada jadwal bimbingan hari ini. Aku mau pulang. Aku mau istirahat.”

“Rayhan, kamu kenapa sih?”

“Sudahlah, Ma. Jangan mencoba seperti Papa. Aku gak suka ditekan seperti Papa menekanku,” ucap Rayhan dengan emosi. Mau tidak mau, Sari langsung membantunya menaiki mobil. Tidak ada pilihan lain bagi Sari kecuali membawa anaknya pulang.

Sepanjang perjalanan, Rayhan tidak bicara apapun. Dia tidak ingin mengingat apa yang terjadi selama seharian ini. Entah apa yang harus dia katakan pada Sari, jika dia tidak akan pernah mau ikut olimpiade jika pembimbingnya adalah Andini.

“Rayhan, kamu ini kenapa sih? Tiba-tiba banget lho kamu jadi seperti ini. Gak biasanya kamu ini diam dan gak banyak omong. Kamu ada masalah? Lagi berantem sama teman kamu? atau, kamu lagi sakit?” tanya Sari. Rayhan hanya bisa menggeleng dan memilih tidak menjawab. “Rayhan, kamu baik-baik saja kan?”

“Aku gak apa-apa.”

“Lalu? Kenapa kamu seperti ini?”

“Aku gak apa-apa kok.”

“Serius? Kamu lagi marah sama guru kamu?” tanya Sari dan membuat Rayhan hanya bisa menoleh. Rayhan akhirnya menangis. Entah apa yang harus dia jelaskan pada Sari tentang masalah yang tengah dia hadapi. Dia tidak pernah mau, jika Mamanya justru terbebani denga masalah yang tengah dia hadapi.

“Gak ada apa-apa. Mungkin capek aja.”

“Serius kamu capek? Mama tapi sempat dengar, kalo kamu minta dijemput dengan kondisi Marah. Kamu, serius gak apa-apa?” tanya Sari dan Rayhan hanya bisa mengeleng. Rayhan menatap Mamanya yang hanya bisa diam.

***

Rayhan terdiam di kamarnya. Dia terus kepikiran, bagaimana caranya, agar dirinya bisa memegang satu kunci yang bisa membuat Andini dan Papanya menyerah. Dia tau, Andini sedang menyembunyikan sesuatu. Rayhan terus ingat apa yang menjadi permintaan Andini saat malam itu. Chat yang masuk di ponsel Papanya dan beberapa kali dia menangkap reksi dari Andini, membuat Rayhan yakin jika Andini sebenarnya punya sesuatu yang tengah disembunyikan. Dia harus tau, sesuatu apa yang tengah disembunyikan oleh perempuan itu.

“Bu Dini, aku tidak bisa membiarkanmu hidup tenang begitu saja. Aku akan terus membuat hidupmu semakin tertekan. Aku tau kalo kamu menyembunyikan sesuatu. Aku tau kamu memegang sesuatu yang sebenarnya sangat penting bagi kami. Apapun benda itu, aku akan merebutnya darimu.” Rayhan menatap langit-langit kamar yang berhiaskan cat putih. Entah kenapa, beberapa hari ini dia sangat yakin jika perempuan satu itu tengah menyembunyikan sesuatu.

Tidak lama kemudian, sebuah suara melengking dari ruang keluarga, membuyarkan lamuna Rayhan. Suara itu tidak lain adalah suara Papanya. Entah apa yang terjadi, lelaki itu pulang dan langsung saja marah-marah.

Lihat selengkapnya