Harga Sebuah Fasad

Zainur Rifky
Chapter #19

menekan pelakor (Rayhan)

Rayhan melihat Andini baru saja memasuki halaman sekolah dengan wajah yang tidak baik-bai saja. Rayhan mencoba mendekati Perempuan itu dan ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia yakin, Andini baru saja bertemu Papanya di wilayah yang tidak jauh dari sekolah ini.

“Bu Dini, baru darimana?” tanya Rayhan dan Andini terlihat kaget dengan kehadirannya.

“Rayhan, kamu di sini?” tanya Adini yang begitu terkejut.

Bu Dini kenapa sih? Kok sepetinya gak suka kalo aku di sini?” tanya Rayhan kembali yang melihat ekspresi wajah Andini seperti orang yang ketakutan. “Bu Dini takut? Takut apa? Memangnya, saya menyeramkan?”

“Gak, gak ada apa-apa kok.”

“Bu Dini, baru ketemu pacarnya ya?” tanya Rayhan. Andini kaget bukan kepalang mendengar pertanyaan itu, ditambah lagi ada beberapa orang guru yang melintas.

“Rayhan, kamu ini ngomong apa sih? Gak ada yang namanya pacaran. Ibu ingatkan kamu ya, jangan terus menyebut Ibu pacaran. Ibu gak punya pacar.” Andini menatapnya dengan tatapan yang emosi.

“Terus, kalo Bu Dui gak pacaran kenapa keluarnya tadi lama? Kan katanya mau ngambil fotokopian materi. Terus, fotokopi materinya mana?” tanya Rayhan dan terlihat Andini menyadari satu hal. Dia entah kenapa melupakan itu atau sengaja membuat alasan tadi agar bisa keluar dari wilayah sekolah.

“Maaf, Ibu mungkin lupa. Nanti saja ya.”

“Kok nanti sih? Habis ini kan jam Ibu di kelas saya? Dan kelas kami belum dapat materi yang Ibu janjikan itu.” Rayhan menatap Andini dengan tatapan yang penasaran. “Ibu gak lupa kan sama janjinya kemarin?”

“Rayhan, jangan seperti ini. Kamu lebih baik masuk kelas.”

“Bel masuk belum berbunyi. Jadi, saya kan masih bisa di sini sama Ibu.”

“Rayhan, jangan terus seperti ini. Kamu tidak bisa terus menekan Ibu seperti ini.” Terlihat Anini mulai tidak bisa melarikan diri dari Rayhan.

“Lho, memangnya kenapa? Bu Dini gak nyaman sama kehadiran saya di sini? Kok Ibu merasa tertekan?” tanya Rayhan. Rayhan menatap sebuah map yang terus Andini pegang dan seakan dilindungi.

“Rayhan, kenapa kamu seperti Papa kamu? kenapa kamu semakin terlihat seperti Papa kamu? jangan seperti ini. Kelakuan kamu mirip kelakuan Papa kamu.” andini tampak meneteskan air mata. Rayhan tidak peduli dengan apa yang baru diatakan gurunya.

“Bu Dini, itu Map apa? Aku boleh lihat?” tanya Rayhan sambil mendekat. Andini mundur beberapa langkah menjauhi Rayhan.

“Rayhan, ini dokumen yang gak bisa kamu lihat. Kamu gak akan pernah mengerti dokumen ini.” Rayhan yang mendengar ucapan dari Andini, sebenarnya ingin merebut dokumen itu dan melihatnya sendiri. Tapi, mengingat dia sedang berada di depan kantor guru dan diawasi banyak mata, Rayhan tidak akan melakukannya untuk sekarang ini.

“Kan saya cuma mau lihat. Kok Bu Dini marah-marah gitu sih?” tanya Rayhan.

“Rayhan, tidak semua dokumen punya Ibu bisa kamu lihat seenaknya.” Andini mulai membentak Rayhan dan hal itu tidak membuat Rayhan takut.

“Lho, memangnya kenapa? Kan Ibu pernah bilang waktu itu. Kita kan keluarga. Kita harus saling terbuka, dan Ibu juga dekat sama Papa kan? Jadi, kenapa saya tidak bisamelihat dokumen itu?” tanya Rayhan.

“Rayhan, Ibu sekali lagi cuma mau bilang, kamu belum waktunya melihat dokumen ini. Kalo kamu mau melihat dokumen ini, nanti kalo kamu sudah memahami kondisi.” Andini langsung pergi dan Rayhan terus menatap arah Andini.

Rayhan hanya bisa diam melihat perempuan itu yang jelas sekali sedang ketakutan. Entah apa yang tengah terjadi padanya, yang jelas Rayhan tau jika Andini tengah ketakutan karena sesuatu.

“Rayhan, sebentar lagi waktuya masuk. Ayo ke kelas.” Alvin yang rupanya sudah ada di samping Rayhan, langsung mendorong kursi roda itu dan mengarahkannya menuju kelas. Rayhan terus menatap Andini yang sedang berada di depan ruang guru. “Rayhan, ada apa sih? Kok dari tadi kamu ini aneh?”

“Aku gak apa-apa,” jawab Rayhan yang masih saja melihat Andini berada di depan ruang guru.

“Serius gak apa-aa? Barusan, Bu Dini kamu apain? Sampai Beliau ketakutan seperti itu.”

“Siapa sih yang ngapa-ngapain Bu Dini? Orang Bu Dini juga aneh sejak pagi.”

Lihat selengkapnya