Rayhan terdiam melihat Andini yang berlari menjauhinya. Dia hanya bisa melihat wanita itu yang mulai tidak nyaman dengan kehadirannya. Dalam hatinya, dia sebenarnya sangat puas dengan kondisi Andini. Rayhan sangat senang melihat wanita yang menjadi orang ketiga daam hubungan kedua orang tuanya mulai tidak menemukan kenyamanan saat bersamanya.
“Aneh tuh orang. masa aku nanya aja sampe marah-marah gitu?” tanya Rayhan. Tapi, dia tau satu hal tentang rahasia Andini. Sebuah amplop coklat yang berisi sesuatu yang pasti sangat penting. “Tapi, benda apa sih yang Bu Dini sembunyikan? Kenapa aku sampai gak boleh tau? Apa ada hubungannya sama Papa?”
Rayhan hanya bisa menatap halaman sekolah dan terus menebak apa yang tengah disembunyikan Andini. Dia terdiam sampai terlihat seorang lelaki yang tidak lain adalah sopir pribadi Papanya yang sudah berada di samping gerbang.
“Mas Rayhan, diminta pulang sama Ibu.”
“Mama? Kenapa sama Mama? Mama gak apa-apa kan?”
“Ibu gak apa-apa. Cuma ada Neneknya Mas Rayhan.”
“Nenek? Nenek datang?” tanya Rayhan. Rayhan langsung menuju mobil dan pulang.
“Iya, Mas. Nenek sepertinya mencari Mas Rayhan.
Sesampainya di rumah.
“Nenek.” Rayhan memeluk wanita tua yang berdiri di halaman rumahnya. Wanita itu tersenyum dan Rayhan masih saja hangat, seperti sebelumnya.
“Rayhan, gimana sekolahnya? Katanya, kamu mau ikut olimpiade?” tanya sang Nenek dan Rayhan hanya bisa terdiam dengan pertanyaan itu. “Rayhan, kamu gak apa-apa kan?”
“Gak ada olimpide. Gak ada lomba apapun. Aku gak ingin ikut lomba apapun.” Apa yang baru Rayhan katakan membuat sang Nenek hanya bisa diam. Entah apa yang ada di pikiran wanita itu. Tapi, dia berharap jika Neneknya mau membelanya untuk kali ini.
“Kenapa sih, Le? Kenaa gak mau ikut lomba?” tanya Sang Nenek.
“Kalo aku ikut lomba dan semuanya cuma buat Papa, aku gak mau. Selama ini, aku ikut lomba yang utung kan cuma Papa. Aku gak pernah untung sama sekali.” Wanita itu hanya diam dan meminta Rayhan untuk masuk.
“Sari, kenapa sama anak kamu?” tanya sang Nenek pada Mamanya. Sari hanya tersenyum dan sepertinya tidak bisa menjelaskan begitu saja apa yang tengah terjadi.
“Gak ada apapun kok. Mungkin Rayhan lagi capek. Dia kalo lagi capek suka gitu.” Jawaban Mamanya membuat Rayhan hanya bisa diam dan ingin sekali mengatakan yang sebenarnya. Semua tidak ada yang baik-baik saja.
“Suami kamu gak berbuat hal yang tidak menyenangkan kan? Dia gak merepotkan kamu sama anak kamu kan?” tanya Sang Nenek sambil menengok dirinya juga Mamanya. Mendengar pertanyaan itu, Rayhan hanya bisa tersenyum. “Rayhan, tolong jawab pertanyaan nenek, kamu gak apa-apa kan?”
“Nenek, Papa baik. Saking baiknya, aku mau diberikan Mama baru.” Rayhan mengucapkan itu semua dan semua orang yang ada di sekitarnya langsung menatapnya.