Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #18

antara Rayhan dan Andini (Prasetyo)

Malam itu, Pasetyo baru saja pulang dari kantor dan ingin melepaskan penat setelah semua urusan seharian ini. Seharian, banya hal yang membuat dirinya capek, belum lagi masalah Andini yang terus saja menghubunginya. Sesampainya di rumah, dia dikejutkan oleh keberadaan Ibunya. Sang Ibu sepertinya sedang bicara dengan beberapa pembantu rumah dan menatapnya yang baru pulang.

“Ibu? Ibu di sini?” tanya Prasetyo yang keheranan.

“Pras, aku mau bicara sama kamu. duduklah!” pinta Wanita itu dengan senyuman.

“Ibu, ada apa sih? Kenapa Ibu datang malam-malam seperti ini? Kalo ada apa-apa, kan bisa nelpon aku.” Prasetyo menatap Ibunya dan ingin tau hal apa yang membuatnya sampai datang malam-malam begini.

“Enggak, Le. Ibu pingin mengunjungi rumahmu dan bertemu cucu. Aku di sini juga mulai tadi siang.” Prasetyo terdiam dan entah apa yang sudah dikatakan Rayhan. Apa Rayhan bicara hal yang tidak-tidak?

“Ibu, Rayhan cerita sesuatu? Dia gak bilang yang aneh-aneh kan?” tanya Prasetyo yang semakin penasaran.

“Ibu tau bagaimana karakter anak kamu, dan kamu juga lebih tau karakter Rayhan. Ibu mau tanya, ada apa sama anak kamu? Dia tadi bilang dengan jelas, kalo tidak ingin ikut olimiade. Dia bilang kalo dia menang hanya kamu yang dapat keuntungan, dia tidak dapat apapun.” Prasetyo terdiam dan menatap Ibunya yan sepertinya belum selesai bicara. “Ibu juga dengar dari ucapan anak kamu, kalo guru pembimbingnya galak dan suka marah-marah. Dia gak nyaman dengan guru pembimbingnya.”

Mendengar ucapan sang Ibu, Praseryo terdiam dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya dan istri mudanya. Apakah benar andini sudah berbuat macam-macam sama anaknya?

“Rayhan hanya mengatakan itu?” tanya Prasetyo.

“Iya. Dia hanya mengatakan itu. Ibu mohon sama kamu, tolong cari jalan keluar untuk masalah anak kamu. Gak mungkin kan kalo aku yang harus turun tangan? Dia kan anakmu, bukan anak Ibu.”

“Iya, Bu. Aku akan cari tau. Rayhan dimana?”

“Dia lagi di kamar. Mau istirahat sepertinya. Baru saja Sari menberikan obat yang harus dia konsumsi.” Wanita itu berdiri dan berpamitan. “Ini sudah malam. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu. Besok, kalo ada apa-apa, kau bisa ke rumah. Rumah akan selalu terbuka untuk kalian. Satu pesan Ibu, jangan keras-keras sama anakmu. Jangan terlalu mengekang! Dia sudah SMP. Anak SMP tidak seharusnya dikekang seperti Balita.”

“Iya. Terima kasih sudah datang dan menengok anak juga istriku.”

“Ya sudah, Ibu pulang dulu.” Wanita itu menjauhb dari pandangan Praseyo dan dia melangkah ke kamar Rayhan. Terlihat, Rayhan masih belum tidur dan baru saja mengemasi barangnya.

“Rayhan.”

“Papa, ada apa sih? Ngagetin aja.” Tampak Rayhan yang merasa begitu terganggu dengan kehadirannya.

“Han, kenapa kamu gak mau ikut olimpiade? Itu kan kesempatan buat kamu. Papa mau kamu ikut,” bentak Prasetyo dan Rayhan terlihat mulai tidak nyaman dengan ucapannya.

“Papa, aku gak mau dipaksa. Aku capek terus-terusan Papa paksa ikut lomba ini dan itu. Aku gak nyaman dengan semua ini. Aku sudah biang kalo aku gak akan ikut olmpiade apapun alasan dan hadiahnya.”

Lihat selengkapnya