Andini terdiam di kantor guru. Entah kenapa, masalahnya dengan Rayhan membuat hidupnya tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Andini awalnya berpikir, saat Kepala Sekolah mengatakan jika dirinya harus mendampingi Rayhan di olimpiade itu, membuat semuanya akan segera lepas. Dia tau, Rayhan bukanlah anak yang bodoh. Dia anak pintar dan sangat yakin jika siswanya yang satu ini akan menjadi salah satu yang terbaik.
Dengan keluarnya Rayhan menjadi yang terbaik, dia juga akan mendapat uang dan bisa segera lepas dari tekanan Prasetyo, tapi semuanya malah jadi seperti ini. Rayhan bahkan tidak menghormatinya. Rayhan terlanjur memandangnya sebagai seorang pelakor.
“Bu Dini.” Salah seorang guru senior yng tidak lain adalah Bu Warsi, mendekatinya.
“Bu Warsi, Njenengan di sini?”
“Ibu kenapa? Kok sepertinya gak semangat gitu?” tanya Bu Warsi dan Andini hanya bisa tersenyum. “Ada masalah kah?”
“Gak ada apa-apa sebenarnya. Ini mungkin masalah pribadi saja. Gak ada kaitannya sama kerjaan.”
“Masalah pribadi? Masalah apa sih?” tanya Bu Earsi dan Adini tidak bosa langsung menjawabnya. “Maaf kalo pertanyaan saya agak sensitif. Bu Dini punya masalah sama Rayhan?”
“Ah, engak. Siapa bilang kami ada masalah? Kami gak punya masalah apapun.”
“Bu, tidak perlu membohongi saya. Pimpinan sekolah sudah mengendus semua ini. Ibu, kesulitan kan menghadapi Rayhan akhir-akhir ini? Kemarin, Ibu bertengkar dengan Rayhan? Rayhan gak mau dibimbing sama Bu Dini?” tanya Bu Warsi dan membuat Andini terdiam. Entah bagaimana dia menjawab pertanyaan wanita yang juga pimpinan sekolah. “Bu, saya belum melihat perkembangan Rayhan, padahal amanah dari Kepala Sekolah dan dari Saya, sudah lebih dari seminggu.”
“Bu Warsi, masalah kami sebenarnya cuma salah paham. Mungkin beberapa hari akan selesai kok.” Andini mencoba meyakinkan wanita yang ada bersamanya.
“Jangan begitu. Terkadang masalah yang sebatas salah paham itu, membuat dua orang malah saling gak menyapa. Kalo Bu Dini terlalu menyepelekan kesalah pahaman, akan berbahaya juga buat hubungan kalian. Apalagi, Bu Dini ini kan wali kelasnya Rayhan. Satu tahun akan menghadapi Rayhan, dan waktu satu tahun itu bukan waktu yang sebentar.”
“Iya, Bu. Saya akan coba bicara sama Rayhan.”
“Ya sudah, ibu sepertinya tengah repot dengan kerjaannya. Silahkan dilanjut.” Andini akhirnya menatap Bu Warsi yang tengah menjauh dari meja kerjanya. Ada satu hal yang menggangu pikirannya saat ini. Andini tau, jika semua ini bukanlah sebatas kesalah pahaman biasa. Rayhan tidak sepenuhnya salah. Tapi, semua itu juga tidak semuanya benar. Andini menatap tumpukan buku milik siswanya yang baru saja dia cek. Semua pekerjaan itu membuat Andini bisa sedikit tersenyum.
“Andaikan aku tidak punya masalah sama Rayhan, mungkin aku bisa menikmati peranku untuk mendampinginya. Hanya saja, Rayhan terlajnjur membenciku. Dia terlanjur membenci dan mengatai aku seorang pelakor.” Andini hanya bisa meneteskan air mata, dan tidak lama Bu Warsi datang bersama Rayhan.
Andini tidak punya nyali memandang wajah Rayhan. Dia hanya bisa menatap dokumen yang sekarang ada di hadapannya. Dia tau, Rayhan beberapa kali menatapnya dengan tatapan sinis. Andini memilih diam dan tidak begitu peduli.
Andini memang beberapa kali memindahkan tasnya. Bukan tanpa alasan dia melakukan hal itu. Di dalam tas itu, dia menyimpan sesuatu yang begitu penting. Sebuah dokumen yang menjadi kuncinya untuk menahan Prasetyo. Bagaimanapun, dokumen itu tidak boleh sampai jatuh ke tangan orang lain, terutama keluarga Prasetyo. Dalam hati Andini, ada satu hal yang menjadi ketakutannya. Andini punya sebuah keyakinan, jika Rayhan ini bekerjasama dengan Papanya untuk mengawasi semua yang dia lakukan.
Andini sesekali melihat Rayhan yang sedang bersama Bu Warsi. Tatapan Rayhan tidak bisa dia anggap tatapan biasa. Taapan itu harua dia waspadai.
***
Bel pulang sekolah berbunyi. Andini yang baru saja keluar dari kelas Rayhan, tampak menggeleng. Memang, Rayhan sama sekali tidak membuat ulah atau hal yang membuatnya tidak nyaman. Tapi, ada satu hal yang saat ini menganggunya. Tatapannya saat di ruang guru tadi, membuatnya terus kepikiran. Ada apa dengan Rayhan? Apa dia tau jika ada sesuatu yang tengah dia sembunyikan?
Andini menatap Map coklat yang ada dalam tasnya. Map itu bukanlah Map biasa. Map yang berisi sesuatu yang memang penting, bukan hanya untuknya, tapi untuk adik dan ibunya. Andini ingin segera keluar dari situasi sulit seperti sekarang ini.
“Bu Dini, belum pulang?” tanya Rayhan dan sontak saja membuat Andini terkejut.
“Rayhan, kamu di sini? Sedang apa kamu di sini?” tanya Andini. Tampak Rayhan tersenyum jahat melihat barang yang ada di dalam tas situ. “Han, kau mau apa? Jangan berbuat macam-macam. Ibu gak akan biarkan kamu berbuat macam-macam.”